Show simple item record

dc.contributor.advisorTarigan, Suria Darma
dc.contributor.advisorBaskoro, Dwi Putro Tejo
dc.contributor.advisorWahjunie., Enni Dwi
dc.contributor.authorAlim, Nurmaranti
dc.date.accessioned2017-01-30T07:22:29Z
dc.date.available2017-01-30T07:22:29Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/82673
dc.description.abstractEvaluasi pengelolaan DAS dapat dilakukan secara langsung di lapangan atau dengan memprediksinya menggunakan model. Model hidrologi adalah model matematis yang digunakan untuk mensimulasikan kesetimbangan air dalam suatu daerah aliran sungai (DAS). Pada umumnya input model menggunakan data spasial yang berbeda. Resolusi pada peta dasar yang bervariasi misalnya penggunaan peta tanah skala tinjau sedangkan peta penggunaan lahan berskala detail. Membandingkan penggunaaan model SWAT pada DAS yang sama khususnya dengan input data resolusi spasial yang berbeda sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, pada penelitian ini dilakukan penggunaan model SWAT pada DAS yang sama akan tetapi dengan dua resolusi spasial yang berbeda kemudian dilakukan analisis uji sensitivitas untuk mengetahui parameter spasial mana yang berpengaruh pada tiap resolusi spasial dalam DAS yang sama. Pengujian ini dilakukan pada dua simulasi waktu yang berbeda yakni simulasi harian dan bulanan untuk masing-masing resolusi spasial, Evaluasi model (kalibrasi dan validasi) dilakukan dengan melihat nilai determinasi (R2) dan Nash-Sutcliffe efficiency (NSE) berdasarkan perbandingan hasil debit simulasi dengan debit observasi. Uji sensitivitas dilakukan dengan menggunakan metode absolute sensitivity. Metode absolute sensitivity merupakan metode menguji sensitivitas parameter dengan mengubah (baik menaikkan ataupun menurunkan) nilai database dalam tiap parameter model SWAT satu persatu sedangkan parameter lain tetap. Berdasarkan hasil kalibrasi dan validasi untuk kedua resolusi spasial menunjukkan bahwa simulasi data harian cenderung memiliki nilai NSE yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai NSE pada simulasi data bulanan. Hasil kalibrasi harian untuk skala 1:100 000 dan 1:250 000 dikategorikan memuaskan dengan masing-masing nilai NSE 0.55 dan 0.54. Sedangkan pada periode kalibrasi bulanan menunjukkan hasil dengan kategori sangat memuaskan. Nilai NSE kalibrasi bulanan untuk skala 1:100 000 dan 1:250 000 masing-masing 0.80 dan 0.82. Terdapat pola yang sama antara kalibrasi harian dan bulanan pada dua resolusi spasial. Pola yang sama tersebut menunjukkan kedekatan antara debit aktual dan debit hasil model. Sensitivitas parameter dibagi menjadi tiga kategori yaitu sensitif, kurang sensitif dan tidak sensitif. Pembagian kategori tingkat sensitif parameter didasarkan pada seberapa besar parameter dianggap memberikan pengaruh yang signifikan terhadap output Terdapat tujuh parameter yang diidentifikasi sebagai parameter yang sensitif terhadap kinerja model pada perbedaan resolusi spasial di Sub-DAS Cisadane Hulu. Parameter sensitif tersebut antara lain CN2, Alpha_BNK, CH_K2, CH_N2, GW_Delay, ESCO, GW_Revap. Sensitivitas parameter tersebut tidak berbeda pada resolusi data spasial yang berbeda. Hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena input iklim dan kondisi fisik yang sama. Selain itu, karena kedua resolusi spasial peta tanah yang digunakan tidak memiliki banyak perbedaan dari segi informasi atau kedetilan dari peta.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcSoil Scienceid
dc.subject.ddcWatershedid
dc.subject.ddc2016id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titleUji Sensitivitas Model Swat Terhadap Data Spasial Dengan Resolusi Yang Berbeda (Studi Kasus: Sub-Das Cisadane Hulu, Jawa Barat).id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordmodel SWATid
dc.subject.keywordresolusi data spasialid
dc.subject.keywordsensitivitas parameterid
dc.subject.keywordsimulasi harian/bulananid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record