Show simple item record

dc.contributor.advisorPerwitasari, Dyah
dc.contributor.advisorButet, Nurlisa Alias
dc.contributor.authorAksari, Yuang Dinni
dc.date.accessioned2016-10-28T02:34:12Z
dc.date.available2016-10-28T02:34:12Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81892
dc.description.abstractIkan sapu-sapu (Loricariidae), Pterygoplichthys pardalis jumlahnya berlimpah di Sungai Ciliwung. Ikan ini digunakan sebagai salah satu sumber protein hewan, tetapi kondisinya yang tercemar logam berat menjadikannya beresiko terhadap kesehatan jika dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi Cd, Hg, dan Pb pada insang, hati, dan otot ikan sapusapu secara spasial maupun temporal; menganalisis kerusakan jaringan organ ikan sapu-sapu; menganalisis karakteristik pertumbuhan dan faktor kondisi ikan sapusapu (P. pardalis) di Sungai Ciliwung. Pengambilan sampel dilakukan pada musim penghujan dan kemarau di ketiga lokasi sepanjang Sungai Ciliwung, yaitu Bogor (hulu), Depok (tengah), dan Jakarta (hilir). Seluruh sampel ikan tangkapan diukur panjang total dan beratnya untuk analisis bioekologi ikan. Enam ekor ikan berukuran seragam dikoleksi dari masing-masing lokasi, diambil insang, hati, dan ototnya untuk analisis konsentrasi logam berat dan analisis kerusakan jaringan. Konsentrasi logam berat diukur menggunakan spektrofotometer serapan atom (SSA), selanjutnya dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji Tukey dengan program R. Untuk analisis kerusakan jaringan, sampel organ fisiologis, yakni insang dan hati dibuat preparat histologi menggunakan metode parafin dan pewarnaan rhodizonate, didokumentasikan, selanjutnya dianalisis tingkat kerusakannya. Sampel air dikoleksi untuk analisis logam berat dalam perairan dan uji kualitas air. Bioekologi ikan yang menggambarkan kesehatan ikan diukur melalui dua parameter, yaitu karakteristik pertumbuhan dan faktor kondisi ikan. Keduanya dianalisis menggunakan uji t pada Ms. Excel dan Elevan I FiSAT II. Konsentrasi total logam pada organ ikan tidak signifikan antar lokasi maupun musim, tetapi signifikan antar organ (p = 0.0378) dan antar ketiga logam (p = 5.12 x 10-7). Konsentrasi logam tertinggi hingga terendah ditemukan di hati, insang, kemudian otot. Pb merupakan logam dengan konsentrasi tertinggi yang ditemukan pada organ ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, disusul Hg kemudian Cd. Konsentrasi Pb pada insang, hati, dan otot berturut-turut 0.002571, 0.005467, dan 0.001609 μg/g, dengan konsentrasi rata-rata 0.003216 μg/g. Konsentrasi Hg pada insang, hati, dan otot berturut-turut 0.002826, 0.004333, dan 0.003960 μg/g, dengan konsentrasi rata-rata 0.003707 μg/g. Konsentrasi Cd pada insang, hati, dan otot berturut-turut 0.000146, 0.00828, dan 0.0075 μg/g, dengan konsentrasi ratarata 0.00035 μg/g. Konsentrasi ketiga logam pada otot ikan berada di bawah nilai ambang batas (NAB) menurut SNI 2009 maupun FAO, sehingga ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung aman untuk dikonsumsi. Batas aman konsumsi otot ikan per minggu per kg berat badan untuk masing-masing logam Cd, Hg, dan Pb berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan FAO berturut-turut adalah 0.077, 0.721, 6.213 kg. Konsentrasi logam berat dalam perairan umumnya rendah, kecuali Hg. Konsentrasi Hg tertinggi ditemukan di segmen tengah pada musim penghujan dan di segmen hilir pada musim kemarau, yaitu 0.0039 dan 0.0021 mg/L. Konsentrasi tersebut telah melebihi NAB menurut Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1990, sehingga ditinjau dari besarnya konsentrasi Hg, air Sungai Ciliwung tidak layak digunakan sebagai sumber air minum maupun untuk keperluan perikanan maupun peternakan. Analisis histologi menunjukkan insang dan hati ikan yang ditemukan di Jakarta (hilir) mengalami kerusakan lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Kerusakan insang pada musim penghujan lebih tinggi dibandingkan musim kemarau. Hal ini berkorelasi positif dengan meningkatnya konsentrasi Hg pada musim tersebut. Insang ikan sapu-sapu mengalami kerusakan struktur serta plasma epitel lamella sekunder dan jaringan ikat, atropi, nekrosis, dan hipertropi. Sedangkan hati mengalami haemorrhage, kerusakan struktur hepatosit, jaringan ikat, dan duktus bilirubin (bile duct), atropi, nekrosis, dan hipertropi. Kerusakan jaringan hati tidak konsisten berdasarkan musim seperti pada insang. Hal ini berkaitan dengan waktu depurasi logam di hati membutuhkan waktu yang lama, sehingga baik konsentrasi maupun kerusakan yang terjadi umumnya tidak dipengaruhi oleh musim. Deposit logam terdapat pada jaringan ikat insang, serta hepatosit dan jaringan ikat hati. Ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung mengalami pertumbuhan bersifat allometrik negatif (b = 0.241-2.679) dengan laju pertumbuhan 8.2 per tahun. Pertumbuhan allometrik negatif pada ikan sapu-sapu diduga berkaitan dengan bentuk tubuhnya yang pipih dorsoventral. Faktor kondisi ikan berkisar antara 0.631 hingga 1.278. Kondisi ikan di hilir lebih gemuk dibandingkan kondisi ikan di hulu. Hal ini berkaitan dengan kelimpahan pakan yang tinggi di hilir karena tidak adanya kompetitor, serta kesesuain antara topografi hilir sungai dengan perilaku makan (feeding habits) ikan sapu-sapu. Paparan logam yang lebih tinggi menyebabkan ikan sapu-sapu di hilir tidak mampu memaksimalkan pertumbuhan panjang tubuhnya sehingga berukuran relatif lebih pendek dibandingkan ikan di hulu. Terdeteksinya logam berat baik pada ikan maupun air Sungai Ciliwung menjadikan perlu adanya kewaspadaan penggunaan sumber daya dari perairan tersebut baik untuk konsumsi maupun untuk perikanan dan peternakan.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcVeterinary medicineid
dc.titleKonsentrasi Logam Berat Dan Bioekologi Ikan Sapu-Sapu, Pterygoplichthys Pardalis (Castelnau, 1855) Di Sungai Ciliwungid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbioekologiid
dc.subject.keywordkerusakan jaringanid
dc.subject.keywordlogam beratid
dc.subject.keywordP. pardalisid
dc.subject.keywordSungai Ciliwungid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record