Show simple item record

dc.contributor.advisorSiregar, Hermanto
dc.contributor.authorAkhmadi
dc.date.accessioned2016-10-13T02:19:19Z
dc.date.available2016-10-13T02:19:19Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81685
dc.description.abstracttermasuk di bidang ekonomi, untuk menyejahterakan penduduk agar tercapai citacita masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan ekonomi juga dimaksudkan untuk menanggulangi kemiskinan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan ekonomi. Dalam penanggulangan kemiskinan, pemerintah telah berupaya melalui berbagai program yang berbasis bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan usaha kecil. Hasilnya secara nasional telah terjadi penurunan tingkat kemiskinan pada kurun waktu 2008-2014 yaitu dari 1.42% pada 2008 menjadi 10.96% pada 2014. Namun jika dilihat berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan, tingkat kemiskinan di perdesaan selalu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat kemiskinan di perkotaan. Tingkat kemiskinan di perkotaan mengalami penurunan dari 11.65% pada 2008 menjadi 8.16% pada 2014, dan di perdesaan juga turun dari 18.93% pada 2008 menjadi 13.76% pada 2014. Dari total penduduk miskin di Indonesia, sekitar 66% berada di perdesaan dan sekitar 56% menggantungkan hidupnya dari pertanian. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian program-program penanggulangan kemiskinan khususnya di perdesaan dan selanjutnya merumuskan kembali strategi penanggulangan kemiskinan sehingga didapatkan strategi terbaik berdasarkan kondisi internal dan eksternal yang dihadapi petani. Untuk mengkaji dampak program penanggulangan kemiskinan di perdesaan terhadap kesejahteraan petani dilakukan studi kasus terhadap pelaksanaan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (Program PUAP) di Kabupaten Cianjur. Program PUAP merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan di perdesaan di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri sebagai program pemberdayaan masyarakat. Program PUAP memberikan bantuan modal usaha bagi petani anggota kelompok tani, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani, maupun rumahtangga tani yang dikoordinasikan oleh gabungan kelompok tani. Program PUAP merupakan program yang bertujuan mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan melalui pengembangan usaha agribisnis yang sesuai dengan potensi wilayah di perdesaan. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku usaha agribisnis, memberdayakan kelembagaan petani dan perdesaan, dan meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani untuk mengakses permodalan. Bentuk kegiatan program ini adalah penyaluran bantuan langsung masyarakat sebagai tambahan modal kerja untuk usaha sarana prasarana, usaha tani atau produksi, usaha jasa pemasaran, usaha pengolahan hasil produksi, dan usaha simpan pinjam. Untuk menguji dampak Program PUAP terhadap peningkatan produksi padi dan pendapatan riil petani maka dilakukan penelitian di Kabupaten Cianjur, yaitu di Desa Jati Kecamatan Bojongpicung yang menerima Program PUAP dan Desa Jamali Kecamatan Mande yang tidak menerima Program PUAP, serta dianalisis menggunakan metode Double-Difference. Setelah itu dilakukan analisis faktorfaktor strategis internal dan eksternal (analisis IFE-EFE) untuk mengetahui besarnya faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di perdesaan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis IFE-EFE tersebut dirumuskan strategi kunci dalam penanggulangan kemiskinan di perdesaan dengan menggunakan analisis SWOT, dan kemudian dianalisis menggunakan metode QSPM, yaitu dengan mengelaborasikan strategi kunci dengan faktor-faktor strategis internal dan eksternal untuk mendapatkan strategi yang terbaik. Langkah pertama analisis Double-Difference adalah menghitung masingmasing perubahan produksi per hektar dan pendapatan riil petani di Desa Jati dan Desa Jamali pada tahun 2009 dan tahun 2014. Hasilnya menunjukkan adanya ratarata peningkatan produksi padi per hektar di Desa Jati sebesar 770.22 kg dan begitu pula di Desa Jamali, ternyata produksi padi per hektar juga meningkat sebesar 129.08 kg. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana dampak Program PUAP terhadap peningkatan produksi padi per hektar maka langkah selanjutnya adalah mendapatkan nilai Double Difference dengan cara menghitung selisih rata-rata peningkatan produksi padi per hektar di Desa Jati dan rata-rata peningkatan produksi padi per hektar di Desa Jamali. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai Double-Difference adalah 641.14 kg dan signifikan pada α = 1%. Rata-rata pendapatan riil petani di kedua desa tersebut juga mengalami peningkatan. Di Desa Jati, rata-rata peningkatan pendapatan riil petani Rp1 084 616 dan di Desa Jamali sebesar Rp206 258. Dengan demikian nilai Double Difference yang merupakan selisih antara rata-rata peningkatan pendapatan petani di Desa Jati dan rata-rata peningkatan pendapatan petani di Desa Jamali sebesar Rp878 358 dan signifikan pada α = 1%. Hal ini menunjukkan bahwa Program PUAP telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi padi per hektar dan pendapatan petani di Desa Jati masing-masing sebesar 641.14 kg dan Rp878 358 lebih besar dibandingkan dengan produksi padi dan pendapatan petani di Desa Jamali. Walaupun analisis Double Difference menunjukkan bahwa Program PUAP telah berhasil meningkatkan pendapatan petani di Desa Jati, namun rata-rata pendapatan per kapita petani tersebut ternyata masih berada di bawah garis kemiskinan. Pendapatan petani di Desa Jati pada 2009 rata-rata sebesar Rp167 986 per kapita naik menjadi Rp261 481 pada 2014. Pada kurun waktu 2009-2014 telah terjadi kenaikan pendapatan per kapita sebesar 56%, namun kenaikan tersebut belum cukup untuk melampaui garis kemiskinan Kabupaten Cianjur pada 2014 sebesar Rp280 501. Oleh karena itu kemudian dilakukan analisis faktor-faktor strategis internal dan eksternal (analisis IFE-EFE) untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman eksternal yang mempengaruhi keberhasilan program penanggulangan kemiskinan di perdesaan. Hasil analisis IFE-EFE menunjukkan bahwa faktor weakness (score 1.463) masih lebih dominan daripada faktor strength (score 1.108) dan faktor threath (score 1.105) lebih dominan daripada faktor opportunity (score 1.016). Selanjutnya dengan menggunakan matriks IE diperoleh nilai rata-rata tertimbang IFE sebesar 2.571 dan nilai rata-rata tertimbang EFE sebesar 2.120. Analisis QSPM disusun setelah perhitungan matriks IE dan matriks SWOT yang menghasilkan berbagai alternatif strategi. Setelah melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci diperoleh delapan strategi S-O, S-T, W-O, dan W-T. Alternatif strategi tersebut adalah: Strategi kesatu, mempromosikan program penyaluran pinjaman kepada petani untuk mendapatkan dukungan pendanaan misalnya melalui program community social responsibility. Strategi kedua, meningkatkan peranan lembaga keuangan mikro agribisnis yang berbadan hukum atau koperasi sebagai marketing agent untuk meningkatkan market bargaining power menghadapi pasar bebas. Strategi ketiga, mengoptimalkan peran Penyelia Mitra Tani dalam hal pendampingan dan pembinaan petani dengan memberikan pelatihan keterampilan kepada PMT secara intensif dan berkelanjutan. Strategi keempat, adanya penjaminan kredit usaha tani dari pemerintah kepada perbankan yang menyalurkan kredit kepada petani. Strategi kelima, mengkoordinasikan program-program Kementan dengan program-program lembaga terkait seperti Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk pelatihan dan pendidikan petani. Strategi keenam, meningkatkan efisiensi produksi petani seperti dengan land reform atau corporate farming. Strategi ketujuh, penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan gapoktan melalui program pendidikan khusus pengembangan manajemen agribisnis bagi petani. Strategi kedelapan, penambahan anggaran untuk program bantuan modal kepada petani terutama di desa-desa miskin yang belum memperoleh bantuan modal. Alternatif-alternatif strategi tersebut kemudian dianalisis dengan metode QSPM, yaitu dengan mengelaborasikan alternatif strategi tersebut dengan faktorfaktor strategis internal dan eksternal untuk mendapatkan strategi yang terbaik. Hasil perhitungan Total Attractiveness Scores menunjukkan bahwa strategi ketujuh yaitu penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan petani melalui program pendidikan khusus pengembangan manajemen agribisnis bagi petani adalah strategi yang terbaik karena memiliki nilai TAS tertinggi yaitu 5.9726.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricutural University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomicsid
dc.subject.ddcEconomic developmentid
dc.titleStrategi Penanggulangan Kemiskinan Di Perdesaan: Studi Kasus Program Puap Di Kabupaten Cianjurid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordkemiskinanid
dc.subject.keywordperdesaanid
dc.subject.keywordPUAPid
dc.subject.keywordstrategiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record