| dc.description.abstract | termasuk di bidang ekonomi, untuk menyejahterakan penduduk agar tercapai citacita
masyarakat yang adil dan makmur. Pembangunan ekonomi juga dimaksudkan
untuk menanggulangi kemiskinan dan pemerataan hasil-hasil pembangunan
ekonomi. Dalam penanggulangan kemiskinan, pemerintah telah berupaya melalui
berbagai program yang berbasis bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan
pemberdayaan usaha kecil. Hasilnya secara nasional telah terjadi penurunan tingkat
kemiskinan pada kurun waktu 2008-2014 yaitu dari 1.42% pada 2008 menjadi
10.96% pada 2014. Namun jika dilihat berdasarkan wilayah perkotaan dan
perdesaan, tingkat kemiskinan di perdesaan selalu relatif lebih tinggi dibandingkan
dengan tingkat kemiskinan di perkotaan. Tingkat kemiskinan di perkotaan
mengalami penurunan dari 11.65% pada 2008 menjadi 8.16% pada 2014, dan di
perdesaan juga turun dari 18.93% pada 2008 menjadi 13.76% pada 2014. Dari total
penduduk miskin di Indonesia, sekitar 66% berada di perdesaan dan sekitar 56%
menggantungkan hidupnya dari pertanian. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengkajian program-program penanggulangan kemiskinan khususnya di perdesaan
dan selanjutnya merumuskan kembali strategi penanggulangan kemiskinan
sehingga didapatkan strategi terbaik berdasarkan kondisi internal dan eksternal
yang dihadapi petani.
Untuk mengkaji dampak program penanggulangan kemiskinan di perdesaan
terhadap kesejahteraan petani dilakukan studi kasus terhadap pelaksanaan Program
Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (Program PUAP) di Kabupaten
Cianjur. Program PUAP merupakan salah satu program penanggulangan
kemiskinan di perdesaan di bawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri sebagai program pemberdayaan masyarakat. Program PUAP
memberikan bantuan modal usaha bagi petani anggota kelompok tani, baik petani
pemilik, petani penggarap, buruh tani, maupun rumahtangga tani yang
dikoordinasikan oleh gabungan kelompok tani. Program PUAP merupakan
program yang bertujuan mengurangi kemiskinan dan pengangguran di perdesaan
melalui pengembangan usaha agribisnis yang sesuai dengan potensi wilayah di
perdesaan. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kemampuan pelaku
usaha agribisnis, memberdayakan kelembagaan petani dan perdesaan, dan
meningkatkan fungsi kelembagaan ekonomi petani untuk mengakses permodalan.
Bentuk kegiatan program ini adalah penyaluran bantuan langsung masyarakat
sebagai tambahan modal kerja untuk usaha sarana prasarana, usaha tani atau
produksi, usaha jasa pemasaran, usaha pengolahan hasil produksi, dan usaha
simpan pinjam.
Untuk menguji dampak Program PUAP terhadap peningkatan produksi padi
dan pendapatan riil petani maka dilakukan penelitian di Kabupaten Cianjur, yaitu
di Desa Jati Kecamatan Bojongpicung yang menerima Program PUAP dan Desa
Jamali Kecamatan Mande yang tidak menerima Program PUAP, serta dianalisis
menggunakan metode Double-Difference. Setelah itu dilakukan analisis faktorfaktor
strategis internal dan eksternal (analisis IFE-EFE) untuk mengetahui
besarnya faktor-faktor kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman
eksternal yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program penanggulangan
kemiskinan di perdesaan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis IFE-EFE tersebut
dirumuskan strategi kunci dalam penanggulangan kemiskinan di perdesaan dengan
menggunakan analisis SWOT, dan kemudian dianalisis menggunakan metode
QSPM, yaitu dengan mengelaborasikan strategi kunci dengan faktor-faktor
strategis internal dan eksternal untuk mendapatkan strategi yang terbaik.
Langkah pertama analisis Double-Difference adalah menghitung masingmasing
perubahan produksi per hektar dan pendapatan riil petani di Desa Jati dan
Desa Jamali pada tahun 2009 dan tahun 2014. Hasilnya menunjukkan adanya ratarata
peningkatan produksi padi per hektar di Desa Jati sebesar 770.22 kg dan begitu
pula di Desa Jamali, ternyata produksi padi per hektar juga meningkat sebesar
129.08 kg. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana dampak Program PUAP
terhadap peningkatan produksi padi per hektar maka langkah selanjutnya adalah
mendapatkan nilai Double Difference dengan cara menghitung selisih rata-rata
peningkatan produksi padi per hektar di Desa Jati dan rata-rata peningkatan
produksi padi per hektar di Desa Jamali. Hasilnya menunjukkan bahwa nilai
Double-Difference adalah 641.14 kg dan signifikan pada α = 1%.
Rata-rata pendapatan riil petani di kedua desa tersebut juga mengalami
peningkatan. Di Desa Jati, rata-rata peningkatan pendapatan riil petani Rp1 084 616
dan di Desa Jamali sebesar Rp206 258. Dengan demikian nilai Double Difference
yang merupakan selisih antara rata-rata peningkatan pendapatan petani di Desa Jati
dan rata-rata peningkatan pendapatan petani di Desa Jamali sebesar Rp878 358 dan
signifikan pada α = 1%. Hal ini menunjukkan bahwa Program PUAP telah
memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi padi per hektar dan
pendapatan petani di Desa Jati masing-masing sebesar 641.14 kg dan Rp878 358
lebih besar dibandingkan dengan produksi padi dan pendapatan petani di Desa
Jamali.
Walaupun analisis Double Difference menunjukkan bahwa Program PUAP
telah berhasil meningkatkan pendapatan petani di Desa Jati, namun rata-rata
pendapatan per kapita petani tersebut ternyata masih berada di bawah garis
kemiskinan. Pendapatan petani di Desa Jati pada 2009 rata-rata sebesar Rp167 986
per kapita naik menjadi Rp261 481 pada 2014. Pada kurun waktu 2009-2014 telah
terjadi kenaikan pendapatan per kapita sebesar 56%, namun kenaikan tersebut
belum cukup untuk melampaui garis kemiskinan Kabupaten Cianjur pada 2014
sebesar Rp280 501.
Oleh karena itu kemudian dilakukan analisis faktor-faktor strategis internal
dan eksternal (analisis IFE-EFE) untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan
internal serta peluang dan ancaman eksternal yang mempengaruhi keberhasilan
program penanggulangan kemiskinan di perdesaan. Hasil analisis IFE-EFE
menunjukkan bahwa faktor weakness (score 1.463) masih lebih dominan daripada
faktor strength (score 1.108) dan faktor threath (score 1.105) lebih dominan
daripada faktor opportunity (score 1.016). Selanjutnya dengan menggunakan
matriks IE diperoleh nilai rata-rata tertimbang IFE sebesar 2.571 dan nilai rata-rata
tertimbang EFE sebesar 2.120. Analisis QSPM disusun setelah perhitungan matriks
IE dan matriks SWOT yang menghasilkan berbagai alternatif strategi. Setelah
melakukan wawancara mendalam dengan informan kunci diperoleh delapan
strategi S-O, S-T, W-O, dan W-T. Alternatif strategi tersebut adalah: Strategi
kesatu, mempromosikan program penyaluran pinjaman kepada petani untuk
mendapatkan dukungan pendanaan misalnya melalui program community social
responsibility. Strategi kedua, meningkatkan peranan lembaga keuangan mikro
agribisnis yang berbadan hukum atau koperasi sebagai marketing agent untuk
meningkatkan market bargaining power menghadapi pasar bebas. Strategi ketiga,
mengoptimalkan peran Penyelia Mitra Tani dalam hal pendampingan dan
pembinaan petani dengan memberikan pelatihan keterampilan kepada PMT secara
intensif dan berkelanjutan. Strategi keempat, adanya penjaminan kredit usaha tani
dari pemerintah kepada perbankan yang menyalurkan kredit kepada petani. Strategi
kelima, mengkoordinasikan program-program Kementan dengan program-program
lembaga terkait seperti Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian
Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk pelatihan dan
pendidikan petani. Strategi keenam, meningkatkan efisiensi produksi petani seperti
dengan land reform atau corporate farming. Strategi ketujuh, penguatan sumber
daya manusia dan kelembagaan gapoktan melalui program pendidikan khusus
pengembangan manajemen agribisnis bagi petani. Strategi kedelapan, penambahan
anggaran untuk program bantuan modal kepada petani terutama di desa-desa miskin
yang belum memperoleh bantuan modal.
Alternatif-alternatif strategi tersebut kemudian dianalisis dengan metode
QSPM, yaitu dengan mengelaborasikan alternatif strategi tersebut dengan faktorfaktor
strategis internal dan eksternal untuk mendapatkan strategi yang terbaik.
Hasil perhitungan Total Attractiveness Scores menunjukkan bahwa strategi ketujuh
yaitu penguatan sumberdaya manusia dan kelembagaan petani melalui program
pendidikan khusus pengembangan manajemen agribisnis bagi petani adalah strategi
yang terbaik karena memiliki nilai TAS tertinggi yaitu 5.9726. | id |