Show simple item record

dc.contributor.advisorSuhartanto, Mohamad Rahmad
dc.contributor.advisorWidodo
dc.contributor.authorNajah, Lilih Naelun
dc.date.accessioned2016-09-21T01:57:19Z
dc.date.available2016-09-21T01:57:19Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81565
dc.description.abstractCabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia karena memiliki nilai ekonomi tinggi. Cabai memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional karena harganya yang sering mengalami fluktuasi dan bahkan mempengaruhi inflasi. Penyakit penting pada tanaman cabai salah satunya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum spp. Spesies cendawan Colletotrichum yang paling banyak ditemukan di Indonesia antara lain C. acutatum, C. capsici, dan C. gloeosporioides. Perlu adanya alternatif pengendalian yang mudah, murah, cepat dan ramah lingkungan seperti penggunaan gelombang mikro (microwave). Gelombang mikro merupakan gelombang elektromagnetik yang mempunyai frekuensi super tinggi yaitu berkisar antara 300 MHz-300 GHz. Gelombang mikro dapat digunakan dalam komunikasi, navigasi dan industri. Pemanasan gelombang mikro dalam bidang industri digunakan untuk pengeringan, ekstraksi minyak, aplikasi medis, pengendalian hama, dan meningkatkan perkecambahan benih. Frekuensi yang biasa digunakan adalah 2 450 MHz karena frekuensi tersebut mudah diserap oleh molekul air yang ada di setiap sel hidup. Perlakuan benih dengan menggunakan gelombang mikro dapat menjadi alternatif pengendalian patogen terbawa benih yang efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengendalikan Colletotrichum spp. terbawa benih cabai menggunakan gelombang mikro dengan tetap mempertahankan mutu fisiologis benih. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Institut Pertanian Bogor dari bulan Juli sampai dengan Desember 2015. Percobaan pertama menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas dua faktor, faktor pertama adalah kadar air benih terdiri atas tiga taraf yaitu 4.31, 6.33, dan 8.25%, dan faktor kedua adalah lama pemanasan gelombang mikro terdiri atas enam taraf yaitu 0, 10, 20, 30, 40, dan 50 detik. Kadar air terbaik digunakan pada percobaan kedua. Percobaan kedua menggunakan RAL satu faktor yaitu lama pemanasan gelombang mikro terdiri atas tujuh taraf yaitu 0, 10, 20, 30, 40, 50 detik dan perlakuan fungisida sistemik berbahan aktif benomil 0.5 g L-1 sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Colletotrichum spp. yang ditemukan pada benih cabai terdiri atas 4 spesies yaitu C. acutatum, C. capsici, C. gloeosporioides, and Colletotrichum sp. Cendawan C. acutatum merupakan cendawan yang paling banyak menginfeksi benih cabai dibandingkan dengan spesies Colletotrichum lainnya. Gelombang mikro dapat mengendalikan C. acutatum dengan tingkat efikasi sebesar 64.3% serta dapat mempertahankan viabilitas benih cabai pada kadar air rendah (4.31%) dan lama pemanasan gelombang mikro 40 detik.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcAromatic plantsid
dc.subject.ddcCapsicum anmumid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titlePengendalian Colletotrichum Spp. Terbawa Benih Cabai Menggunakan Gelombang Mikro.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbenomilid
dc.subject.keywordefikasiid
dc.subject.keywordkadar air benihid
dc.subject.keywordtular benihid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record