Kombinasi Analisis Sidik Jari Kckt Dan Kemometrik Untuk Diskriminasi Bekatul Beras Merah Dan Putih
View/ Open
Date
2016Author
Sabir, Aryani
Darusman, Latifah K
Rafi, Mohamad
Metadata
Show full item recordAbstract
Bekatul merupakan hasil samping proses penggilingan padi yang beberapa
dekade terakhir telah menarik minat banyak peneliti karena kelimpahan senyawa
bioaktif di dalamnya. Kualitas bekatul dapat ditunjukkan dari kandungan
komposisi senyawa kimia yang terkait dengan sifat bioaktivitasnya. γ-Oryzanol
adalah senyawa utama dalam bekatul yang berperan penting terhadap sifat
bioaktivitas bekatul. Bekatul yang berasal dari varietas padi yang berbeda
dimungkinkan menghasilkan nilai bioaktivitas yang berbeda karena komposisi
dan kandungan senyawa bioaktif yang dapat berbeda satu sama lain. Di Indonesia
terdapat dua jenis bekatul yang diperjualbelikan yaitu bekatul beras merah dan
putih. Kedua jenis bekatul ini dapat dibedakan hanya dengan melihat perbedaan
warna keduanya, akan tetapi menjadi sulit untuk membedakannya ketika telah
diolah menjadi produk komersialnya. Selain itu, penggantian atau pemalsuan
bahan baku antar keduanya bisa terjadi karena harga bekatul merah lebih tinggi
dibandingkan dengan bekatul putih di Indonesia.
Analisis sidik jari KCKT telah digunakan secara luas sebagai metode
kontrol kualitas bahan baku maupun produk komersial bahan pangan dan obat
herbal. Melalui analisis sidik jari ini, perbedaan dapat diketahui jika profil
pemisahan senyawanya memang berbeda yaitu adanya senyawa penciri di salah
satu spesies yang tidak dimiliki oleh spesies lainnya. Jika profil kromatogram
yang diberikan identik diantara dua spesies dengan perbedaan hanya dalam
intensitasnya saja maka diperlukan metode kemometrik untuk mengolah data
kromatogram untuk tujuan identifikasi dan diskriminasi sampel. Tujuan penelitian
ini yaitu mengembangkan metode analisis sidik jari KCKT yang dikombinasikan
dengan kemometrik untuk diskriminasi bekatul beras merah dan putih asal
Indonesia. Sebagai tambahan informasi juga dilakukan pengukuran aktivitas
antioksidannya.
Sampel sebelum diinjeksikan ke dalam KCKT diekstraksi terlebih dahulu
secara ultrasonikasi menggunakan metanol. Kondisi KCKT yang digunakan yaitu
fase diam C18 dan fase gerak metanol-asetonitril (35-65%) secara elusi gradien.
Nilai luas puncak dari 9 senyawa mayor yang diperoleh dari kromatogram sidik
jari sampel digunakan sebagai variabel untuk diskriminasi bekatul beras merah
dan putih menggunakan Analisis Komponen Utama (AKU) dan Analisis
Diskriminan (AD). Total keragaman data yang dihasilkan dari plot AKU
menggunakan 2 komponen utama (KU) sebesar 79.43%. Berdasarkan plot AKU
tersebut, bekatul merah dan bekatul putih belum terpisahkan ke dalam kelasnya
masing-masing. Oleh karena itu, untuk mengelompokkannya kedua sampel
tersebut digunakan AD. Klasifikasi dengan AD dapat mengelompokkan bekatul
beras merah dan putih ke dalam kelasnya masing-masing. Skor rerata fungsi
pembeda (centroid) ditandai dengan nilai negatif untuk kelompok bekatul merah
dan nilai positif untuk kelompok bekatul putih. Kemampuan prediksi model diuji
dengan validasi silang LOOCV dan diperoleh hasil 100% sampel terkelompokkan
ke dalam kelasnya. Hal ini menandakan bahwa model yang dibuat memberikan
prediksi klasifikasi yang memuaskan untuk sampel uji. Hasil pengukuran aktivitas
antioksidan sampel dinyatakan dalam persentase inhibisi yang menunjukkan
bahwa aktivitas antioksidan bekatul merah lebih tinggi dibandingkan bekatul
putih. Tingginya nilai aktivitas antioksidan bekatul merah dimungkinkan karena
keberadaan antosianin yang memiliki sifat sebagai antioksidan.
