Show simple item record

dc.contributor.advisorMaryana, Nina
dc.contributor.advisorWinasa, I Wayan
dc.contributor.authorPebrianti, Herni Dwinta
dc.date.accessioned2016-07-29T03:32:45Z
dc.date.available2016-07-29T03:32:45Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/81208
dc.description.abstractKeanekaragaman hayati dapat diartikan sebagai keanekaragaman makhluk hidup di berbagai tempat yang menjadi kekayaan di dunia. Indonesia merupakan negara tropis sehingga kaya akan keanekaragaman hayati tersebut, salah satunya adalah serangga. Keanekaragaman serangga di suatu ekosistem dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar dan vegetasi yang tumbuh di dalamnya. Praktik budidaya yang sering diterapkan adalah secara monokultur. Hal ini akan memengaruhi keanekaragaman serangga. Serangga sebagai salah satu komponen dari biodiversitas memiliki peranan yang penting, yaitu sebagai herbivora (termasuk hama), karnivora (parasitoid dan predator), dan detritivora (pengurai). Sebagai parasitoid dan predator, serangga diharapkan dapat menjadi pengatur populasi hama di lapangan. Pertanaman kelapa sawit dan padi sawah merupakan salah satu model pertanaman yang dapat digunakan untuk melihat keanekaragaman hayati dengan kondisi vegetasi dan praktek budidaya yang berbeda. Adanya tanaman vegetasi bawah dalam suatu ekosistem dapat meningkatkan lama hidup dan daya predasi maupun parasitisasi dari musuh alami. Vegetasi bawah berguna sebagai tempat berlindung, tempat kopulasi, tempat istirahat ataupun sebagai sumber makanan bagi musuh alami. Semakin banyak vegetasi bawah yang terdapat di dalam suatu ekosistem, maka semakin banyak pula sumber nutrisi dan inang alternatif yang dapat digunakan oleh musuh alami untuk dapat melangsungkan kehidupannya. Penelitian dilaksanakan pada dua ekosistem, yaitu perkebunan kelapa sawit PTPN VIII Cindali, Ranca Bungur, Bogor, dan pertanaman padi sawah yang berdekatan dengan perkebunan tersebut. Pengamatan di lapangan dilakukan pada bulan Desember 2014 – Juli 2015. Penelitian ini mengambil 3 plot pada tanaman kelapa sawit dan 3 plot pada padi sawah. Setiap plot terdiri atas 5 subplot. Satu subplot berukuran 18 m x 18 m. Pengambilan sampel dilakukan mengikuti umur padi yaitu, sejak padi berumur 2 MST hingga menjelang padi dipanen dan diulang setiap 2 minggu sekali, dengan menggunakan 3 metode, yaitu jaring serangga, perangkap lubang, dan perangkap nampan kuning. Keanekaragaman parasitoid dan predator pada kedua ekosistem tersebut tinggi. Pada pertanaman kelapa sawit individu serangga parasitoid dan predator berjumlah 10 835 dari 10 ordo, 57 famili dan 184 morfospesies, sedangkan pada padi sawah diperoleh 7641 individu dari 10 ordo, 60 famili dan 183 morfospesies. Kelimpahan morfospesies parasitoid dan predator tertinggi masing-masing adalah Telenomus podisi dan Anoplolepis gracilipes. Keanekaragaman vegetasi bawah memengaruhi keanekaragaman parasitoid dan predator pada kedua ekosistem.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcEntomologyid
dc.subject.ddcHymenopteraid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titleKeanekaragaman Parasitoid Dan Artropoda Predator Pada Pertanaman Kelapa Sawit Dan Padi Sawah Di Cindali, Kabupaten Bogorid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordvegetasi bawahid
dc.subject.keywordperangkap seranggaid
dc.subject.keywordmusuh alamiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record