| dc.description.abstract | Salah satu lahan marginal di Indonesia adalah lahan pasang surut yang
berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Faktor pembatas pada
lahan pasang surut antara lain adanya lapisan pirit, tinggi muka air, bahan organik,
kemasaman tanah dan status unsur hara dalam tanah. Budidaya jenuh air merupakan
salah satu teknik budidaya yang tepat untuk diterapkan pada lahan pasang surut,
karena dapat mencegah oksidasi pirit dan menjaga kelembaban tanah selama masa
pertumbuhan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan
membandingkan respon dari pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai
dengan budidaya jenuh air di lahan mineral dan mineral bergambut. Penelitian
dilakukan pada lahan mineral bergambut dan mineral di Tanjung Lago, Kabupaten
Banyuasin, Propinsi Sumatera Selatan, Indonesia pada bulan April hingga
September 2014.
Penelitian menggunakan rancangan Split-Plot dengan tiga ulangan. Petak
utama adalah kedalaman muka air tanah yang terdiri dari 2 taraf yaitu 10 dan 20 cm
di bawah permukaan tanah (DPT). Anak petak adalah lebar bedengan yang terdiri
dari 4 taraf yaitu 2, 4, 6 dan 8 m. Lebar bedengan 4 m tidak berbeda nyata dengan
lebar 8 m, sedangkan kedalaman muka air 20 cm di bawah permukaan tanah
memberikan produktivitas tertinggi pada lahan mineral. Kedalaman muka air hanya
berpengaruh pada fase vegetatif, sedangkan perlakuan lebar bedengan 6 m
bedengan nyata memberikan produktivitas kedelai terbaik pada lahan mineral
bergambut. Pertumbuhan dan produktivitas kedelai di lahan mineral lebih baik
dibandingkan pada mineral bergambut. | id |