Show simple item record

dc.contributor.advisorSulistijorini
dc.contributor.advisorKusmana, Cecep
dc.contributor.authorSiska, Febriana
dc.date.accessioned2016-06-06T02:13:08Z
dc.date.available2016-06-06T02:13:08Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80946
dc.description.abstractCagar Alam Pulau Dua telah mengalami degradasi ekosistem mangrove. Kondisi tersebut disebabkan oleh semakin meluasnya hamparan pertambakan, sampah-sampah yang menumpuk di sekitar muara sungai dan pesisir, kerapatan dan distribusi mangrove yang tidak merata. Ekosistem mangrove mempunyai peranan penting dalam kaitannya dengan produktivitas dan laju dekomposisi serasah. Oleh karena itu, penelitian mengenai produktivitas dan laju dekomposisi serasah Avicennia marina dan Rhizophora apiculata di Cagar Alam Pulau Dua Banten perlu dilakukan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan gambaran mengenai produktivitas dan laju dekomposisi serasah A. marina dan R. apiculata, mengingat serasah sebagai penyumbang terbesar pada kesuburan estuari dan perairan pantai. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengukur produktivitas dan laju dekomposisi serasah serta kandungan unsur hara yang dilepas (C organik, N, dan P) selama proses dekomposisi serasah pada tegakan A. marina dan R. apiculata di Cagar Alam Pulau Dua Banten. Metode yang digunakan untuk mengukur komposisi jenis adalah metode kombinasi antara metode jalur dengan metode garis berpetak. Transek garis berada pada posisi dari arah pantai ke arah darat terdiri atas petak-petak contoh (plot) berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10 m x 10 m untuk pohon; 5 m x 5 m untuk pancang; dan 1 m x 1 m untuk semai. Metode untuk mengukur produktivitas serasah adalah litter-trap (Jaring penampung serasah) yang berukuran 1 X 1 m2. Serasah dari 26 litter trap dikoleksi setiap dua minggu sekali selama tiga bulan. Komponen mangrove yaitu daun, ranting, dan buah/bunga dipisahkan kemudian beratnya diukur, selanjutnya dikeringkan pada suhu 80 °C sampai berat konstan dengan menggunakan satuan gram/m2/minggu. Metode yang digunakan untuk mengukur laju dekomposisi serasah adalah litter bag, menggunakan kantung serasah berukuran 30 x 40 cm. Daun mangrove kering seberat 35 gram dimasukkan ke dalam kantong serasah lalu diikat di bawah pohon mangrove. Pengambilannya dilakukan 15 hari sekali dengan lama pengambilan 90 hari. Hasil dekomposisi dianalisis di laboratorium dan selanjutnya dilakukan pengukuran bobot kering. Penentuan kadar karbon organik, nitrogen, dan fosfor dilakukan pada contoh daun kering yang telah terurai di Laboratorium Tanah Cimanggu Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. marina adalah jenis dominan pada komunitas Avicennia dengan Indeks Nilai Penting (INP) pohon 300% dan kerapatan pohon 743 ind/ha, sedangkan R. apiculata adalah jenis dominan pada komunitas Rhizophora dengan INP pohon 77,83% dan kerapatan pohon 748 ind/ha. Sumbangan produksi serasah tertinggi A.marina dan R. apiculata dihasilkan oleh daun sebesar 68.18% dan 75.91%, sumbangan serasah bunga/buah masingmasing sebesar 26.98% dan 20.97%, dan ranting masing-masing sebesar 4.84% dan 3.12%. Proporsi ini disebabkan oleh bentuk daun yang mudah gugur oleh angin dan curah hujan. Produktivitas serasah pada komunitas A. marina dan R. apiculata yaitu 6.86 ton/ha/tahun dan 7.81 ton/ha/tahun. Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas serasah yaitu kerapatan pohon dan curah hujan. Laju dekomposisi A. marina (k = 0,83) lebih tinggi dibandingkan R. apiculata (k = 0.41). Faktor-faktor yang memengaruhi cepat lambatnya laju dekomposisi serasah di antaranya; morfologi dan anatomi daun, Unsur N, keadaan subrat tempat hidup tumbuhan, dan faktor fisik lingkungan. Jenis A. marina memiliki morfologi daun yang tipis dibandingkan R. apiculata. Serasah daun A. marina memiliki kandungan nitrogen yang lebih tinggi jika dibandingkan serasah daun R. apiculata. Dekomposer menyukai serasah yang memiliki kandungan nitrogen yang tinggi. Lapisan anatomi daun A. marina lebih tipis jika dibandingan R. apiculata, hal ini dapat dilihat berdasarkan lapisan epidermis daun R. apiculata lebih tebal dan kelenjar garam daun A. marina yang lebih luas. Faktor fisik lingkungan salinitas dan DO memengaruhi kecepatan laju dekomposisi serasah. Salinitas optimum untuk kecepatan laju dekomposisi serasah adalah 20-30 psu. Kisaran DO yang tinggi akan memengaruhi kecepatan dekomposisi serasah, semakin tinggi nilai DO maka kecepatan dekomposisi serasah akan semakin cepat karena makrobentos menyukai lingkungan yang kaya akan oksigen.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcBotanyid
dc.subject.ddcCagar alamid
dc.titleProduktivitas Dan Laju Dekomposisi Serasah Avicennia Marina Dan Rhizophora Apiculata Di Cagar Alam Pulau Dua Bantenid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAvicennia marinaid
dc.subject.keyworddekomposisi serasahid
dc.subject.keywordproduktivitas serasahid
dc.subject.keywordPulau Duaid
dc.subject.keywordsalinitasid
dc.subject.keywordRhizophora apiculataid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record