| dc.description.abstract | Isu keamanan pangan sebagai spillover effects dari krisis global tahun 2007-
2008 lalu, salah satunya ditandai dengan lonjakan harga pangan di tingkat
konsumen di seluruh dunia. Peningkatan harga pangan ini menjadi beban bagi
masyarakat miskin di negara berkembang yang menghabiskan rata-rata setengah
dari pendapatan rumah tangga mereka untuk pangan, terutama pada komoditas
serealia (padi-padian). Sementara itu selama beberapa dekade terakhir telah terjadi
peningkatan banjir, kekeringan, perubahan siklus hujan, maupun cuaca ekstrem di
beberapa bagian dunia sebagai pertanda dari perubahan iklim global. Akibat dari
fenomena ini hasil produksi tanaman pangan utama di negara-negara tropis menjadi
berfluktuasi. Hal ini mempengaruhi fluktuasi harga makanan terutama pada harga
pangan pokok baik di pasar internasional dan domestik. Beras sebagai salah satu
komoditi pangan utama dengan karakteristik pasarnya yang “tipis” (jarang
diperdagangkan), juga mengalami fluktuasi dari segi jumlah produksi,
produktivitas maupun harga. Mengingat urgensi beras sebagai makanan pokok
utama di Indonesia, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi
fluktuasi (volatilitas) harga beras di Indonesia, menganalisis faktor pendorong
utama yang menyebabkan fluktuasi harga beras di Indonesia; serta menganalisis
pengaruh variabel perubahan iklim (terutama perubahan suhu) terhadap produksi
padi, harga beras lokal dan fluktuasi (volatilitas) harga beras Indonesia.
Penelitian ini menggunakan data sekunder time-series bulanan dari tahun
2007 sampai 2014. Metode yang digunakan untuk menganalisis volatilitas harga
beras adalah ARCH-GARCH (Autoregressive Conditional Heteroscedasticity-
Generalized Autoregressive Conditional Heteroscedasticity). Hasil analisis
volatilitas menunjukkan bahwa harga beras Indonesia merupakan variabel ekonomi
yang bersifat volatile, time-varying (bervariasi antar waktu), dengan lonjakan harga
tertinggi terjadi pada tahun 2010 dan 2011. Sementara berdasarkan hasil estimasi
VECM (Vector Error Correction Model), menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
signifikan mempengaruhi fluktuasi harga beras Indonesia dalam jangka panjang
adalah produksi padi, perubahan suhu, cadangan beras domestik nasional, harga
beras dunia, jumlah konsumsi rumah tangga, nilai tukar, dan suku bunga. Sementara
itu, menurut hasil analisis Impulse Response Function, variabel perubahan iklim
(perubahan suhu) akan berpengaruh negatif terhadap produksi padi di Indonesia
dalam jangka pendek dan jangka panjang. Sebaliknya, variabel perubahan suhu ini
akan memberi pengaruh positif pada harga beras serta fluktuasi harga beras di
Indonesia. Hasil penelitian ini penting bagi petani, pemerintah, pedagang maupun
pihak terkait lainnya khususnya yang terkait dengan strategi mitigasi ketidakpastian
produksi padi dan fluktuasi harga beras yang disebabkan oleh perubahan iklim di
masa yang akan datang. | id |