Show simple item record

dc.contributor.advisorChikmawati, Tatik
dc.contributor.advisorHartana, Alex
dc.contributor.authorHariri, Muhammad Rifqi
dc.date.accessioned2016-05-19T04:49:18Z
dc.date.available2016-05-19T04:49:18Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80515
dc.description.abstractTarum (Indigofera tinctoria L.) merupakan anggota dari suku Fabaceae, yang dimanfaatkan sebagai pewarna indigo alami. Saat ini, tarum telah banyak dimanfaatkan kembali sebagai bahan pewarna alami, baik untuk tekstil maupun kosmetik. Penelitian mengenai marga Indigofera di Indonesia masih terbatas pada eksplorasi jenis dan pemanfaatannya untuk peningkatan produksi pakan ternak maupun kualitas warna pada tekstil. Akan tetapi, penelitian mengenai kajian keragaman genetik marga Indigofera, khususnya jenis I. tinctoria L. belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari keragaman genetik I. tinctoria L. di pulau Jawa dan Madura sebagai pewarna alami batik berdasarkan marka Inter-Simple Sequence Repeats. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2014-April 2015. Pengambilan sampel dilakukan di 6 lokasi yang tersebar di pulau Jawa (Cirebon, Serang, Bantul, Gunung Kidul, Kulonprogo, dan Tuban) dan 4 lokasi di pulau Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep). Bahan tumbuhan yang digunakan adalah daun segar dan sehat yang dimasukkan ke dalam plastik berisi silika gel. DNA diisolasi berdasarkan metode CTAB, kemudian diamplifikasi menggunakan GoTaq® Green PCR Mix dengan 15 primer ISSR. Produk hasil PCR dielektroforesis dan difoto menggunakan GelDoc. Pita polimorfik diskor sebagai data biner. Data disusun dalam matriks dan digunakan untuk menghitung koefisien kemiripan simple matching, mengontruksi PCA, dan dendrogram dengan metode UPGMA menggunakan NTSys-PC versi 2.1.1a. Analisis struktur populasi diakukan menggunakan GenAlex versi 6.501. Kelima belas primer yang digunakan menghasilkan 123 pita dan 84 pita diantaranya bersifat polimorfik. Panjang pita yang dihasilkan berkisar 250-2500 pasang basa dan persentase polimorfisme pita berkisar 50-90% dengan rata-rata 68.3%. Pola pita yang dihasilkan bersifat unik sehingga dapat digunakan untuk pembeda antar aksesi. Analisis gugus mengelompokkan 50 aksesi tarum ke dalam empat kelompok berdasarkan 84 pita polimorfik yakni Kelompok I (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep), II (Tuban), III (Bantul, Gunung Kidul, dan Kulonprogo), dan IV (Cirebon dan Serang). Keragaman genetik tarum di pulau Jawa dan Madura tergolong dalam kategori yang tinggi (68.3%), tetapi variasi molekuler di dalam populasi (37%) lebih kecil dari antar populasi (63%). Nilai keragaman (I) paling tinggi dimiliki oleh populasi yang berasal dari Bantul dan Tuban (I=0.35) sedangkan paling rendah dimiliki oleh populasi yang berasal dari Serang (I=0.06). Berdasarkan hasil yang diperoleh, primer ISSR tidak hanya dapat digunakan untuk mempelajari keragaman genetik, tetapi juga dapat digunakan untuk membedakan setiap aksesi tarum (I. tinctoria L.) di pulau Jawa dan Madura.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcBotanyid
dc.subject.ddcPlant biologyid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcBogor-Jawa Baratid
dc.titleKeragaman Genetik Tarum (Indigofera Tinctoria L.) Di Pulau Jawa Dan Madura Sebagai Pewarna Alami Batik Berdasarkan Marka Inter-Simpe Sequence Repeatsid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordIndigofera tinctoriaid
dc.subject.keywordJawa dan Maduraid
dc.subject.keywordkeragaman genetikid
dc.subject.keywordmarka ISSRid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record