Show simple item record

dc.contributor.advisorMurtilaksono, Kukuh
dc.contributor.advisorWahjunie, Enni Dwi
dc.contributor.authorMunajad, Chollis
dc.date.accessioned2016-05-19T04:33:38Z
dc.date.available2016-05-19T04:33:38Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/80465
dc.description.abstractPercepatan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (RHL) tahun 2003 sampai 2007 di DAS Solo bagian hulu (Kabupaten Wonogiri) memiliki persentase keberhasilan tanaman tinggi (> 70%), namun kondisi daerah tangkapan air waduk Wonogiri tahun 2011 masih buruk. Tingkat sedimentasi dari sungai Keduang, Wuryantoro, Temon dan Alang cukup tinggi, sebesar 0.99-202.77 ton/ha/th. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan tanaman RHL di DAS Solo bagian hulu belum dapat memperbaiki kondisi hidrologi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi kondisi biofisik DAS, (2) mengevaluasi pelaksanaan RHL, dan (3) mengevaluasi pengaruh RHL terhadap karakteristik hidrologi. Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014 di DAS Wuryantoro, Temon, dan Alang. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif dan uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biofisik DAS Solo bagian hulu (DAS Wuryantoro, Temon, dan Alang) cenderung sama. Ketiga DAS berada pada ketinggian 150-812 m dpl, topografi dan kelas lereng bervariasi dari landai sampai sangat curam, tanah didominasi jenis Mediteran dan Grumusol, penggunaan lahan didominasi oleh tegalan, dan debit aliran sungai berfluktuasi mengikuti pola curah hujan bulanan (musim). Pelaksanaan RHL di DAS Solo bagian hulu (DAS Wuryantoro, Temon, dan Alang) dapat dikategorikan berhasil, dengan indikator persentase keberhasilan tanaman yang tinggi (> 80%), kondisi tanaman yang tumbuh sampai saat ini tergolong baik, dan keberadaan tanaman mampu mengubah pola tanam pada lahan tegalan yaitu dari tanaman semusim menjadi lahan campuran sehingga dapat meningkatkan kerapatan tegakan. Peningkatan luasan RHL di DAS Wuryantoro seluas 22.32% dan di DAS Alang seluas 9.67% dari tahun 2001 sampai 2011 diikuti dengan nilai koefisien regim sungai (KRS) dan koefisien aliran permukaan (C) yang cenderung meningkat. Sementara peningkatan luasan RHL di DAS Temon seluas 15.76% dari tahun 2001 sampai 2011 diikuti dengan nilai KRS dan C yang cenderung menurun. Keberadaan tanaman RHL di DAS Solo bagian hulu belum memberikan pengaruh nyata terhadap perbaikan kondisi DAS, hal ini disebabkan karena adanya perubahan penggunaan lahan yang terjadi di luar lahan RHL dan kondisi biofisik DAS yang memiliki kawasan karst yang luas.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcHydrologyid
dc.subject.ddcWatershedsid
dc.subject.ddc2014id
dc.subject.ddcSolo-Jawa Tengahid
dc.titleHubungan Kinerja Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Dengan Kondisi Hidrologi Das Solo Bagian Hulu (Das Wuryantoro, Temon, Dan Alang)id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordhidrologi DASid
dc.subject.keywordkoefisien aliran permukaanid
dc.subject.keywordkoefisien regim sungaiid
dc.subject.keywordrehabilitasi lahanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record