Model Persamaaan Struktural Pada Data Kasus Malnutrisi Terhadap Perkembangan Otak
View/ Open
Date
2016Author
Zelvia, Roza
Djuraidah, Anik
Sumertajaya., I Made
Metadata
Show full item recordAbstract
Saat ini Indonesia mengalami masalah gizi yang cukup kompleks.
Berdasarkan Global Nutrition Report tahun 2014, Indonesia termasuk di dalam 17
negara diantara 117 negara yang mempunyai ketiga malnutrisi, yaitu kerdil,
kekurangan berat badan, dan kelebihan berat badan. Dewasa ini Indonesia
menghadapi beban ganda malnutrisi, yakni masalah kekurangan gizi dan masalah
kelebihan gizi. Masalah kekurangan gizi dan kelebihan gizi sangat berpengaruh
terhadap masa kembang pertumbuhan anak pada usia lima tahun ke atas.
Kekurangan gizi umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya
persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya
daerah miskin gizi (iodium). Kelebihan gizi disebabkan oleh kemajuan ekonomi
pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya pengetahuan
tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Berdasarkan beberapa penyebab
dari malnutrisi, diketahui bahwa untuk mengetahui stasus sosial, konsumsi
makanan, status gizi dan perkembangan otak tidak dapat diukur secara langsung
tetapi diukur melalui indikator-indikator sebagai refleksi atau penjelas dari
konstruk atau konsep yang akan diukur. Oleh karena itu, konstruk seperti itu
disebut peubah laten, sedangkan indikator-indikator konstruk yang diukur disebut
peubah indikator (manifes). Untuk mengetahui hubungan antar peubah itu maka
digunakan metode model persamaan struktural.
Data yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari penelitian
disertasi Palupi (2014) tentang kasus beban ganda malnutrisi terhadap
perkembangan otak . Peubah-peubah yang diukur pada penelitian tersebut berupa
peubah indikator. Indikator-indikator usia ayah, lama pendidikan ayah, usia ibu,
lama pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, pendapatan/bulan merupakan
indikator yang mencerminkan peubah laten sosial ekonomi. Indikator-indikator
susu kental dan susu bubuk merupakan indikator yang mencerminkan peubah
laten volume konsumsi susu. Peubah indikator Body mass index (BMI)
merupakan indikator yang mencerminkan peubah laten status gizi. Indikatorindikator
seperti IQ, EQ, kemampuan mengingat, kemampuan memperhatikan,
kemampuan belajar merupakan indikator-indikator yang mencerminkan peubah
laten perkembangan otak. Metode yang digunakan dalam menganalisis hubungan
antar peubah laten dan hubungan antar peubah laten dengan peubah indikatornya
tersebut adalah model persamaan struktural. Masalah gizi dibagi menjadi dua,
yaitu kelebihan gizi dan kekurangan gizi. Sehingga pada penelitian ini dilakukan
analisis terhadap kasus kelebihan gizi dan kasus kekurangan gizi. Model null
merupakan model struktural awal yang dibangun berdasarkan teori. Model null
yang dibangun pada kasus ini adalah status sosial ekonomi mempengaruhi volume
konsumsi susu, volume konsumsi susu mempengaruhi status gizi, status gizi
mempengaruhi perkembangan otak.
Berdasarkan analisis regresi pada awal analisis data, hubungan antar
peubah laten tidak semua berpengaruh nyata sesuai dengan teori. Peubah status
gizi tidak berpengaruh nyata terhadap perkembangan otak. Akan tetapi peubah
sosial ekonomi memiliki pengaruh terhadap peubah status gizi, sehingga dibuat
modifikasi model untuk model persamaan struktural dalam pembahasan lebih
lanjut. Model persamaan struktural kelebihan gizi memiliki nilai GFI lebih besar
yaitu 0.89 dibandingkan model persamaan struktural kekurangan gizi yaitu 0.87.
Pada model normal+kelebihan gizi peubah laten perkembangan otak dominasi
dicerminkan oleh peubah indikator kemampuan mengingat. Sementara, pada
model normal+kekurangan gizi peubah laten perkembangan otak dominasi
dicerminkan oleh peubah indikator IQ.
