Show simple item record

dc.contributor.advisorMurdiyarso, Daniel
dc.contributor.authorPertiwi, Lucy
dc.date.accessioned2016-03-24T01:31:24Z
dc.date.available2016-03-24T01:31:24Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/79719
dc.description.abstractPengukuran emisi CO2 dari hutan rawa gambut perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa besar dampak dari kerusakan hutan rawa gambut. Emisi CO2 dari hutan rawa gambut berasal dari respirasi perakaran tumbuhan (respirasi autotrofik) dan dekomposisi bahan organik (respirasi heterotrofik). Untuk mengetahui emisi CO2 dari dampak kerusakan gambut adalah dengan mengukur CO2 yang hanya berasal dari respirasi heterotrofik, karena CO2 dari respirasi autotrofik sebagian besar akan diserap kembali oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Pengukuran emisi CO2, tinggi muka air tanah, dan suhu gambut dilakukan di hutan rawa gambut Katingan Kalimantan Tengah. Pengukuran ini menggunakan metode trenching untuk memisahkan respirasi heterotrofik dan respirasi autotrofik dari emisi CO2 total. Fluks CO2 dari area non-trenching sebagai emisi total dan dari area trenching sebagai respirasi heterotrofik. Selisih antara emisi total dan respirasi heterotrofik adalah respirasi autotrofik. Pengukuran emisi total, respirasi heterotrofik, dan suhu gambut dilakukan di 9 subplot pada bulan Juni dan Agustus. Rata-rata emisi CO2 total pada bulan Agustus (504.63 ± 36.93 mgm-2jam-1) dan ini lebih tinggi dibandingkan bulan Juni (486.83± 30.84 mgm-2jam-1). Dari hasil akumulasi bulan Juni dan Agustus, respirasi autotrofik berkontribusi lebih banyak terhadap emisi CO2 total dengan kontribusi sebesar 52 % dibandingkan respirasi heterotrofik yang berkontrbusi sebesar 48%. Mikrotofograpi, tinggi muka air tanah, dan suhu gambut memiliki pengaruh terhadap emisi CO2 total. Emisi total dan respirasi heterotrofik yang terukur pada mikrotopografi hummock selalu lebih tinggi dibandingkan hollow. Tinggi muka air tanah menunjukan korelasi yang signifikan terhadap emisi total, namun tidak signifikan terhadap respirasi heterotrofik. Tinggi muka air tanah berkorelasi negatif dengan emisi CO2 total. Penurunan 1 cm tinggi muka air tanah dari permukaan menyebabkan peningkatan emisi CO2 total sebesar 0.342 mg m-2 jam-1. Suhu gambut berkorelasi positif dengan emisi total dan respirasi heterotrofik. Kenaikan 1°C suhu gambut menyebabkan emisi total meningkat sebesar 102.52 mgm-2jam-1 dan respirasi heterotrofik meningkat sebesar 14.44 mgm-2jam-1.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcEarth scienceid
dc.subject.ddcTemperatureid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcKalimantan Tengahid
dc.titleRespirasi Autotrofik Dan Heterotrofik Hutan Rawa Gambut (Studi Kasus: Hutan Rawa Gambut Pt Rimba Makmur Utama, Katingan, Kalimantan Tengah)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordfluks CO2id
dc.subject.keywordhollowid
dc.subject.keywordhummockid
dc.subject.keywordmetode trenchingid
dc.subject.keywordtinggi muka air tanahid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record