Show simple item record

dc.contributor.advisorJaya, I Nengah Surati
dc.contributor.advisorHendrayanto
dc.contributor.advisorTarigan, Suria Darma
dc.contributor.authorSlamet, Bejo
dc.date.accessioned2016-01-08T22:10:53Z
dc.date.available2016-01-08T22:10:53Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/77242
dc.description.abstractPertumbuhan rata-rata luas kebun sawit selama periode 1980–2013 sebesar 11.51% per tahun dengan luasan areal 10.01 juta ha pada tahun 2013. Kebun karet pada periode 1980–2012 menunjukkan pertumbuhan sebesar 1.22 % per tahun dengan luasan areal 3.48 juta ha pada tahun 2012. Transformasi hutan menjadi kebun karet dan sawit telah menyebabkan terjadinya berbagai polemik terkait dampaknya terhadap sumberdaya air. Masyarakat merasakan bahwa setelah transformasi hutan menjadi kebun sawit semakin susah mendapatkan mata air ketika musim kemarau. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa transpirasi dan evapotranspirasi dari sawit tidak lebih tinggi dari hutan. Identifikasi lebih lanjut terkait dampak transformasi hutan terhadap hidrologi perlu dilakukan. Transformasi hutan merubah karakteristik tajuk, kerapatan tegakan dan sifat tanah sehingga merubah kapasitas intersepsi hujan dan laju evapotranspirasi, merubah kapasitas infiltrasi dan aliran permukaan, serta status kesuburan tanahnya. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi sifat hidrologis transformasi hutan menjadi hutan karet, kebun karet dan kebun sawit. Tujuan khusus penelitian ini adalah mengidentifikasi perbedaan dan variabilitas intersepsi, mengidentifikasi sifat hidraulika tanah, mengidentifikasi transformasi hujan menjadi aliran permukaan dan mengidentifikasi status kesuburan tanah pada keempat tipe penggunaan lahan. Variabilitas intersepsi dianalisis dengan mengukur karakteristik tanaman dan tegakan yaitu leaf area index (LAI), mean leaf angle (MLA), canopy cover (GC), basal area, luas tajuk, kondisi batang serta pengukuran throughfall dan stemflow. Sifat hidraulika tanah diperoleh dengan menganalisis sifat fisika dan hidraulika tanah kemudian dilakukan pemodelan kurva retensi tanah menggunakan persamaan Kosugi. Identifikasi aliran permukaan dilakukan dengan mengukur aliran permukaan pada skala plot di keempat tipe penggunaan lahan dan pengukuran debit pada skala mikro DAS. Status kesuburan tanah ditentukan dengan menganalisis kandungan hara tanah. Hasil penelitian menunjukkan transformasi hutan menjadi kebun karet dan kebun sawit menurunkan intersepsi masing-masing sebesar 7% dan 8% (Kebun sawit 14 tahun), 10% (Kebun sawit umur 8 tahun), sedangkan transformasi hutan menjadi hutan karet meingkatkan intersepsi 5%. Penurunan intersepsi menunjukkan air hujan yang sampai di tanah melalui stemflow (SF) dan throughfall (TF) meningkat, dan sebaliknya. Proporsi SF di hutan, hutan karet dan kebun karet terhadap hujan masing-masing hanya 0.7%, 0.3% dan 0.2%, sedangkan di kebun sawit > 3%. Struktur tajuk hutan dengan hutan karet dan kebun karet relatif sama sehingga perbedaan SF tidak nyata, namun struktur tajuk tanaman sawit sangat berbeda yang memungkikan tajuk menangkap air hujan dan diarahkan ke batang sawit dalam volume besar sehingga SF tanaman sawit jauh lebih besar dibandingkan hutan, hutan karet maupun kebun karet. Volume dan laju SF yang besar mengalir terkonsentrasi pada pangkal batang sawit berpotensi menghasilkan tingginya laju aliran permukaan relatif terhadap air yang diinfiltrasikan. Karakteristik tajuk LAI, GC dan MLA mempunyai korelasi yang lemah dengan IF dan TF. Rata-rata bobot Isi (BI) tanah dari keempat bentuk penggunaan lahan yang diamati secara statistik dari sampel tanah berukuran 98.125 cm3 tidak berbeda nyata, namun terjadi kecenderungan peningkatan BI akibat transformasi dari hutan menjadi kebun sawit. Rata-rata BI tanah permukaan (kedalaman 5-10 cm) di kebun karet dan kebun sawit lebih tinggi dari hutan dan hutan karet. Hasil pengukuran infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer menunjukkan kapasitas infiltrasi tanah jenuh di hutan lebih tinggi dari penggunaan lahan lainnya. Hal ini mengindikasikan adanya pemadatan tanah akibat aktifitas manusia. Aliran permukaan skala plot menunjukkan bahwa hutan menghasilkan aliran permukaan yang paling kecil dibandingkan plot lainnya. Selain karena proporsi air hujan yang sampai di permukaan tanah lebih rendah dari kebun karet dan kebun sawit, hutan (Plot 6) dengan serasah yang tebal mampu mengurangi proses terjadinya aliran permukaan untuk kejadian hujan yang sama dibandingkan dengan kebun karet dan kebun sawit. Kebun sawit yang permukaan tanahnya didominasi oleh tumbuhan bawah (Plot 2 dan Plot 4) mampu mengurangi aliran permukaaan cukup besar dibandingkan dengan kebun sawit tanpa tumbuhan bawah (Plot 1 dan Plot 3). Pemadatan tanah pada kebun sawit juga memicu terjadinya hortonian flow yang dimulai dari jalur panen dan piringan tanaman yang tanahnya padat dan tidak terdapat tumbuhan bawah maupun serasah. Hasil pengamatan debit pada skala mikro DAS menunjukkan bahwa DAS yang didominasi oleh hutan karet dan kebun karet mampu memperlambat pelepasan air dari dalam DAS dibandingkan dengan DAS yang didominasi oleh kebun sawit. Kesuburan tanah pada keempat tutupan lahan terkategori rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa perlu usaha pengelolaan lahan yang mampu mengkonservasi tanah dan air dengan baik dan meningkatkan kesuburan tanahnya. Transformasi hutan menjadi kebun karet dan kebun sawit menurunkan intersepsi dan kapasitas infiltrasi tanah jenuh serta meningkatkan aliran permukaan. Isu kelangkaan air yang terjadi akibat transformasi hutan menjadi kebun sawit bukan disebabkan akibat tingginya konsumsi air oleh tanaman sawit, namun karena rendahnya intersepsi, tingginya air hujan yang sampai di permukaan, menurunnya kapasitas infltrasi akibat pemadatan tanah dan akhirnya mengakibatkan tingginya aliran permukaan dan rendahnya infiltrasi untuk mengisi air tanah. Untuk mengurangi dampak negatif transformasi hutan menjadi kebun karet dan kebun sawit terhadap ketersediaan air, secara prinsip perlu dilakukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kapasitas dan laju infiltrasi sekaligus megurangi laju aliran permukaan. Praktek pengelolaan lahan yang dapat dilakukan sebagai bentuk praktek pengelolaan lahan terbaik (best land management practices) untuk meningkatkan kapasitas dan laju infiltrasi serta menurunkan aliran permukaan di kebun karet dan kebun sawit adalah pemanfaatan serasah, penanaman tanaman penutup tanah (cover crops) dan membangun rorak. Pembuatan rorak dimaksudkan untuk mencegat aliran permukaan (terutama hortonian flow yang dimulai dari piringan tanaman dan jalur panen) dan menampungnya dalam lubang sehingga mempunyai kesempatan lebih besar untuk diinfiltrasikan ke dalam tanah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcForestryid
dc.subject.ddcForest hydrologyid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcJambiid
dc.title. Intersepsi Dan Aliran Permukaan Pada Transformasi Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah Jambiid
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordaliran permukaanid
dc.subject.keywordbobot isiid
dc.subject.keywordintersepsi hujanid
dc.subject.keywordtransformasi hutanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record