Pengelolaan Rawa Banjiran Berbasis Analisis Dinamika Fluktuasi Muka Air di Lubuk Lampam, Sumatera Selatan
View/ Open
Date
2015Author
Jubaedah, Dade
Kamal, M Mukhlis
Muchsin, Ismudi
Hariyadi, Sigid
Metadata
Show full item recordAbstract
Rawa Banjiran Lubuk Lampam (RBLL) merupakan ekosistem unik yang
memiliki nilai ekologis penting terutama sebagai habitat ikan khas rawa banjiran.
Sebagian area RBLL telah ditetapkan sebagai suaka perikanan atau kawasan
konservasi perairan, yaitu segmen sungai Kapak Hulu, lebung Suak Buayo serta
lebung Proyek. Dengan demikian, pengelolaan ekosistem RBLL berperan penting
bagi keberlanjutan sumber daya perikanan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh
RBLL adalah penurunan kualitas air yang disebabkan oleh faktor alami dan limbah
antropogenik terutama yang bersumber dari pengembangan perkebunan kelapa
sawit dan industri pengolahannya di dalam dan sekitar area RBLL.
Tujuan utama penelitian ini adalah : (1) mengidentifikasi karakteristik
kualitas air RBLL; (2) menentukan status kualitas air RBLL; (3) menentukan status
trofik perairan RBLL; (4) menggambarkan distribusi dan reproduksi 3 spesies ikan
(nilem atau palau, tambakan dan gabus) di RBLL; dan (5) menentukan strategi
pengelolaan RBLL yang efektif.
Pengambilan sampel dilakukan selama satu tahun dari bulan Desember 2012
sampai dengan November 2013. Lokasi penelitian meliputi : (1) segmen sungai
bagian hulu kawasan RBLL atau Kapak Hulu; (2) lebak kumpai 1; (3) lebung alami
yaitu Suak Buayo; (4) lebung buatan yaitu lebung Proyek; (5) kanal perkebunan
kelapa sawit; (6) lebak kumpai 2; dan (7) segmen sungai bagian hilir area RBLL.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluktuasi muka air di RBLL dipengaruhi
curah hujan di daerah aliran sungai (DAS) Lempuing. Berdasarkan fluktuasi muka
air, perubahan musiman di RBLL dapat dikategorikan dalam musim banjir 1 (Bulan
Desember 2012 sampai dengan April 2013), musim surut (Bulan Mei 2013 sampai
dengan Agustus 2013), dan musim banjir 2 (Bulan September 2013 sampai dengan
November 2013).
Karakteristik kualitas air antar stasiun di RBLL memiliki variasi kesamaan
yang besar (>80%). Secara umum, karakteristik kualitas air RBLL yaitu pH
cenderung asam (kisaran 4.66–5.40), kandungan oksigen terlarut rendah (1.30-3.89
mgL-1), keruh (18.32-29.84 NTU) dan mengandung konsentrasi tinggi total
nitrogen (41.02-60.83 mgL-1) dan total fosfor (1.89-5.72 mgL-1). Herbisida
paraquat dan glyfosat ditemukan di area ini dengan rataan konsentrasi 0.004 mgL-1
dan 0.003 mgL-1, sehingga sebagian besar risiko ekobiologis (Risk Quotient, RQ)
dari kedua jenis herbisida tersebut tergolong rendah (<0.01).
Status mutu air di RBLL ditentukan menggunakan dua metode yaitu indeks
pencemaran (Water Pollution Index, WPI) dan indeks Storage and Retrieval
(STORET). Berdasarkan nilai WPI antar musim menunjukkan perairan RBLL
berada dalam status tercemar ringan (nilai WPI berkisar 1.31-4.41). Berdasarkan
nilai WPI pada masing-masing stasiun dan bulan menunjukkan penurunan mutu
perairan sampai mencapai status tercemar sedang pada Bulan Desember 2012 dan
Maret 2013. Nilai WPI menggambarkan mutu air pada waktu tertentu (data tunggal
atau sekali pengamatan) sehingga dapat melihat perubahan pada masing-masing
waktu dan menjadi informasi dasar dalam upaya perbaikan kualitas air di RBLL
terutama pada saat tingkat pencemaran meningkat.
Berdasarkan indeks STORET, RBLL berada pada status tercemar sedang
sampai berat (nilai STORET -20 sampai dengan -44). Nilai indeks STORET
memberikan gambaran status mutu air pada masing-masing stasiun berdasarkan
skoring terhadap data hasil pengamatan dari waktu ke waktu (times series) sehingga
dapat menjadi peringatan dalam upaya pencegahan pencemaran di perairan RBLL.
Tingkat kesuburan perairan ditentukan menggunakan dua metode, yaitu
Trophic State Index (TSI) dan Trophic Level Index (TLI). Berdasarkan kedua
metode tersebut RBLL berada dalam tingkat kesuburan sangat tinggi (hypereutrophic)
dengan kisaran nilai TSI 79-90 dan TLI 7.7-8.5. Tingginya tingkat
kesuburan di RBLL diindikasikan dengan nilai “b” dari hubungan panjang berat
ikan dan faktor kondisi dari 3 spesies ikan sampel yang menunjukkan ikan berada
dalam kondisi gemuk.
Berdasarkan pola distribusinya, habitat utama ikan nilem adalah perairan
sungai dan lebung Suak Buayo yang terkoneksi dengan sungai sepanjang tahun.
Ikan tambakan dan ikan gabus dapat ditemukan pada hampir seluruh habitat, namun
habitat utama kedua ikan ini adalah lebung. Pada saat air surut, kedua jenis ikan ini
banyak ditemukan di kanal perkebunan kelapa sawit, hal ini diduga disebabkan area
ini strategis sebagai habitat yang mudah dicapai pada saat air mendadak surut
karena berada sepanjang lebak kumpai dan tetap berair cukup dalam meskipun pada
musim kering.
Perubahan muka air yang tidak normal selama waktu penelitian juga
mempengaruhi pola reproduksi ikan nilem, tambakan dan gabus. Hal ini terlihat
dari tingkat kematangan gonad (TKG) dan indeks kematangan gonad ikan (IKG)
yang menunjukkan ikan memijah pada musim banjir dan surut. Puncak musim
pemijahan ikan diindikasikan dengan IKG tertinggi pada masing-masing ikan, yaitu
ikan nilem jantan sebesar 6.24 % pada Bulan November 2013 dan ikan nilem betina
sebesar 13.64 % pada Bulan Januari 2013; ikan tambakan jantan sebesar 3.35 %
dan ikan tambakan betina sebesar 8.90 % pada Bulan Juni 2013; ikan gabus jantan
sebesar 0.45 % pada Bulan Desember 2012 dan ikan gabus betina sebesar 12.38 %
pada Bulan Januari 2013.
Strategi pengelolaan RBLL ditentukan berdasarkan karakteristik kualitas air,
status mutu air, tingkat kesuburan, pola distribusi dan reproduksi ikan di RBLL,
serta evaluasi mengenai sistem lelang lebak lebung. Strategi pengelolaan RBLL
meliputi : kebijakan pemerintah dalam penataan kawasan, pengelolaan limbah
antropogenik, perluasan dan atau penambahan kawasan konservasi sungai dan
lebung, legalisasi kawasan konservasi, perbaikan habitat, penataan kearifan lokal
sistem lelang lebak lebung dan perbaikan koordinasi kelembagaan.
Collections
- DT - Fisheries [777]

