| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan mempelajari kecukupan glukosa, energi dan protein dari kambing bunting tunggal dan kembar pada fase akhir kebuntingan. Digunakan pendekatan neraca yang lengkap dari zat-zat makanan dibarengi dengan aplikasi teknik perunutan isotop dan pendekatan kauntitatif lainnya . Digunakan ternak kambing betina peranakan Etawah sebanyak 27 ekor dengan bobot rata-rata 26-29 kg, berumur 1.5 tahun, terdiri atas 9 ekor tidak bunting, 9 ekor bunting tunggal dan 9 ekor bunting kembar dua. Digunakan rancangan faktorial 3 x 3 dengan ulangan tiga kali. Faktor pertama , tingkat zat makanan (R) dengan tiga tingkat yaitu R0 (50 persen NRC), R1 ( 100 persen NRC) dan R2 (150 persen NRC). Faktor kedua adalah status kebuntingan (B), yaitu tidak bunting (B0), bunting tunggal(B1) dan kembar dua (B2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Konsumsi energi termetabolis (ME) dari kambing tidak bunting, bunting tunggal dan kembar dua masing-masing sebesar 0.51 MJ ME, 1.08 MJ ME dan 1.03 MJ ME /kg 0.75/ekor. Konsumsi protein tercerna (DP) pada kambing tidak bunting, bunting tunggal dan kembar dua masing-masing sebesar 4.46 g DP, 9.8 g DP dan 9.88 g DP/kg 0.75/ekor. Kecernaan zat-zat makanan karena ransum dengan tingkat zat makanan 100 persen dan 150 persen NRC, tidak berbeda nyata tetapi masing-masing lebih tinggi (P < 0.01) dari tingkat zat makanan 50 persen NRC. Peningkatan kecernaan terjadi karena peningkatan jumlah ransum, protein dan energi yang dikonsumsi, bentuk fisik ransum yang halus, berkurangnya waktu ruminasi dan frekwensi pemberiannya dibagi menjadi 6-8 kali dalam sehari. Kecernaan zat-zat makanan dengan status kebuntingan tunggal dan kembar dua tidak berbeda nyata tetapi masing-masing lebih tinggi ( P < 0.01) dari status tidak bunting. Katabolisme protein karena pemberian ransum dengan tingkat zat makanan 100 persen dan 150 persen tidak berbeda nyata tetapi masing-masing nyata (P > 0.05) lebih tinggi dari pemberian 50 persen NRC. Katabolisme protein pada kambing bunting tunggal dan kembar dua, tidak berbeda tetapi masing-masing sangat nyata ( P < 0.01) lebih tinggi dari yang tidak bunting. Produksi panas karena pemberian ransum dengan tingkat zat makanan 100 persen dan 150 persen tidak berbeda tetapi masing-masing meningkat (P < 0.01) bila dibandingkan dengan 50 persen NRC. Dapat disimpulkan bahwa ransum dengan tingkat zat makanan 50, 100 dan 150 persen dari yang dianjurkan NRC, cukup mengandung energi, protein dan glukosa. Terlihat pula pemanfaatan protein dan energi ransum untuk kambing bunting kembar dua relatif sama dengan kambing bunting tunggal | |