Show simple item record

dc.contributor.advisorGuhardja, Edi
dc.contributor.advisorMogea, Johanis Palar
dc.contributor.advisorSetiadi, Dede
dc.contributor.authorRamadhanil
dc.date.accessioned2011-07-06T02:54:23Z
dc.date.available2011-07-06T02:54:23Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/47118
dc.description.abstractSulawesi is the largest island in the Wallacea region, a unique region in the world. The island possesses many endemic plant and animal species, not occurring in other parts of the world. Nevertheless, the scientific knowledge of Sulawesi's flora both axonamically and ecologically is still limmited due to lack of botanical research and publications on this subject.en
dc.description.abstractSulawesi adalah pulau terbesar di Wallacea, sebuah kawasan yang unik di dunia dimana pulau Sulawesi memiliki banyak jenis flora dan fauna endemik yang tidak didapatkan di tempat lainnya di dunia. Meskipun demikian, pengetahuan tentang flora Sulawesi baik secara ekologi ataupun taksonomi masih sangat kurang karena kurangnya penelitian botani dan publikasi mengenai flora Sulawesi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari struktur dan komposisi vegetasi di 6 tipe tata guna lahan yang berbeda intensitas penggunaannya. Penelitian bertempat di sekitar desa Toro yang berlokasi sebelah barat pinggir Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) propinsi Sulawesi Tengah yang terletak pada ketinggian 800-1100 m dpl. Penelitian berlangsung dari bulan April 2004 sampai dengan Agustus 2005. Enam tipe tata guna lahan yang dipelajari adalah mencakup tiga berupa hutan alam ("wana", pangale 1" dan "pangale 2") dan 3 lagi berupa kebun coklat yaitu "pahawa pongko 1", "pahawa pongko 2" dan " huma". Setiap tipe tata guna lahan terdapat 4 ulangan. Plot berbentuk bujur sangkar, berukuran 50 X 50 m. Di dalamnya terdapat 25 subplot yang berukuran 10 X 10 m untuk pengamatan pohon (dbh ≥ 10 cm), 5 X 5 m untuk pengamatan sapling (dbh 2-9.9 cm) dan 2 X 2 m untuk pengamatan tumbuhan bawah (anakan, paku-pakuan, herba dan liana). Spesimen herbarium dan voucher dikoleksi untuk proses identifikasi. Selanjutnya proses identifikasi dan determinasi specimen dilakukan di lapangan, Herbarium Celebense (CEB) Universitas Tadulako Palu, Herbarium Bogoriense (BO) Bogor, dan National Herbarium of Netherland (L), Leiden Netherland. Hasil penelitian menunjukan secara total dari 24 plot tercatat 292 tumbuhan berkayu yang terdiri dari 248 jenis pohon (dbh >10 cm) tersusun atas 143 genus dan 59 famili. Pepohonannya terdiri atas 52 jenis pohon merupakan "timber species", 66 jenis adalah elemen Malesia Timur (termasuk 26 jenis merupakan pohon endemik Sulawesi). Saplingnya tercatat 194 jenis yang terdiri atas 118 genus dan 65 famili. Secara statistik keanekaragaman jenis pohon pada "wana" dan pangale 1 tidak berbeda dengan pangale 2 akan tetapi berbeda secara signifikan dengan 3 tipe kebun kakao. Hal yang sama juga terjadi untuk jenis pohon yang asli ("native species"), sedangkan untuk jenis pohon yang dibudidayakan. ("cultivated species") tidak didapatkan pada "wana", "pangale 1" dan "pangale 2" akan tetapi jumlahnya cukup tinggi pada kebun kakao ("pahawa pongko 1", "pahawa pongko 2" dan "huma"). Pada "wana", "pangale I" dan "pangale 2" ditemukan beberapa jenis pohon yang bersifat endemik, jumlah ini menurun secara drastis pada kebun kakao ("pahawa pongko 1 dan 2, "huma"). Sepertiga jumlah jenis pohon pada "wana", "pangale 1 dan "pangale 2" merupakan kayu komersil. Rata-rata basal area pepohonan di wana 56.7 m² (36-80 m²) per ha, jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya yang berlokasi di Gunung potong di bagian timur laut TNLL pada elevasi 1000 m, niłai ini agak rendah, akan tetapi masih hampir sama dengan nilai basal area hutan-hutan di Asia Tenggara. Dari 24 plot tercatat ada 378 jenis tumbuhan bawah yang terdiri dari 151 jenis anakan, 146 jenis herba, 30 jenis paku teresterial, dan 51 jenis tumbuhan pemanjat. Nilai rata-rata jumlah jenis tumbuhan herba tidak berbeda antara 3 tipe hutan akan tetapi jumlahnya berbeda sangat siginifikan dengan yang terdapat pada kebun kakao terutama pada "huma" jumlahnya 3 kali lebih besar dari pada "wana". Pada tata guna lahan hutan herbanya didominasi oleh suku Urticaceae, Araceae, Hypoxidaceae dan Acanthaceae, sedangkan pada kebun kakao didominasi oleh Asteraceae, Poaceae dan Piperaceae. Ratarata jumlah jenis anakan pohon tertinggi didapatkan pada "pangale 2". Anakan pohon pada lahan tipe A, B dan C umumnya disusun oleh Arecaceae, Sapotaceae, dan Oleaceae sedangkan pada kebun kakao umumnya didominasi oleh Piperaceae, Euphorbiaceae. Jumlah jenis paku-pakuan dan liana tidak berbeda antara hutan dan kebun kakao. Disimpulkan bahwa konservasi keanekaragaman tumbuhan khususnya di lokasi penelitian sangat berhubungan erat dengan pengetahuan asli masyarakat lokal dalam memanfaatkan dan pengelolaan sumberdaya alam disekitarnya. Untuk dapat mengimplementasikan hasil penelítian ini dalam pengambilan kebijakan konservasi TNLL di masa mendatang perlu diintegrasikan dengan hasil-hasil penelitian yang terkait dengan faktor lingkungan lain dan sosial ekonomi masyarakat. Perhatian khusus sejogyanya diberikan pada keterlibatan masyarakat lokal sebagai mitra pemerintah daerah dan Balai Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) dalam pengelolaan sumberdaya alam Taman Nasional Lore Lindu. Selanjutnya, promosi tentang pemanfaatan sumberdaya biologi yang berkelanjutan oleh masyarakat akan dapat membantu stabilitas pinggiran hutan kawasan TNLL.
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.subjectBogor Agricultural University (IPB)en
dc.titleStructure and composition of vegetation in six land use types in the lore lindu national park, Central Sulawesi, Indonesiaen


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record