Show simple item record

dc.contributor.advisorJunior, Muhammad Zairin
dc.contributor.advisorMokoginta, Ing
dc.contributor.advisorAffandi, Ridwan
dc.contributor.advisorManalu, Wasmen
dc.contributor.authorPattiasina, Bethsy Jane
dc.date.accessioned2011-06-30T06:40:51Z
dc.date.available2011-06-30T06:40:51Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/46502
dc.description.abstractKepiting bakau (Scyila spp.) merupakan salah satu spesies penting đi ekosistem mangrove yang tersebar di seturuh wilayah pantai di Indonesia. Kepiting bakau telah menjadi komoditas ekspor, dan usaha budi dayanya telah berkembang menjadi sumber pendapatan negara. Hal ini disebabkan oleh permintaan negara konsumen terhadap komoditas ini cukup tinggi, karena rasa dagingnya yang lezat dan nilai gizi yang tinggi, terutama induk kepiting betina yang matang gonad (sedang bertefur). Pada tahun-tahun terakhir ini terjadi kecenderungan eksploitasi kepiting bakau semakin meningkat, bila tidak dikelola secara efektif, maka populasi kepiting bakau akan mengalami tekanan, akibat maraknya penangkapan untuk semua kelas ukuran. Di samping itu akibat konversi hutan mangrove bagi peruntukkan lahan lainnya dan pencemaran lingkungan, serta aktivitas penangkapan induk bertelur ataupun juvenil sehingga terjadinya kerusakan habitat dan penurunan tuas area mangrove yang pada akhimya berdampak pada penurunan populasi kepiting bakau di alam. Oleh karena itu diperlukan upaya budi daya. Hasil penelitian sepuluh tahun terakhir memperlihatkan bahwa produksi benih kepiting bakau secara teknis dan ekonomis telah mampu dikerjakan. Upaya penyediaan benih (di hatchery) sudah diupayakan, namun pemijahan yang dilakukan masih mengandalkan induk kepiting bakau yang ditangkap dari alam. Demikian pula dengan benih untuk kegiatan pembesaran kepiting bakau di kolam atau tambak. Kesinambungan produksi kepiting bakau melalui usaha pembenihan dalam kondisi terkontrol belum banyak mendapat perhatian. Salah satu kendala yang dihadapi adalah tidak cukup tersedianya induk matang ovarium dari alam saat dipertukan. Hal ini disebabkan karena proses pematangan ovari induk kepiting di alam berlangsung lama, disamping itu induk dari alam tidak dapat menjamin daya kelangsungan hidup larva yang dihasilkan. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas maka dibutuhkan metode altermatif pematangan ovari, selain metode ablasi tangkai mata yang biasa digunakan pada udang. Metode atternatif ini diharapkan dapat mengontrol perkembangan ovari induk kepiting bakau.
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleEfektivitas pemberian serotonin dan suplemen kolesterol serta ablasi pada proses pematangan ovari induk kepiting bakau (Scylla serrata)en
dc.date.updatedLindawati, A.Md 2012-11-26 Edit : Pembimbing, Keyword
dc.subject.keywordGonad Stimulating Hormone (GHS)
dc.subject.keywordGonad Index
dc.subject.keywordEyestalk Ablation


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record