Show simple item record

dc.contributor.advisorKartodihardjo, Hariadi
dc.contributor.advisorTriwidodo, Hermanu
dc.contributor.advisorDarusman, Dudung
dc.contributor.advisorSila, Mappatoba
dc.contributor.authorSadapotto, Andi
dc.date.accessioned2011-06-30T06:24:04Z
dc.date.available2011-06-30T06:24:04Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/46498
dc.description.abstractPersuteraan dam adalah salah satu usaha tani yang sifatnya padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja di pedesaan dan menrpakan salah satu kegiatan social forestry yang berfungsi memberikan lapangan kerja masyarakat sekitar hutan sehingga mencegah masuknya masyarakat untuk merusak hutan. Sulawesi Selatan merupakan sentra produsen kokon dan benang sutera di Indonesia yang kondisinya memperlihatkan penurunan sehingga upaya meningkatkan produksi merupakan sum upaya yang sangat strategis. Bertolak dari ha1 tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan persuteraan dam kg sudah ada, mendapatkan pengetahmu tentang hubungan antara institusi pemeliharaan dan institusi kemitraan, penlaku petani dan kinerja produktivitas kokon, membandingkan institusi persuteraan dam di Guangdong dengan di Sulawesi Selatan dan menemukan insentif yang dapat meningkatkan efisiensi dan pada akhirnya meningkatkan kinerja pengusahaan sutera dam di Sulawesi Selatan. Pendekatan yang di&makan adalah pendekatan SSCP atau situationstructure-condu~-pe~ormarne. -Situation terdiri atas karakteristik lahan murbei, karakteristik petani, biaya eksklusi, modal sosial. Structure terdiri atas organisasi, kemitraan, tiga ciri institusi yaitu hak kepernilikan, batas yurisdiksi dan aturan perwakilan. Conduct meliputi karakteristik budidaya murbei dan karakteristik pemeliharaan ulat sutera. Pegonname meliputi struktur pendapatan dan pengaruh faktor produksi terhadap produktivitas kokon. Luas lahan mudxi per KK di Enrekang rata-rata 1.0 1 hektar, di Soppeng rata-rata 0.92 hektar, di Luoding City rata-rata 0.56 hektar. Umur petani di Enrekang didorninasi oleh petani berumur produktif (70%), demikian pula di Soppeng (66.67%), dan di Luoding City (9W). Modal sosial di Enrekang yaitu kombong dilaksanakan dalam bentuk gotong royong warga dalarn kegiatan pembersihan rumah ulat dan desinfeksi, serta pengokonan. Modal sosial di Soppeng ditunjukkan pada salah satu kelompok tani yang rnenggunakan aturan berkelompok mulai dari pemesanan bibif pemeliharaan ulat dan pemasaran. Modal sosial di Luoding City yaitu Guanxi yang mengandung arti relasi antar individu yang saling berkomitmen, saling percaya dan loyalitas.
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePenataan institusi untuk peningkatan kinerja persuteraan alam di Sulawesi Selatan : Studi komparasi di Enrekang, Soppeng, dan Louding City, Cinaen
dc.date.updatedLindawati, A.Md 2012-11-26 Edit : Pembimbing, Keyword
dc.subject.keywordPersuteraan Alam
dc.subject.keywordSituation-Structure-Conduct-Performance (SSCP)


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record