Studi Tentang Pembelanjaan Usaha Pertanian di Jawa Tengah (Studi Kasus di Desa Larangan dan Desa Puncangrejo)

Date
1980Author
Suwardo, Basuki
Collier, William L.
Sinaga, Rudolf S.
Azis, M. Amin
Metadata
Show full item recordAbstract
Tujuan penelitian ini ialah mengetahui cara bagaimana atau dari sumber mana saja kebutuhan modal dalam usaha pertanian rakyat dipenuhi, seberapa jauh petani berhasil mengelola usaha pertaniannya, serta seberapa jauh kemampuan petani dalam pembentukan modal. Daerah penelitian hanya meliputi dua desa dan responden dibatasi hanya pada pe tani pemilik penggarap dengan dua pola pergiliran tanaman. Yaitu untuk pola pergiliran tanaman padi bawang merah di desa Larangan Kabawang merah di desa Larangan Kabupaten Brebes, dan untuk pola padi-temakau di desa Pucangrejo Kabupaten Kendal.
Secara umum tidak terdapat banyak perbedaan mengenai kondisi pem belanjaan dalam usaha pertanian di kedua desa sampel. Pada umumnya petani tidak mengenal adanya pemisahan antara urusan usaha tani dengan urusan rumah tangga yang lain, sehingga dalam pengelolaan keuangan juga tidak dijumpai adanya pemisahan secara khusus. Dana yang ter-sedia terbuka untuk berbagai tujuan penggunaan, dan secara fleksibel dibelanjakan untuk tujuan pemenuhan kebutuhan yang paling mendesak pa da saat itu. Oleh sebab itu berbagai usaha yang dilakukan oleh anggota rumah tangga petani dalam menyediakan alat-alat pembayaran dana, sukar untuk diidentifikasi sebagai untuk satu tujuan penggunaan tertentu saja, misalnya untuk tujuan usaha tani, untuk kebutuhan rutin rumah tangga dan sebagainya. Dengan perkataan lain ialah bahwa dari segi pembelanjaan, usaha pertanian rakyat ini tidak dapat dipelajari secara tersendiri sebagai suatu badan usaha terpisah dari rumah tangga petani.
Sehubungan dengan masuknya usaha tanaman perdagangan (bawang merah/tembakau) dalam pola pergiliran tanaman, kebutuhan petani akan modal/dana menjadi lebih besar daripada yang dibutuhkan kalau petani hanya mengusahakan tanaman pangan (padi). Untuk usaha tani bawang merah secara rata-rata petani telah mengeluarkan dana sebesar 3,4 kali lipat daripada yang diperlukan untuk usaha tani padi di desa Larangan. Sedang untuk usaha tani tembakau di desa Pucangrejo, petani mengeluarkan dana sebesar 3,8 kali lipat daripada yang diperlukan untuk usaha tani padi. Dengan berbagai cara ternyata petani juga mampu meng usahakan tanaman perdagangan tersebut, bahkan walaupun pemerintah tidak menyediakan bantuan kredit secara khusus seperti halnya usaha tani padi.
Orientasi petani yang pertama dalam hal pembelanjaan pada umumnya ialah pada pendapatan usaha tani dari musim tanam yang terakhir.
Apabila dari sumber ini tidak dapat memenuhi jumlah dana yang diperlukan, maka selanjutnya petani akan berusaha untuk menggali sumber sumber dana yang lain secara lebih intensif. Sumber-sumber dana yang dimaksud antara lain ialah: kerja sampingan, menjual atau menyewakan aset, dan mencari pinjaman (kredit). Kebutuhan dana untuk usaha tani bawang merah atau tembakau ternyata tidak dapat terpenuhi, kalau petani hanya menggantungkan diri pada pendapatan dari usaha tani yang mendahuluinya, yaitu usaha tani padi. ...
Collections
- MT - Economic and Management [3227]

