| dc.description.abstract | Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (KNPDT) melakukan penggerombolan daerah tertinggal menggunakan 4 gerombol yaitu agak tertinggal, tertinggal, sangat tertinggal dan sangat parah ketertinggalannya. Penggerombolan yang dilakukan oleh KNPDT didasarkan pada rataan terboboti dari indikator-indikator yang diukur. Salah satu kelemahan rataan terboboti adalah penentuan bobot yang ditetapkan untuk masing-masing indikator secara subjektifitas. Disamping itu, data pencilan akan mempengaruhi hasil pengelompokkan dari rataan terboboti tersebut. Oleh karena itu, konsep jarak dapat digunakan sebagai penyelesaian dari kelemahan rataan terboboti. Analisis gerombol merupakan salah satu analisis peubah ganda yang menggunakan konsep jarak dalam mengelompokkan objek. Metode penelitian terdiri dari dua tahap yaitu eksplorasi data dan analisis data dengan metode K-Rataan dan Fuzzy K-Rataan. Eksplorasi data terdiri dari deskripsi data dengan diagram kotak garis dan pemeriksaan korelasi antar peubah. Analisis K-Rataan dan Fuzzy K-Rataan terdiri dari tahapan analisis penggerombolan dan tahapan analisis kebaikan metode. Pengurutan berdasarkan jumlah keseluruhan nilai pusat gerombol menghasilkan nilai di mana semakin besar nilai tersebut maka semakin mendekati sangat parah ketertinggalan suatu daerah. Hasil penggerombolan metode KRataan menunjukkan bahwa 76 daerah yang masuk ke dalam gerombol daerah agak tertinggal, 50 daerah terkategori daerah tertinggal, 46 daerah yang termasuk ke dalam gerombol daerah sangat tertinggal, dan 36 daerah tergolong daerah sangat parah ketertinggalannya. Sedangkan hasil penggerombolan daerah tertinggal dengan metode Fuzzy K-Rataan diperoleh sebanyak 79 daerah yang masuk ke dalam gerombol daerah agak tertinggal, 64 daerah terkategori daerah tertinggal, 25 daerah yang termasuk ke dalam gerombol daerah sangat tertinggal, dan 58 daerah tergolong daerah sangat parah ketertinggalannya. Penilaian kebaikan metode penggerombolan K-Rataan dan Fuzzy K-Rataan menghasilkan nilai rasio rata-rata jarak objek pada metode Fuzzy K-Rataan jauh lebih besar dibandingkan metode K-Rataan. Fakta ini menunjukkan bahwa Fuzzy K-Rataan lebih baik daripada K-Rataan. Hal ini didukung pada nilai keragaman di luar gerombol dengan nilai keragaman dalam gerombol. Nilai rasio keragaman yang dihasilkan metode Fuzzy K-Rataan lebih besar daripada metode K-Rataan. Demikian pula nilai fungsi tujuan metode Fuzzy K-Rataan jauh lebih kecil dibandingkan metode K-Rataan. Jadi, metode Fuzzy K-Rataan lebih baik dalam melakukan penggerombolan dibandingkan metode K-Rataan untuk data daerah tertinggal di Indonesia. | en |