Show simple item record

dc.contributor.advisorSukra, Yuhara
dc.contributor.advisorToelihere, Mozes R.
dc.contributor.advisorBarizi
dc.contributor.advisorSupriatna, Iman
dc.contributor.authorSoenardirahardjo, Bambang Poernomo
dc.date.accessioned2011-02-08T06:29:36Z
dc.date.available2011-02-08T06:29:36Z
dc.date.issued1990
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/42454
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai masalah manipulasi mudigah pada tikus, yang dapat dipakai sebagai informasi dasar bagi penelitian pada ternak dalam rangka upaya pengembangan dan peningkatan produksi peternakan di kemudian hari. Diharapkan pula tambahan informasi mengenai teknik alih mudogah dan masalah kultur mudigah secara in vitro. Diamati pula keadaan anak hasil alih mudigah dengan tinjauan khusus pada bobot badan, histopatologi dan fertilitas. Untuk mengetahui dosis optimal PMSG digunakan empat macam kelompok perlakuan dengan anggota masing-masing sebanyak 10 ekor tikus betina dan secara berurutan diberikan PMSG dosis 0, 5, 10 dan 20 IU secara intra peritoneal. Ternyata pemberian PMSG dengan dosis 5 sampai IU sangat nyata meningkatkan gejala berahi bila dibandingkan dengan tanpa PMSG (P<0.01). Namun antara ketiga dosis PMSG (5, 10 dan 20 IU) tidak terlihat perbedaan yang nyata (P>0.05) dalam hal proporsi banyaknya induk yang berahi. Terdapat perbedaan proporsi fase perkembangan mudigah di antara ketiga dosis PMSG (5, 10 dan 20 IU). Pada PMSG dosis 5 IU hanya dapat ditampung mudigah fase perkembangan satu sampai delapan sel blastomer. Pada PMSG dosis 20 IU ternyata meningkatkan proporsi banyaknya mudigah degenerasi bila dibanding dengan penyuntikan PMSG dosis 10 10. Dicoba tiga macam alat penyayat mudigah, yaitu bahan gelas bentuk tipis, bahan gelas bentuk jarum dan bahan logam bentuk tunggal. Ternyata alat penyayat mudigah bahan logam bentuk tunggal mampu meningkatkan proporsi mudigah yang berhasil disayat dan jumlah mudigah paruh yang memenuhi syarat dibanding dengan alat penyayat mudigah bahan gelas (P<0.01). Namun jumlah mudigah memenuhi syarat tidak berbeda nyata di antara penggunaan alat penyayat mudigah bahan gelas bentuk jarum dan bentuk tipis (P>0.05). Tikus donor yang memberikan tanda peningkatan gejala berahi terhadap ovulasi ganda pada dosis 10 IU PMSG hanya 60 persen pada percobaah pendahuluan dan 59.03 persen pada percobaan utama. Selanjutnya mudigah hasil penampungan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian dibiarkan utuh, sedang bagian lain disayat menjadi dua mudigah paruh. Mudigah utuh dan mudigah paruh juga dibagi menjadi dua, yaitu dialihkan pada hari penampungan dan dialihkan setelah dieramkan 20 jam pada media kultur in vitro M16 menggunakan teknik tetes mikro yang ditutup oleh parafin. ...en
dc.languageid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.subject.ddcReproductive Biology
dc.titleKajian Manipulasi Mudigah Pada Tikusen
dc.typeDissertations
dc.subject.keywordMudigah tikus
dc.subject.keywordPMSG (pregnant mare serum gonadotropin)
dc.subject.keywordAlih dan kultur in vitro
dc.subject.keywordTeknik penyayat & fertilitas


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record