Show simple item record

dc.contributor.authorNurwidyarini, Wahyu
dc.contributor.authorAstuti, Retno
dc.contributor.authorPutri, Tania Perdana
dc.contributor.authorSalimah, Aldilla
dc.date.accessioned2010-08-10T07:45:31Z
dc.date.available2010-08-10T07:45:31Z
dc.date.issued2008
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/36588
dc.description.abstractProduksi singkong dunia sudah meningkat dari 75 juta ton pada tahun 1961-1965 menjadi 153 juta ton pada tahun 1991 (FAO, 1995) dan pada tahun 2007 diperkirakan jumlahnya meningkat menjadi 212 juta ton ( FA0,2007). Kebanyakan singkong digunakan di dalam industri tapioka yang menghasilkan onggok sekitar 10-15% sebagai limbah produk (Sriroth et al, 2000). Beberapa daerah menggunakan onggok sebagai substrat dalam industri asam sitrat tetapi sebagian besar dibuang tanpa pengolahan dan menjadi suatu pencemar lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius seperti pencemaran air dan udara (bau). Tetapi kandungan gizinya relatif rendah terutama konsentrasi protein kasar. (kurang dari 2 %) (Pandey, 2000).id
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titlePeningkatan Onggok Dengan Bioeknologi Sebagai Pakan Ternak Unggasid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record