Studi Perbandingan Performans Reproduksi, Karakteristik Genetik dan Pola Suara antara Tetua dan Turunannya pada Penyilangan Burung Tetukur (Streptopelia Chinensis) dan Puter (Streptopelia Risoria)
Date
2005Author
Masy'ud, Burhanuddin
Teolihere, Mozes R
Yusuf, Tuty L
Thohari, A. Machmud
Boediono , Arief
Metadata
Show full item recordAbstract
Burung tekukur atau derkuku (Streptopelia chinensis) dan burung puter memiliki (Streptopelia risoria) adalah dua dari antara jenis-jenis burung yang penggemar cukup luas dan merupakan salah satu komoditas yang berpotensi ekonomi cukup baik. Sumber bibit untuk pemeliharaan, umumnya lebih banyak mengandalkan tangkapan dari alam, dan dari tahun ke tahun cenderung meningkat, sehingga ancaman terhadap kelestariannya juga meningkat. Untuk menjamin kelestariannya di alam dan keberlanjutan suplai bibit untuk memenuhi para penggemarnya diperlukan upaya pelestariannya, antara lain melalui usaha penangkaran sebagai salah satu strategi konservasi ex-situ. Dalam hal ini penerapan teknologi dan manajemen reproduksi maupun manajemen penangkaran umumnya yang tepat dan efektif akan menjadi kunci keberhasilan usaha penangkarannya. Untuk memenuhi meningkatnya permintaan penggemar akan burung tekukur atau keturunannya (tekukur halus) yang bersuara bagus dengan harga jual cukup tinggi, salah satu cara yang dilakukan adalah menyilangkan tekukur jantan (asli) dengan puter betina (pelung), kemudian menyilangkan kembali tekukur jantan asli dengan hasil silangannya (turunannya) secara berulang back cross) sampai menghasilkan tekukur halus pada generasi ketiga (F3) atau generasi keempat (F4) dan seterusnya (Soemarjoto & Raharjo, 2000a; Soejoesdono, 2001). Tingkat keberhasilan program penyilangan ini dilaporkan masih rendah. Diduga ada beberapa faktor penyebab, baik yang bersifat internal burung (fisiologis atau bioreproduksi) maupun eksternal (manajemen reproduksi). Diantara faktor-faktor tersebut, adalah (1) sifat liar burung tekukur yang masih tinggi sehingga cenderung mudah stress, akibatnya telur yang dihasilkan banyak yang dimakan; (2) keturunan pertama (F1) dan kedua (F2) lebih banyak jantan sementara yang diperlukan untuk kelanjutan program penyilangan adalah burung betina, (3) belum optimalnya penanganan unsur-unsur manajemen reproduksi penyilangan seperti faktor pakan, perkandangan, sarang, cahaya, kesehatan, serta pemilihan dan pembentukan pasangan.


