Penurunan Kemampuan Relaksasi Otot Polos Korpus Kavernosum Kelinci Akibat Hipoksemia Kronis oleh SO2 sebagai Model Disfungsi Ereksi pada Manusia.

Date
2009Author
Rasyid, Nur
Priosoeryanto, Bambang Pontjo
Manalu, Wasmen
Astuti, Dewi Apri
Taher, Akmal
Metadata
Show full item recordAbstract
Penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah suatu penyakit kronis yang
cenderung menurunkan kualitas hidup penderitanya secara progresif. Semakin
meningkatnya polusi udara dan kebiasaan merokok meningkatkan jumlah
penderitanya. PPOK menempati urutan kedua sebagai penyebab kematian perokok
setelah penyakit pembuluh darah jantung. Penderita PPOK mengalami gangguan
seksual yang nyata, didapatkan 75% mengalami disfungsi ereksi. Bertolak dari hal
tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui patofisiologi terjadinya
disfungsi ereksi pada penderita PPOK.
Pada penelitian ini dilakukan pada 24 kelinci jantan lokal (Lepus spp.) yang
dibagi dua kelompok, yaitu perlakukan dan kontrol. Pemaparan dengan gas SO2
dilakukan didalam biochamber pada suhu 21ºC, selama 2 jam dalam 1 hari, 5 hari
dalam 1 minggu, selama 4-5 minggu dengan kadar gas SO2 dinaikkan secara bertahap
50-300 ppm hingga terjadi PPOK yang ditandai penurunan kadar PaO2 disertai
adanya gejala klinis berupa rhinorhea (mengeluarkan cairan dari hidung), batuk,
bersin, banyak keluar lendir dari tenggorokan (dahak) disertai penurunan bobot
badan sebesar 300 gr. Pada akhir penelitian kelompok pelakuan mengalami PPOK
berat (<60mmHg) dengan kadar rerata PaO2 49,01 ± 5,23mmHg, sedangkan kadar
rerata PaO2 kelompok kontrol 83,41 ± 10,89mmHg, terdapat perbedaan yang nyata (p
< 0,001). Penurunan bobot badan pada kelompok perlakuan sebesar 245,83 ± 113,73
g sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan berat badan 166,67 ± 121,23
g, perubahan bobot badan antara kedua kelompok terdapat perbedaan yang nyata (p <
0,001). Pada skoring histopatologi paru antara kedua kelompok tidak berdeda secara
statistik, hasil ini berbeda dengan hasil penelitian pendahuluan yang didapatkan
adanya perbedaan yang nyata.
Penurunan kadar testosteron dapat menyebabkan disfungsi seksual, pada
penderita PPOK berat (PaO2<60mmHg) terdapat korelasi positif antara penurunan
kadar PaO2 dengan terjadinya disfungsi seksual. Pada penelitian ini kadar testosterone
total diperiksa dengan teknik radioimmunoassay, kelompok perlakuan mengalami
penurunan dari awal penelitian 0,817 ± 0,976 ng/dl menjadi 0,313 ± 0,464 ng/dl,
sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan pada awal penelitian 0,772 ±
0,779 ng/dl, menjadi 1,77 ± 1,899 ng/dl. Perubahan kadar testosteron tersebut tidak
berbeda secara bermakna (P = 0,143).
Collections
- DF - Veterinary Science [311]

