Show simple item record

dc.contributor.advisorHartrisari
dc.contributor.advisorSitorus, Santun R.P.
dc.contributor.advisorDiamar, Son
dc.contributor.authorSimbolon, Hardy Benry
dc.date.accessioned2010-05-17T07:27:44Z
dc.date.available2010-05-17T07:27:44Z
dc.date.issued2009
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/22453
dc.description.abstractPembangunan transmigrasi dimaksudkan untuk mempertemukan minimal dua kepentingan yaitu pemanfaatan sumberdaya alam dan memberi kesempatan kerja dan peluang berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan suatu kawasan transmigrasi tidak hanya berasal dari sisi internal, tetapi juga tergantung dari perubahan-perubahan yang terjadi di luar sistem kawasan itu. Hal ini mengakibatkan dibutuhkannya suatu cara untuk membantu memahami proses terjadinya persoalan dalam pengelolaan kawasan transmigrasi yang memiliki ciri-ciri sebagai kawasan perdesaan agar pengelola mampu mengantisipasi terjadinya perubahan keadaan sosial, ekonomi dan lingkungan serta adanya perubahan di luar wilayahnya. Intervensi langsung pemerintah dalam program transmigrasi adalah membangun unit pemukiman transmigrasi (sebagai pra desa) beserta pembinaan masyarakat dan lingkungan transmigrasi selama 5 tahun, untuk kemudian diserahkan pembinaannya kepada Pemerintah Daerah yang kemudian menetapkannya sebagai desa definitif. Sebagian dari ribuan unit pemukiman transmigrasi (UPT) yang dibangun telah menjadi pusat-pusat pertumbuhan. Terdapat 66 eks UPT telah menjadi ibukota kabupaten dan 235 eks UPT menjadi ibukota kecamatan (Depnakertrans, 2005). Pencapaian perkembangan tersebut membutuhkan waktu yang relatif lama. Berdasarkan kajian empirik, lokasi transmigrasi umum dengan pola usaha tanaman pangan yang berhasil berkembang menjadi sentra produksi ataupun menjadi ibukota kecamatan membutuhkan waktu selama 17 – 20 tahun (Jones, 1979). Sebagian lain dari ribuan UPT yang telah diserahkan ke pemerintah daerah ternyata menghadapi berbagai masalah, karena belum mencapai sasaran kinerja UPT serta belum mampu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)
dc.titleModel Analisis Kebijakan Pengembangan Kawasan Transmigrasi Berkelanjutan (Studi Kasus: Kawasan Transmigrasi Rasau Jaya, Kabupaten Pontianak)id
dc.title.alternativeIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.date.updatedLindawati, A.Md 2012-10-05 Edit : Pembimbing, Keyword
dc.subject.keywordUnit Pemukiman Transmigrasi (UPT)
dc.subject.keywordMulti Dimensional Scaling
dc.subject.keywordFocus Group Discussion
dc.subject.keywordDimensi ekologi
dc.subject.keywordDimensi ekonomi
dc.subject.keywordDimensi sosial


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record