Respon Morfofisiologi Tanaman Kakao (Theobroma cacao L.) Terhadap Cekaman Kekeringan Di Kawasan Agroforestri Sekitar Taman Nasional Lorelindu Sulawesi Tengah Indonesia

Date
2009Author
Prihastanti, Erma
Tjitrosemito, Soekisman
Sopandie, Didy
Qayim, Ibnul
Metadata
Show full item recordAbstract
Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman tahunan paling penting di
dunia. Sebanyak 3,5 ton biji kakao dunia dihasilkan pada tahun 2006. (ICCO
2007). Kakao diproduksi oleh lebih dari 50 negara yang berada di kawasan tropis
yang secara geografis dapat dibagi dalam tiga wilayah yaitu Afrika, Asia Oceania
dan Amerika Latin (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan 2004). Salah
satu faktor yang berpengaruh terhadap produksi kakao adalah curah hujan
(Zuidema et al. 2005). Tanaman kakao menghendaki sebaran hujan yang relatif
merata sepanjang tahun tanpa bulan kering. Daerah produsen kakao umumnya
memiliki curah hujan antara 1250-3000 mm tiap tahun. Adanya pemanasan
global menyebabkan terjadinya perubahan iklim seperti terjadinya musim kering
yang panjang yang berasosiasi dengan ENSO (El Nino Southern Oscillation).
Para ahli klimatologi memperkirakan peristiwa tersebut akan lebih sering terjadi
di masa yang akan datang (Nepstad et al. 2007). Penelitian sosio-ekonomi
tentang akibat kekeringan yang berasosiasi dengan ENSO terhadap produksi
kakao di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa peristiwa tersebut dapat
menurunkan produksi kakao sebesar 62 % (Keil et al. 2008).
Penelitian pengaruh kekeringan karena ENSO secara langsung agak sulit
dilakukan, karena hal itu tidak dapat diprediksikan dengan tepat kapan dan
dimana terjadinya. Salah satu alternatif untuk melakukan simulasi ENSO adalah
dengan menggunakan sistem atap (roofing) atau disebut throughfall displacment
experiment (TDE) selama periode waktu tertentu. Penelitian cekaman kekeringan
terhadap tanaman kakao dengan sistem TDE merupakan bagian dari penelitian
‘The Sulawesi Throughfall Displacement Experiment- Ecosystem and Economic
responses to ENSO droughts in rainforest and agroforest” dari program penelitian
“Stability of Rainforest Margins in Indonesia’ (STORMA) yang dibiayai oleh
German Research Foundation (DFG-SFB 552).

