Pemanfaatan Informasi Iklim dalam Pengembangan Model Peringatan Dini dan Pengendalian Kejadian Penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia
Date
2008Author
Hidayati, Rini
Boer, Rizaldi
Hadi, Upik Kesumawati
Koesmaryono, Yonny
Manuwoto, Sjafrida
Metadata
Show full item recordAbstract
Kejadian penyakit DBD tercatat di Indonesia sejak tahun 1968. Berbagai upaya telah dilakukan, tetapi hingga tahun 2007 angka kejadian penyakit masih lebih dari 20 per 100.000 penduduk di beberapa daerah endemik melebihi target pemerintah, yakni IR kurang dari 20. Penyebabnya antara lain adanya perubahan lingkungan termasuk iklim, kepadatan penduduk, penanganan yang masih bersifat reaktif dan kurang tepatnya dasar pertimbangan untuk upaya antisipasi atas kejadian penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan Model Peringatan Dini DBD (DEWM) yang dapat digunakan sebagai masukan dalam upaya antisipasi dan pengendalian kejadian penyakit DBD. Tiga hasil utama dari penelitian ini adalah: (1) waktu dan angka kejadian penyakit DBD dapat diprediksi berdasarkan informasi iklim rataan bergerak 3 mingguan curah hujan (cm) dan rataan bergerak 2 mingguan suhu udara maksimum, rata-rata dan minimum (oC) pada 2 minggu sebelum kejadian penyakit; (2) tingkat keakurasian model prediksi IR dapat ditingkatkan melalui penggunaan informasi faktor non iklim, yakni angka kejadian penyakit seminggu sebelum periode prediksi dalam model prediksi; dan (3) DEWM dikembangkan berdasarkan model prediksi PDN dan EIP serta model prediksi IR. Output DEWM berupa prediksi periode optimum pelaksanaan PSN, angka kejadian penyakit, dan informasi perlu tidaknya dilakukan pengasapan. Peubah iklim sebagai penduga IR hanya terdiri dari data curah hujan, yakni curah hujan 7 hingga 2 minggu sebelum kejadian penyakit, dalam bentuk persamaan: IRn = 0,795*IRn-1 + 0,067*ICH3n-2 dan ICH3n-2 = CH n-2 - 1,155*CH3n-4 + 0,702*CH n-5. Model telah tervalidasi pada berbagai klaster wilayah dengan pola indeks kerentanan yang berbeda. Prediksi panjang periode pradewasa nyamuk (PDN) dan periode inkubasi ekstrinsik (EIP) dilakukan dengan menggunakan metode satuan panas dari informasi suhu udara, digunakan untuk menduga periode optimum pembersihan sarang nyamuk (PSN) yang meliputi pembersihan tempat perindukan nyamuk (TPN) dan tempat peristirahan nyamuk dewasa (SND). DEWM yang dibangun bermanfaat untuk (1) memprediksi angka kejadian penyakit DBD, (2) membantu upaya antisipasi dan mitigasi kejadian penyakit melalui penentuan waktu optimum pelaksanaan PSN (3) membantu mengambil keputusan pengasapan, dan (4) memberi masukan pemerintah dalam upaya intervensi menyediakan obat-obatan dan sarana-prasarana untuk penanggulangan penyakit DBD. Tingkat Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat belum cukup untuk menunjang pemberantasan penyakit DBD melalui PSN, sehingga PSN masih perlu disosialisasikan, antara lain dengan cara menggerakkan masyarakat terutama dengan melibatkan tokoh masyarakat lokal.


