Pengaruh Perubahan Pola Meramu terhadap Kesejajarah Antara Pria dan Wanita Sentani dalam Pembangunan di Irian Java ( Kasus di Kelurehan Dobonsolo Kecamatan Sentani)
Abstract
Hakekat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Berbicara tentang pembangunan maka tidak terlepas dari berbagai kendala, demikian pula halnya dengan pembangunan masya-rakat Irian jaya. Adapun kendala-kendala yang dihadapi dalam pembangunan masyarakat Irian Jaya selain terdapatnya berbagai suku bangsa dengan beragam bahasa dan kadang-kadang masih ditemui suasana permusuhan/perang antar suku, kesulitan komunikasi baik antar masyarakat Irian sendiri maupun dengan masyarakat luar Irian Jaya, yang disebabkan karena faktor alam, juga karena hidup mereka yang masih tergantung dari alam. Kehidupan yang masih tergantung pada alam tergambar dari pola tinggal mereka yang berpindah-pindah mengikuti/sesuai dengan mata pencaharian mereka yaitu apa yang kita sebut dengan "sistem meramu", suatu kebudayaan kebendaan yang khas (Aditjondro, 1992). besar Sistem meramu sebagai mata pencaharian sebagian masyarakat Irian Jaya ini menuntut banyak keterlibatan wanita dalam menanganinya. Hal ini menjadikan wanita menduduki posisi penting dalam pengambil-an keputusan baik dalam kegiatan rumahtangga maupun giatan produktif. memiliki ke-se-adat Hal ini bukan berarti kaum pria tidak peranan dan keputusan yang penting dalam ke-hidupan masyarakatnya namun keputusan-keputusan yang diambil oleh kaum pria adalah sebatas kepentingan keluarga besar (klen, suku) belum mengarah pada kepentingan pem-bangunan yang lebih luas. Keputusan kaum pria yang mendudukan pria pada posisi terhormat di masyarakatnya perti penentuan jodoh anggota klen, upacara (ritual), masalah ekonomi klen, suku dan masalah politik seperti pengangkatan pemimpin perang atau penyelesaian konflik-konflik besar antara klen. Hal-hal yang menyangkut dengan kepentingan daerah (bukan daerah adat) hanya mereka lakukan sebagai perantara. Sedangkan untuk pembangunan daerah misalnya, kedudukan pria hanya rupakan penyampai informasi pembangunan tetapi bukan se-bagai motivator pembangunan itu sendiri.
Collections
- DT - Human Ecology [639]


