| dc.description.abstract | Tekanan urbanisasi telah meningkatkan kerentanan kawasan metropolitan JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) terhadap guncangan sosial, ekonomi, dan lingkungan, yang terlihat jelas selama pandemi COVID-19 (2020–2022). Sebagian besar penelitian sebelumnya mengasumsikan bahwa kapasitas struktural lokal secara langsung menentukan resiliensi, padahal asumsi tersebut kurang sesuai untuk sistem metropolitan yang memiliki keterkaitan spasial tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat resiliensi lokal JABODETABEK, mengidentifikasi interdependensi spasial dan fenomena decoupling antara kapasitas struktural dan tingkat resiliensi lokal, serta merumuskan strategi pembangunan menuju kawasan metropolitan yang berketahanan.
Penelitian dilakukan pada 1.501 desa/kelurahan di 14 kabupaten/kota di JABODETABEK menggunakan data tahun 2021 melalui kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Confirmatory Factor Analysis (CFA) terhadap 51 variabel menghasilkan 19 variabel yang valid dan reliabel (Composite Reliability = 0,73) untuk membentuk Local Resilience Index (LRI) berdasarkan dimensi infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Analisis autokorelasi spasial (Moran's I dan LISA), K-means clustering, regresi Ordinary Least Squares (OLS), Geographically Weighted Regression (GWR), serta analisis kebijakan multi-kriteria (MULTIPOL) digunakan untuk mengevaluasi pola spasial, faktor penentu resiliensi, dan merumuskan kebijakan bersama para pemangku kepentingan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi kawasan metropolitan bersifat tidak merata. Kota inti dan wilayah penyangga unggul pada dimensi infrastruktur dan ekonomi, tetapi relatif lemah pada dimensi sosial dan lingkungan. Sebaliknya, wilayah perdesaan, khususnya Kabupaten Bogor, memiliki resiliensi lingkungan lebih tinggi dan tingkat kematian akibat COVID-19 yang lebih rendah. Klaster spasial yang signifikan ditemukan pada seluruh dimensi resiliensi. Penelitian ini juga membuktikan adanya fenomena metropolitan resilience decoupling, yaitu negative decoupling yang terkonsentrasi di kota inti dan sebagian wilayah perdesaan serta positive decoupling yang terkonsentrasi di wilayah penyangga dan bagian selatan. Model GWR memberikan kinerja yang lebih baik dibandingkan OLS (adjusted R² = 0,745 dibandingkan 0,539), yang menunjukkan adanya heterogenitas spasial yang kuat pada variabel faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat resiliensi lokal. Konektivitas jaringan seluler menjadi faktor positif yang paling konsisten, sedangkan pengaruh fasilitas kesehatan, elevasi, lahan pertanian, aksesibilitas pangan, dan kedekatan terhadap fasilitas ekonomi bervariasi menurut karakteristik wilayah.
Analisis MULTIPOL menghasilkan kebijakan yang berbeda sesuai tipologi wilayah. DKI Jakarta memprioritaskan peningkatan kualitas pembangunan kesehatan, pengembangan infrastruktur digital dan smart city, serta pengurangan ketimpangan ekonomi. Kota Tangerang Selatan memprioritaskan penguatan layanan kesehatan, transformasi digital, dan reformasi pelayanan publik. Kabupaten Bogor memprioritaskan pembangunan infrastruktur regional, penguatan layanan kesehatan masyarakat, dan perlindungan modal sosial perdesaan.
Sintesis dengan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2020 tentang RTR Kawasan Perkotaan Jabodetabek-Punjur dan RPJMD 2025–2029 menunjukkan bahwa kebijakan yang ada telah mengakomodasi sebagian besar pola resiliensi, terutama pada aspek kesehatan dan tata kelola digital. Namun, masih terdapat kesenjangan berupa dominasi orientasi pertumbuhan ekonomi, belum optimalnya perhatian terhadap bencana nonalam, belum terintegrasinya indikator resiliensi multidimensi dalam pengendalian pemanfaatan ruang, serta lemahnya tata kelola metropolitan yang bersifat polisentris.
Penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi kawasan metropolitan terhadap pandemi bersifat relasional, dibentuk oleh interaksi antarwilayah, bukan semata-mata oleh kapasitas struktural lokal. Temuan ini memperkuat konsep networked urban resilience dan menegaskan pentingnya kebijakan pembangunan yang adaptif terhadap karakteristik lokal, berorientasi pada resiliensi, serta mengintegrasikan indikator resiliensi multidimensi ke dalam penataan ruang dan perencanaan pembangunan kawasan metropolitan JABODETABEK. | |