Show simple item record

dc.contributor.advisorSimanjuntak, Megawati
dc.contributor.advisorRiany, Yulina Eva
dc.contributor.advisorDamanik, Muhammad Rizal Martua
dc.contributor.advisorKrisnatuti, Diah
dc.contributor.authorSugiharto, Adam
dc.date.accessioned2026-10-29T22:32:22Z
dc.date.available2026-10-29T22:32:22Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180217
dc.description.abstractMasalah stunting masih menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Stunting tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, produktivitas, serta potensi ekonomi bangsa di masa depan. Upaya percepatan penurunan stunting membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan lintas sektor, termasuk dari perspektif ekologi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem keluarga yang memengaruhi pola asuh makan dan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting, serta merumuskan model ekologi keluarga yang dapat digunakan sebagai dasar intervensi peningkatan status gizi balita. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif didukung data kualitatif. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan menyasar tujuh desa (Desa Cigorondong, Kertamukti, Kertajaya, Sumberjaya, Tamanjaya, Tunggaljaya, dan Ujungjaya). Adapun alasan pemilihan lokasi kabupaten Pandeglang merupakan salah satu daerah terpencil yang memiliki jumlah keluarga berisiko stunting terbanyak ke-4 yaitu 109.812 keluarga, adapun untuk Kecamatan Sumur memiliki sekitar 900 Keluarga berisiko stunting (BKKBN 2024). Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2025. Selain itu, penelitian ini telah lolos kaji etik di Komisi Etik Penelitian yang Melibatkan Subyek Manusia Institut Pertanian Bogor dengan Nomor: 1803/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan bantuan kuesioner terstruktur, indept interview dan Focus Group Discussion (FGD). Pengolahan dan analisis data menggunakan Microsoft Excel, Statistical Package for Social Science (SPSS) 25.0 untuk analisis deskriptif dan analisis inferensia (uji correlation pearson) dan SEM-PLS (Structural Equation Modelling Partial Least Square) untuk analisis uji pengaruh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga umumnya sedang, namun alokasi waktu ibu untuk pengasuhan masih rendah. Meskipun pengetahuan gizi dan penerapan 8 fungsi keluarga tergolong cukup baik, keterbatasan pada aspek air, sanitasi, dan kebersihan masih menjadi hambatan. Pada tingkat mesosistem, akses terhadap fasilitas kesehatan belum optimal, sedangkan pada tingkat eksosistem sebagian besar keluarga memiliki modal sosial rendah hingga sedang. Di tingkat makrosistem, hanya sedikit keluarga yang merasakan manfaat langsung dari program pemberdayaan masyarakat. Secara keseluruhan, pola asuh makan sudah diterapkan cukup baik meski belum optimal, dan status gizi anak sebagian besar berada pada kategori normal, meskipun masih terdapat anak dengan berat badan sangat kurang. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor-faktor mikrosistem, seperti riwayat penyakit anak, alokasi waktu ibu, dan penerapan 8 fungsi keluarga, memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan. Anak yang memiliki riwayat penyakit tertentu cenderung memperoleh perhatian lebih dalam hal pola makan. Kemudian, semakin besar waktu yang dialokasikan ibu untuk anak, semakin baik pula pola asuh makan yang diterapkan. Sementara itu, status gizi anak berdasarkan berat badan berhubungan signifikan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, pendapatan per kapita, serta kondisi air, sanitasi, dan kebersihan. Adapun status gizi berdasarkan panjang badan berhubungan dengan usia anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, alokasi waktu ibu, dan tekanan ekonomi subjektif. Faktor pada tingkat mesosistem, eksosistem, dan makrosistem seperti akses fasilitas kesehatan, modal sosial, serta program pemberdayaan masyarakat juga memiliki hubungan signifikan dengan pola asuh makan, namun tidak dengan status gizi anak. Hal ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan status gizi anak perlu memperhatikan peran tidak langsung dari faktor lingkungan sosial dan ekonomi keluarga. Berdasarkan temuan-temuan yang dihasilkan maka diformulasikan sebuah model ekologi keluarga dalam upaya peningkatan status gizi balita pada keluarga berisiko stunting. Model ini terdiri atas empat sistem utama, yaitu mikrosistem, mesosistem, eksosistem, dan makrosistem yang saling berinteraksi. Pada tingkat mikrosistem, diperlukan penguatan peran keluarga melalui peningkatan pengetahuan gizi, penerapan 8 fungsi keluarga, serta perbaikan akses air bersih dan sanitasi. Pada tingkat mesosistem, optimalisasi akses layanan kesehatan dilakukan melalui revitalisasi posyandu, puskesmas, dan penguatan koordinasi lintas sektor. Pada tingkat eksosistem, pemanfaatan modal sosial diperkuat melalui dukungan komunitas dan kolaborasi antar lembaga masyarakat. Sedangkan pada tingkat makrosistem, pemberdayaan masyarakat dan lembaga lokal perlu ditingkatkan untuk mewujudkan ketahanan gizi keluarga secara berkelanjutan. Model ekologi keluarga ini diharapkan menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan intervensi yang lebih terintegrasi dalam upaya percepatan penurunan stunting di tingkat keluarga.
dc.description.sponsorshipDana Pribadi
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleModel Ekologi Keluarga dalam Upaya Meningkatkan Status Gizi Balita pada Keluarga Berisiko Stuntingid
dc.title.alternativeFamily Ecology Model in Efforts to Improve the Nutritional Status of Toddlers in Families at Risk of Stunting
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordmodel ekologi Bronfenbrennerid
dc.subject.keywordBalitaid
dc.subject.keywordpola asuh makanid
dc.subject.keywordstatus gizi anakid
dc.subject.keywordStuntingid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record