| dc.contributor.advisor | Gunanti | |
| dc.contributor.advisor | Harlina, Eva | |
| dc.contributor.author | Samosir, Shellia Calista | |
| dc.date.accessioned | 2026-10-28T06:47:52Z | |
| dc.date.available | 2026-10-28T06:47:52Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180200 | |
| dc.description.abstract | Syok endotoksik dapat menyebabkan gangguan hemodinamik dan perubahan
mukosa usus yang tidak selalu membaik sejalan dengan perbaikan tekanan darah
sistemik setelah resusitasi cairan dan norepinefrin. Penelitian ini bertujuan
mendeskripsikan perubahan makroskopis dan histopatologis duodenum, jejunum,
ileum, dan kolon serta membandingkan skor komposit kerusakan histopatologis
pada tingkat hewan di antara kelompok yangmenerima paparan endotoksin dan/atau
regimen hemodinamik yang berbeda.
Sebanyak 17 ekor anak babi jantan (Sus scrofa domesticus) yang berumur 8-
12 minggu dengan berat badan 35-40 kg dibagi menjadi lima kelompok, yaitu R (n
= 3), NE (n = 2), E+R (n = 4), E+NE (n = 4), dan E+R+NE (n = 4). Syok endotoksik
diinduksi menggunakan lipopolisakarida Escherichia coli hingga tekanan arteri
rata-rata (MAP) < 65 mmHg. Duodenum, jejunum, ileum, dan kolon dievaluasi
secara makroskopis dan histopatologis menggunakan pewarnaan hematoksilineosin serta sistem skoring semikuantitatif. Babi merupakan unit eksperimen,
sedangkan keempat segmen usus merupakan pengukuran berulang pada hewan
yang sama. Skor keempat segmen dirangkum menjadi satu skor komposit per
hewan. Perbandingan skor komposit antarkelompok dianalisis menggunakan uji
Kruskal-Wallis, dilanjutkan dengan uji Dunn dan koreksi perbandingan berganda,
sedangkan perbedaan skor antarsegmen dianalisis menggunakan uji Friedman.
Secara makroskopis, kelompok Rdan NE tidak menunjukkan edema, petekie,
atau hemoragi nyata, sedangkan kelompok endotoksin menunjukkan hiperemia,
edema, penebalan dinding usus, petekie, dan hemoragi fokal dengan keparahan
bervariasi. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan atrofi vili, deskuamasi dan
nekrosis epitel, perubahan jumlah sel goblet, kongesti vaskular,serta hemoragi pada
keempat segmen usus. Analisis tingkat hewan menunjukkan perbedaan skor
komposit di antara kelima kelompok (?² = 10,26; db = 4; p = 0,0362), tetapi uji lanjut
tidak menunjukkan perbedaan bermakna setelah koreksi perbandingan berganda.
Secara deskriptif, skor komposit kelompok E+NE lebih rendah daripada E+R,
sedangkan E+R+NE memiliki skor tertinggi, tetapi perbedaan tersebut belum
terkonfirmasi secara statistik. Skor kerusakan histopatologis juga tidak berbeda
secara bermakna antarsegmen usus (?² = 6,26; db = 3; p = 0,0997).
Penelitian ini menunjukkan adanya variasi perubahan morfopatologismukosa
usus antarkelompok, tetapi belum dapat menentukan regimen yang paling baik
dalam mempertahankan integritas mukosa usus. Karena tidak terdapat kelompok
endotoksin tanpa terapi, pengaruh kausal resusitasi cairan, norepinefrin, atau
kombinasi keduanya terhadap kerusakan mukosa usus belum dapat dipastikan.
Temuan ini menjadi dasar bagi penelitian lanjutan dengan jumlah hewan yang lebih
besar, kelompok pembanding yang memadai, serta pengukuran langsung
mikrosirkulasi dan fungsi sawar usus. | |
| dc.description.abstract | Endotoxic shock can cause hemodynamic disturbances and intestinal mucosal
changes that do not necessarily improve with systemic blood pressure following
fluid resuscitation and norepinephrine administration. This study aimed to describe
macroscopic and histopathological changes in the duodenum, jejunum, ileum, and
colon and compare animal-level composite histopathological injury scores among
groups exposed to endotoxin or different hemodynamic regimens.
Seventeen male piglets were allocated to five groups: fluid resuscitation
without endotoxin (R; n = 3), norepinephrine without endotoxin (NE; n = 2),
Escherichia coli endotoxin with fluid resuscitation (E+R; n = 4), endotoxin with
norepinephrine (E+NE; n = 4), and endotoxin with combined fluid resuscitation and
norepinephrine (E+R+NE; n = 4). Endotoxic shock was induced using E. coli
lipopolysaccharide until mean arterial pressure (MAP) < 65 mmHg. The duodenum,
jejunum, ileum, and colon were evaluated macroscopically and histopathologically
using hematoxylin-eosin staining and a semiquantitative scoring system. Each pig
was considered an experimental unit, with the four intestinal segments as repeated
measurements within the same animal. Scores from the four intestinal segments
were summarized into a single composite score for each animal. Composite scores
were compared among groups using the Kruskal-Wallis test, followed by Dunn’s
test with multiple-comparison correction. Differences in histopathological scores
among the four intestinal segments were analyzed using the Friedman test.
Macroscopically, the Rand NE groupsshowed no apparent edema, petechiae,
or hemorrhage, whereas endotoxin-exposed groups exhibited hyperemia, edema,
intestinal wall thickening, petechiae, and focal hemorrhage of varying severity.
Histopathological examination revealed villous atrophy, epithelial desquamation
and necrosis, altered goblet cell numbers, vascular congestion, and hemorrhage in
all four intestinal segments. Animal-level analysis showed an overall difference in
composite scores among the five groups (?² = 10.26; df = 4; p = 0.0362), but no
pairwise comparison remained significant after multiple-comparison adjustment.
Descriptively, E+NE had a lower composite score than E+R, whereas E+R+NE had
the highest score, but these differences were not statistically confirmed.
Histopathological injury scores did not differ significantly among the duodenum,
jejunum, ileum, and colon (?² = 6.26; df = 3; p = 0.0997).
This study demonstrated variation in intestinal mucosal morphopathology
among the groups but did not establish which regimen was most effective in
preserving mucosal integrity. Because an untreated endotoxin group was not
included, the effects of fluid resuscitation, norepinephrine, or their combination on
intestinal mucosal injury could not be established. These findings provide a basis
for further studies with larger sample sizes, appropriate comparator groups, and
direct assessments of intestinal microcirculation and barrier function. | |
| dc.description.sponsorship | Dana pribadi | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | EFEK KOMBINASI RESUSITASI CAIRAN DAN NOREPINEFRIN TERHADAP MORFOPATOLOGI USUS BABI PADA MODEL SYOK ENDOTOKSIK | id |
| dc.title.alternative | Effects of Combined Fluid Resuscitation and Norepinephrine on Intestinal Morphopathology in a Porcine Model of Endotoxic Shock. | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | babi | id |
| dc.subject.keyword | morfopatologi usus | id |
| dc.subject.keyword | norepinefrin | id |
| dc.subject.keyword | resusitasi cairan | id |
| dc.subject.keyword | syok endotoksik | id |
| dc.subtype | Theses | |