Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Prediksi Alih Fungsi Lahan dan Tingkat Kekeringan di Kabupaten Bogor
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
KAFIFATIA, KAYLIN
Sugiarto, Yon
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertumbuhan populasi umumnya diikuti konversi lahan non-terbangun
menjadi lahan terbangun, memicu peningkatan sumber panas buatan perkotaan.
Penelitian ini bertujuan memproyeksikan ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH)
di Kabupaten Bogor, serta mengevaluasi keterkaitannya dengan indeks kekeringan
Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI). Proyeksi tutupan
lahan disusun menggunakan pendekatan Markov Chain-Cellular Automata.
Indeks SPEI-12 dihitung dari hasil downscaling iklim model CMIP6 skenario
SSP245. Luas lahan terbangun diproyeksikan meningkat sekitar 15.000 ha atau
5% selama periode kajian, diikuti penurunan lahan tidak terbangun dengan
besaran serupa. Ketersediaan RTH diperkirakan menurun hingga di bawah 30%
pada tahun 2038, terutama di wilayah Bogor Tengah dan Ciomas dengan lahan
terbangun tertinggi. Hubungan RTH dengan nilai SPEI tergolong positif namun
lemah, mengindikasikan berkurangnya RTH cenderung meningkatkan risiko
kekeringan. Nilai SPEI diproyeksikan menurun signifikan menjelang akhir
periode kajian, sejalan dengan peningkatan lahan terbangun dan berkurangnya
vegetasi rapat. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan RTH pada
wilayah prioritas guna mencegah kondisi kekeringan ekstrem di Kabupaten Bogor. Rapid population growth is commonly followed by extensive conversion of
non-built land into built-up areas, increasing artificial heat sources. This study
aims to project green open space (GOS) availability in Bogor Regency, and the
Standardized Precipitation Evapotranspiration Index (SPEI) drought indicator.
Land cover projections were generated using a Markov Chain-Cellular Automata
approach. The SPEI-12 index was derived from downscaled CMIP6 climate data
under the SSP245 scenario. Built-up land is projected to increase by
approximately 15,000 ha, or 5%, over the study period, accompanied by a
comparable decline in non-built land. Green open space availability is expected to
fall below 30% by 2038, particularly in central urban areas such as Bogor Tengah
and Ciomas. The relationship between GOS and SPEI values is positive yet weak,
indicating that reduced GOS tends to heighten drought risk. SPEI values are
projected to decline markedly toward the end of the study period, alongside
expanding built-up land and shrinking dense vegetation. These findings
underscore the need to develop green open space in priority areas to prevent
extreme drought conditions in Bogor Regency.

