| dc.description.abstract | NASRUDDIN. Uji Terap Bubu Kawat dan Pengembangan untuk Penangkapan Ikan Jenaha (Lutjanus johnii, Bloch 1792) di Perairan Rigaih Aceh Jaya MULYONO, ROZA YUSFIANDAYANI, VITA RUMANTI KURNIAWATI, and MOKHAMAD DAHRI ISKANDAR.
Bubu kawat merupakan salah satu alat tangkap pasif yang digunakan secara luas dalam perikanan demersal untuk menangkap ikan-ikan dasar seperti Lutjanus johnii, Epinephelus malabaricus, dan spesies ekonomis penting lainnya. Ikan demersal memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi baik untuk kebutuhan lokal maupun ekspor. Nelayan di Rigaih Aceh Jaya pada umumnya dalam melakukan penangkapan ikan lebih banyak mengunakan alat tangkap hand line, rawai dasar, gill net dan trammel net. Saat ini penangkapan dengan bubu kawat belum dikembangkan oleh masyarakat nelayan di Aceh Jaya untuk menangkap ikan demersal. Secara konstruksi, bubu kawat tersusun atas rangka besi atau baja ringan yang dibentuk sesuai desain ruang perangkap. Karakteristik utama alat ini adalah keberadaan mulut perangkap (funnel entrance) yang berbentuk meruncing menuju bagian dalam, sehingga memungkinkan ikan masuk namun sulit keluar akibat arah mulut bubu dan sudut masuk yang mengecil. Secara umum spesifikasi alat tangkap bubu kawat yang digunakan yaitu pxlxt (1,20 cm x 100 cm x 75 cm). Berdasarkan potensi perairan di Rigaih yang berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia (WPPI 572) bubu diharapkan menjadi alat tangkap yang efektif dioperasikan untuk menangkap ikan dasar khususnya ikan jenaha.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah 1) menentukan komposisi hasil tangkapan dan ukuran ikan yang tertangkap dengan bubu kawat. 2) Menentukan tipe atraktor bubu kawat yang efektif untuk menangkap ikan jenaha. 3) Menentukan celah pelolosan untuk mengurangi hasil tangkapan yang tidak layak tangkap. Manfaat dari penelitian ini antara lain: sebagai informasi bagi pelaku usaha perikanan dan masyarakat nelayan di Rigaih Aceh Jaya dan informasi kepada pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan memberikan bantuan kepada nelayan.
Penelitian ini dilaksanakan di Perairan Rigaih Aceh Jaya pada WPPI 572 dengan jarak daerah penangkapan 10 mil laut dengan kedalaman laut 24 sampai 26 meter dasar perairan berlumpur. Metode penelitian yang digunakan pengembangan bubu kawat untuk penangkapan ikan jenaha dengan exsperimental fishing. Percobaan penangkapan dilakukan dengan mengoperasikan 15 unit bubu kawat dengan tiga perlakuan di antaranya: (1) Pengoperasian bubu kawat tanpa atraktor pada 9 trip penangkapan ikan dengan perendaman 3 hari; (2) Pengoperasian bubu kawat menggunakan atraktor daun pinang, daun kelapa, dan ijuk 9 trip penangkapan ikan dengan perendaman 3 hari; (3) Pengoperasian bubu kawat dengan celah pelolosan 9 trip dengan 3 hari perendaman. Pengoprasian bubu yang dioperasikan dirangkai dalam sistem rawai dengan jarak antar bubu 25 meter.
Pengoprasian bubu kawat di Perairan Rigaih nelayan tidak menggunakan pelampung tanda, tetapi nelayan menggunakan titik koodinat agar bubu yang dibiarkan di suatu perairan tidak mudah diambil atau diketahui oleh nelayan lain. Penggunaan sistem titik kordinat ini ada kekurangan, di antaranya pada saat kondisi perairan bergelombang membutuhkan waktu 10 sampai 15 menit, dalam mendeteksi bubu di suatu perairan disebabkan adanya perubahan posisi bubu di dasar laut. Perubahan tersebut disebabkan waktu perendaman bubu kawat selama 3 hari yang diakibatkan oleh arus. Konsidi ini diperlukan pengalaman yang baik dibandingkan dengan menggunakan pelampung tanda di permukaan air.
Berdasarkan perbandingan produktivitas, bubu kawat yang dilapisi PVC yang digunakan dalam penelitian di perairan Rigaih Aceh Jaya memiliki umur teknis yaitu 5 sampai 6 bulan dibandingkan dengan bubu kawat tanpa dilapisi PVC. Selanjutnya jumlah species ikan yang tertangkap dengan bubu kawat tanpa atraktor maupun bubu menggunakan atraktor dan bubu kawat celah pelolosan yaitu masing masing spesies yang tertangkap sebanyak 9 sampai 10 species. Komposisi hasil tangkapan terbanyak selama penelitian dengan bubu kawat tanpa atraktor yaitu jenis ikan jenaha (lutjanus johnii) mencapai 49% dari jumlah 277 ekor, bubu kawat menggunakan atraktor 54% dari jumlah 340 ekor dan bubu celah pelolosan 52% dari jumlah 230 ekor. Hasil tangkapan sampingan yang tertangkap antara lain kakap merah, kerapu, kuwe, sotong, pari, gulamah, kerong kerong, ayam ayam. Dengan demikian hal tersebut menunjukkan bahwa bubu kawat yang dioperasikan di perairan Aceh Jaya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.
Hasil analisis komposisi pada bubu kawat tanpa atraktor sebesar 277 ekor ikan jenaha 49%, hasil tangkapan layak tangkap 86,7%, tidak layak tangkap 13,3%. Selanjutnya komposisi hasil tangkapan pada bubu kawat menggunakan tiga jenis atraktor, di mana atraktor pinang memiliki jumlah ikan 95 ekor dengan berat 141,5 kg, atraktor kelapa dengan jumlah ikan 171 ekor dengan berat sebesar 309 kg, atraktor ijuk dengan jumlah ikan 74 ekor dengan berat 74,9 kg. Berdasarkan jumlah dan berat hasil tangkapan tersebut, atraktor daun kelapa merupakan jenis atraktor yang meberikan hasil tangkapan terbaik dibandingkan atraktor daun pinang dan atraktor ijuk.
Komposisi hasil tangkapan bubu kawat dengan celah pelolosan terdapat 52% ikan jenaha sedangkan pada celah pelolosan didominasi oleh ikan kakap merah sebesar 35%. Secara umum ikan yang tertangkap pada celah pelolosan tidak layak tangkap.
Kata kunci : Demersal, penangkapan, bubu kawat, ikan jenaha, Rigaih | |