ADAPTASI SUBAK DALAM BUDIDAYA PADI DI DESA PEOHO, KAWASAN TRANSMIGRASI ANAWUA, KABUPATEN KOLAKA
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Maulana, Ega
Situmeang, Widya Hasian
Bintoro, H.M.H
Metadata
Show full item recordAbstract
EGA MAULANA. Adaptasi Subak dalam Budidaya Padi di Desa Peoho, Kawasan
Transmigrasi Anawua, Kabupaten Kolaka. Dibimbing oleh WIDYA HASIAN
SITUMEANG dan MOCHAMAD HASYIM BINTORO.
Subak merupakan kelembagaan pertanian yang berperan dalam pengelolaan
irigasi dan kegiatan budidaya padi. Penerapan subak di Desa Peoho merupakan
keberlanjutan sistem pertanian yang dibawa masyarakat transmigran Bali dan
diterapkan pada kondisi sosial, budaya dan lingkungan yang berbeda dengan daerah
asalnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan subak dalam budidaya
padi,
mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi adaptasi, serta
menganalisis adaptasi subak di Desa Peoho. Penelitian dilaksanakan di Desa Peoho,
Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, pada September 2025–September
2026 dengan pendekatan kualitatif yang didukung data kuantitatif. Data diperoleh
melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan survei terhadap 30 responden.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Subak Harapan Tani berperan dalam
pengelolaan irigasi, koordinasi kegiatan budidaya padi, pelaksanaan aturan, gotong
royong serta kegiatan sosial dan budaya. Faktor yang memengaruhi adaptasi
meliputi kondisi sosial, budaya, lingkungan dan dukungan eksternal. Adaptasi
terjadi pada subsistem budaya, sosial dan artefak. Pada subsistem budaya, adaptasi
terlihat melalui penyederhanaan dan penyesuaian pelaksanaan ritual. Pada
subsistem sosial, adaptasi terlihat melalui struktur organisasi yang lebih sederhana,
pembagian air yang fleksibel, serta penyesuaian iuran dan sanksi sesuai kondisi
anggota. Pada subsistem artefak, Pura Bedugul tetap dipertahankan, sedangkan
infrastruktur irigasi berkembang dari konstruksi sederhana menjadi jaringan irigasi
permanen. Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa Subak Harapan Tani mengalami
perubahan pada bentuk dan mekanisme penerapannya sesuai kondisi lokal, tetapi
tetap mempertahankan fungsi utama dalam pengelolaan air dan kegiatan pertanian
serta nilai kebersamaan dan budaya yang menjadi dasar keberadaan subak.
Kata kunci: adaptasi, budidaya padi, kelembagaan, subak, transmigrasi. EGA MAULANA. Adaptation of Subak in Rice Cultivation in Peoho Village,
Anawua Transmigration Area, Kolaka Regency. Supervised by WIDYA HASIAN
SITUMEANG and MOCHAMAD HASYIM BINTORO.
Subak is an agricultural institution that plays a role in irrigation management
and rice cultivation activities. The implementation of subak in Peoho Village
represents the continuation of an agricultural system brought by Balinese
transmigrants and implemented under social, cultural, and environmental
conditions that differ from those of its place of origin. This study aimed to analyze
the implementation of subak in rice cultivation, identify factors influencing
adaptation, and analyze the adaptation of subak in Peoho Village. The study was
conducted in Peoho Village, Watubangga District, Kolaka Regency, from
September 2025 to September 2026 using a qualitative approach supported by
quantitative data. Data were collected through interviews, observations,
documentation, and a survey of 30 respondents. The results showed that Subak
Harapan Tani plays a role in irrigation management, coordination of rice cultivation
activities, implementation of rules, mutual cooperation, and social and cultural
activities. Factors influencing adaptation include social, cultural, environmental
conditions, and external support. Adaptation occurred in the cultural, social, and
artifact subsystems. In the cultural subsystem, adaptation was reflected in the
simplification and adjustment of ritual practices. In the social subsystem, adaptation
was reflected in a simpler organizational structure, flexible water distribution, and
adjustments to membership fees and sanctions according to members' conditions.
In the artifact subsystem, Pura Bedugul was maintained, while irrigation
infrastructure developed from simple structures into permanent irrigation networks.
These adaptations indicate that Subak Harapan Tani has modified the forms and
mechanisms of its implementation according to local conditions while maintaining
its primary functions in water management and agricultural activities, as well as the
values of togetherness and culture underlying the existence of subak.
Keywords: adaptation, rice cultivation, institution, subak, transmigration.

