Pemodelan Potensi Konflik Manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh
Date
2026Jenis/Type
SkripsiSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
KARIMAH, FUTUCHATUR RISKINAL
Rahman, Dede Aulia
Gunaryadi, Donny
Metadata
Show full item recordAbstract
Konflik manusia dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) di Provinsi Aceh terus meningkat akibat perubahan penggunaan lahan yang menyebabkan penyusutan dan fragmentasi habitat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kesesuaian habitat gajah sumatera, probabilitas konflik manusia–gajah, serta faktor yang memengaruhinya di Aceh. Pemodelan dilakukan menggunakan algoritma random forest. Model kesesuaian habitat menggunakan 588 titik kehadiran gajah, sedangkan model probabilitas konflik menggunakan 531 titik konflik pada periode 2020–2025. Kedua model menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai Area Under the Curve (AUC) masing-masing sebesar 0,88 dan 0,87. Jarak dari antropogenik menjadi variabel yang paling berpengaruh terhadap kesesuaian habitat, sedangkan jarak dari hutan paling berpengaruh terhadap probabilitas konflik. Potensi tinggi konflik tertinggi pada Kabupaten Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Tamiang, Aceh Utara, dan Pidie yang cenderung berada pada wilayah peralihan antara hutan dengan lahan budidaya, dan permukiman. Conflict humans and sumatran elephants (Elephas maximus sumatranus Temminck 1847) in Aceh Province continues to rise due to changes in land use that cause habitat loss and fragmentation. This study aims to identify Sumatran elephant habitat suitability, the probability of human–elephant conflict, and the factors influencing it in Aceh. Modeling was carried out using the random forest algorithm. The habitat suitability model used 588 elephant presence points, while the conflict probability model used 531 conflict points from 2020 to 2025. Both models showed good performance with Area Under the Curve (AUC) values of 0.88 and 0.87, respectively. Distance from anthropogenic areas was the most influential variable for habitat suitability, while distance from forests was the most influential for conflict probability. High conflict probability in Bener Meriah, East Aceh, Aceh Tamiang, North Aceh, and Pidie, which tend to be in transitional areas between forest, agricultural land, and settlements.

