| dc.description.abstract | Usahatani padi di lahan pasang surut memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai kendala, antara lain rendahnya kesuburan tanah, produktivitas yang relatif rendah, serta tingginya risiko produksi akibat karakteristik hidrologi lahan yang beragam. Kondisi tersebut menyebabkan perbedaan tingkat efisiensi, komersialisasi, dan perilaku petani dalam menghadapi risiko pada berbagai tipe luapan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas padi, tingkat efisiensi usahatani, tingkat komersialisasi, serta tingkat risiko dan preferensi risiko petani pada berbagai tipe luapan lahan pasang surut.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat dengan melibatkan 143 petani padi lahan pasang surut yang tersebar pada tipe luapan A, B, C, dan D. Analisis efisiensi dilakukan menggunakan Stochastic Frontier Analysis (SFA) Model Kumbhakar yang diestimasi dengan Maximum Likelihood Estimation (MLE). Tingkat komersialisasi dianalisis menggunakan Indeks Komersialisasi Wharton, sedangkan analisis risiko dan preferensi risiko dilakukan menggunakan model fungsi risiko dan fungsi varians dalam kerangka SFA.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi, komersialisasi, dan risiko merupakan tiga dimensi utama yang saling terkait dalam menentukan kinerja usahatani padi pada agroekosistem lahan pasang surut di Kabupaten Sambas Kalimantan Barat. Faktor produksi berupa pupuk Nitrogen (N), pestisida, dan tenaga kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas padi, sedangkan karakteristik sosial ekonomi petani dan kondisi agroekologi lahan berkontribusi terhadap variasi tingkat efisiensi usahatani antar tipe luapan. Variabel seperti umur, pengalaman usahatani, preferensi risiko petani dan rasio tingkat pendapatan tunai terbukti berpengaruh terhadap tingkat inefisiensi usahatani padi di lahan pasang surut. Secara umum, tingkat efisiensi teknis petani tergolong tinggi, namun efisiensi alokatif dan efisiensi ekonomis masih belum optimal sehingga masih terdapat peluang untuk meningkatkan efisiensi melalui pengalokasian input yang lebih tepat dan adaptif.
Penelitian ini juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat efisiensi antar tipe luapan, di mana tipe luapan B dan C memiliki kinerja yang relatif lebih stabil dibandingkan tipe luapan A dan D. Dari aspek komersialisasi, sebagian besar petani masih berada pada tahap transisi dari sistem usahatani subsisten menuju semi-komersial dengan tingkat integrasi pasar yang masih terbatas, terutama pada wilayah tipe luapan D yang menunjukkan karakteristik subsisten yang lebih kuat. Sementara itu, petani secara umum memiliki preferensi risiko yang bersifat risk-averse sebagai respons rasional terhadap tingginya ketidakpastian produksi pada lahan pasang surut. Perbedaan preferensi risiko antar tipe luapan menunjukkan bahwa karakteristik agroekologi dan tata air lahan turut memengaruhi perilaku petani dalam mengalokasikan input dan mengelola usahatani.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja usahatani
padi di lahan pasang surut tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produktivitas, tetapi juga oleh kemampuan petani dalam mencapai efisiensi yang lebih baik, memperkuat orientasi pasar, serta mengelola risiko produksi secara adaptif.
Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang terintegrasi dan spesifik lokasi melalui peningkatan efisiensi penggunaan input, penguatan komersialisasi usahatani, pengelolaan risiko produksi, serta penguatan kapasitas petani yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing tipe luapan guna meningkatkan kinerja usahatani dan kesejahteraan petani padi lahan pasang surut secara berkelanjutan. | |