Optimasi Pelarut Ekstraksi Daun Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) terhadap Polifenol sebagai Antioksidan dan Antiinflamasi Secara In Vitro
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Najmi, Laila
Nurcholis, Waras
Ambarsari, Laksmi
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan alam bernilai farmakologis. Salah satu tanaman yang banyak
digunakan secara tradisional adalah kumis kucing (Orthosiphon aristatus). Daunnya diketahui mengandung komponen aktif berupa fenolik dan flavonoid yang
berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Efektivitas proses ekstraksi senyawa tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti jenis pelarut dan teknik ekstraksi. Penelitian ini bertujuan menentukan formulasi pelarut terbaik menggunakan pendekatan simplex centroid design (SCD) dengan metode sonikasi. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi pengaruh teknik ekstraksi terhadap
perolehan senyawa fenolik, flavonoid, kapasitas antioksidan, dan aktivitas antiinflamasi ekstrak melalui perbandingan dengan metode ekstraksi konvensional.
Metode penelitian terdiri atas dua tahap utama. Tahap pertama meliputi optimasi pelarut menggunakan rancangan SCD dengan kombinasi asam asetat,
etanol, dan aseton. Ekstrak optimasi dievaluasi berdasarkan kadar total fenolik (TPC) melalui metode Folin-Ciocalteu, kadar total flavonoid (TFC) melalui metode kompleksasi aluminium klorida, serta kapasitas antioksidan melalui metode DPPH dan FRAP. Komposisi pelarut optimum hasil rancangan diverifikasi melalui
pengujian eksperimental. Tahap kedua dilakukan dengan membandingkan kemampuan ekstrak hasil optimasi dengan ekstrak metode konvensional yaitu maserasi dan infusa berdasarkan parameter TPC, TFC, kapasitas antioksidan (DPPH dan FRAP), serta aktivitas antiinflamasi melalui pengujian stabilisasi membran eritrosit. Hubungan antara fenolik dan flavonoid terhadap kapasitas antioksidan serta aktivitas antiinflamasi dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Hasil optimasi menunjukkan komposisi pelarut optimum berupa 68,7% asam asetat, 12,7% etanol, dan 18,6% aseton dengan nilai desirability sebesar 0,981. Hasil verifikasi menunjukkan kesesuaian hasil aktual terhadap nilai prediksi model
berdasarkan nilai residual standard error (RSE) < 5% pada seluruh respons sehingga seluruh model respons dinyatakan valid dan akurat. Perbandingan metode
ekstraksi menunjukkan kemampuan ekstrak hasil sonikasi dalam menghasilkan kandungan senyawa bioaktif, kapasitas antioksidan, dan aktivitas antiinflamasi
yang lebih rendah dibandingkan metode konvensional. Analisis korelasi menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan antara kandungan total
fenolik dan flavonoid ekstrak dengan aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa optimasi berbasis SCD berhasil menentukan
komposisi pelarut optimum untuk ekstraksi daun kumis kucing, serta menunjukkan adanya perbedaan efisiensi antara metode sonikasi, maserasi, dan infusa berdasarkan karakteristik ekstrak dan aktivitas biologis.

