Show simple item record

dc.contributor.advisorFauzi, Akhmad
dc.contributor.advisorJuanda, Bambang
dc.contributor.advisorRahma, Hania
dc.contributor.authorPutri, Dewi Zaini
dc.date.accessioned2026-09-25T01:24:16Z
dc.date.available2026-09-25T01:24:16Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180013
dc.description.abstractPembangunan ekonomi kelautan merupakan salah satu pilar penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia karena besarnya potensi sumber daya laut dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, pemanfaatan sumber daya kelautan masih menghadapi berbagai tantangan, diantaranya overfishing, urbanization of the sea, kerusakan lingkungan laut, keterbatasan infrastruktur, tingginya biaya logistik, perubahan iklim, serta lemahnya koordinasi antar pemangku kepentingan. Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi kelautan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas dan kinerja pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan, tetapi juga perlu memperhatikan keseimbangan dimensi dalam pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan serta keterkaitan aktivitas ekonomi antardaerah. Penelitian ini bertujuan untuk; 1) mengevaluasi kinerja pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan di Indonesia; 2) menganalisis tingkat koordinasi antar dimensi dalam pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan; dan 3) menganalisis struktur dan pola jaringan interaksi ekonomi kelautan di Indonesia. Untuk menjawab tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan 3 jenis metode analisis. Metode Grey Relational Analysis (GRA) digunakan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan di Indonesia berdasarkan 3 dimensi yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan. Selanjutnya analisis Coupling Coordination Degree (CCD) digunakan untuk menganalisis tingkat keseimbangan dan koordinasi antar dimensi dalam pembangunan ekonomi kelautan di Indonesia. Metode Spatial Analysis Network (SNA) digunakan untuk menganalisis struktur dan pola jaringan interaksi ekonomi kelautan di Indonesia. Analisis dibatasi pada sektor perikanan dan pariwisata. Analisis menggunakan data sekunder yang berasal dari BPS, PODES, dan statistik KKP dengan tahun data 2024. Tujuan pertama dan kedua menggunakan 15 provinsi sebagai unit analisisnya, sementara tujuan ketiga menggunakan 38 provinsi di Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya ketimpangan kinerja pembangunan ekonomi kelautan antar provinsi di Indonesia, baik dilihat dari antar dimensi maupun hasil GRA secara keseluruhan. Provinsi Bali memiliki kinerja pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan tertinggi, sedangkan Nusa Tenggara Timur memiliki kinerja yang paling rendah. Provinsi yang memiliki kinerja paling baik pada dimensi ekonomi, memiliki kinerja yang buruk pada lingkungan. temuan ini membuktikan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi kelautan tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan aktivitas ekonomi berbasis kelautan, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas sosial masyarakat pesisir dan perbaikan kualitas ekosistem laut. Selanjutnya dengan menggunakan analisis CCD dapat disimpulkan bahwa tingkat koordinasi tidak hanya ditentukan oleh tingginya tingkat kinerja pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan, tetapi terutama oleh keseimbangan dan keterintegrasian antar dimensi dalam pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan. Provinsi dengan kinerja antar dimensi yang lebih seimbang cenderung memiliki tingkat keterkaitan yang lebih tinggi, meskipun keterkaitan yang tinggi belum selalu menunjukkan koordinasi yang baik apabila tidak disertai dengan kinerja pembangunan ekonomi kelautan yang memadai. Provinsi Sulawesi Tenggara menduduki peringkat ketiga dalam analisis GRA, namun dalam analisis CCD, provinsi ini menduduki peringkat pertama dan termasuk dalam kategori koordinasi relatif kuat. Sementara Provinsi Bali yang merupakan provinsi dengan kinerja paling baik dalam pembangunan ekonomi kelautan, namun menempati peringkat kelima dalam analisis CCD, meskipun tingkat coupling degreenya relatif kuat. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan kinerja antar dimensi dalam pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan. Tingginya nilai CCD tidak selalu berarti bahwa suatu wilayah telah mencapai tingkat kinerja pembangunan yang tinggi. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan bahwa sub sistem ekonomi, sosial, dan lingkungan berjalan seimbang dan saling memperkuat. Provinsi dengan CCD yang lebih tinggi cenderung menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dan keseimbangan antar dimensi pembangunan, yang merupakan karakteristik penting dari pembangunan berkelanjutan. Selanjutnya untuk analisis struktur jaringan menunjukkan bahwa ekonomi kelautan Indonesia memiliki keterhubungan yang kuat, tetapi tidak merata dan membentuk hierarkis. Provinsi Jawa Timur menempati posisi paling dominan sebagai simpul utama jaringan, sedangkan sejumlah provinsi lainnya berperan sebagai pusat jaringan sekunder dan sebagian besar provinsi berada pada posisi yang relatif kurang sentral. Posisi Jawa Timur sebagai pusat jaringan terutama berkaitan dengan besarnya aktivitas pendaratan ikan dan pencatatan ikan di pelabuhan serta keterhubungannya dengan wilayah lain. Sulawesi Selatan juga memiliki posisi penting sebagai simpul regional yang menghubungkan wilayah produksi dan pasar di kawasan timur Indonesia. Struktur tersebut menunjukkan bahwa sistem ekonomi kelautan nasional telah memiliki pusat-pusat aktivitas yang kuat, tetapi keterhubungan dan manfaat jaringan belum tersebar secara merata ke seluruh wilayah. Selanjutnya, analisis core-perypheri dan hierarchical clustering memperkuat adanya diferensiasi struktural antara wilayah ini dan perifer. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi kelautan berkelanjutan tidak cukup dinilai dari kinerja sektoral, tetapi perlu mempertimbangkan keseimbangan multidimensi dan posisi wilayah dalam jaringan ekonomi kelautan. Temuan tersebut memberikan implikasi bahwa kebijakan pembangunan perlu diarahkan pada penguatan keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan sekaligus memperkuat konektivitas, kapasitas, dan keterkaitan wilayah yang relatif kurang terhubung, sehingga pembangunan ekonomi kelautan dapat berlangsung secara lebih inklusif dan berkelanjutan.
dc.description.sponsorshipMarine economic development is an important pillar of sustainable development in Indonesia, given the vast potential of marine resources to support economic growth and improve societal well-being. However, the utilization of marine resources continues to face various challenges, including overfishing, urbanization of the sea, marine environmental degradation, inadequate infrastructure, high logistics costs, climate change, and weak coordination among stakeholders. These various challenges demonstrate that the development of the marine economy is not solely about enhancing the activities and performance of sustainable marine economic development; it also requires attention to balancing the various dimensions of such development and considering the inter-regional linkages of economic activities. Accordingly, this study aims to: (1) evaluate the performance of sustainable marine economic development in Indonesia; (2) analyze the level of coordination among the dimensions of sustainable marine economic development; and (3) analyze the structure and patterns of marine economic interaction networks in Indonesia. To address the research objectives, this study employs three analytical methods. The Grey Relational Analysis (GRA) method is used to evaluate the performance of sustainable marine economic development in Indonesia across three dimensions: economic, social, and environmental. Subsequently, the Coupling Coordination Degree (CCD) method is employed to assess the level of balance and coordination among these dimensions in marine economic development. The Spatial Network Analysis (SNA) method is used to analyze the structure and patterns of marine economic interaction networks in Indonesia. The analysis is limited to the fisheries and tourism sectors. The study uses secondary data obtained from Statistics Indonesia (BPS), the Village Potential Statistics (PODES), and statistics from the Ministry of Marine Affairs and Fisheries (KKP), with data from 2024. The first and second objectives use 15 provinces as the units of analysis, while the third objective covers all 38 provinces in Indonesia. The results of the GRA indicate disparities in the performance of sustainable marine economic development across provinces in Indonesia, both across individual dimensions and in terms of the overall GRA scores. Bali demonstrates the highest overall performance, whereas East Nusa Tenggara (NTT) records the lowest. Notably, provinces with relatively strong economic performance tend to exhibit weaker environmental performance. These findings demonstrate that successful marine economic development cannot be achieved solely by increasing marine-based economic activities, but also requires strengthening the social capacity of coastal communities and improving the quality of marine ecosystems. Furthermore, the CCD analysis indicates that the level of coordination is determined not merely by the magnitude of sustainable marine economic development performance, but primarily by the balance and integration among the dimensions of such development. Provinces with more balanced performance across dimensions tend to exhibit higher levels of interconnectedness, although high interconnectedness does not necessarily imply effective coordination if not accompanied by adequate marine economic development performance. Southeast Sulawesi Province ranks third in the GRA analysis but takes first place in the CCD analysis, falling into the category of relatively strong coordination. Conversely, while Bali Province boasts the best performance in marine economic development, it ranks fifth in the CCD analysis—despite a relatively strong degree of coupling—due to imbalances in performance across the dimensions of sustainable marine economic development. A high CCD value does not always signify that a region has achieved a high level of development performance; rather, it indicates that the economic, social, and environmental subsystems are operating in a balanced and mutually reinforcing manner. Provinces with higher CCD values tend to demonstrate greater resilience and balance across development dimensions—key characteristics of sustainable development. The spatial network analysis shows that Indonesia's marine economy is strongly interconnected, but the connections are unevenly distributed and form a hierarchical structure. East Java occupies the most dominant position as the primary network hub, while several other provinces function as secondary network centers and most provinces occupy relatively less central positions. East Java's dominant position is primarily associated with the large volume of fish landed and recorded at its ports, as well as its strong connections with other regions. South Sulawesi also plays an important role as a regional hub connecting production areas and markets in eastern Indonesia. This structure indicates that the national marine economic system has developed strong centers of activity, but connectivity and the benefits generated through the network remain unevenly distributed across regions. Furthermore, the core-periphery analysis and hierarchical clustering reinforce the structural differentiation between core and peripheral regions. Overall, this study demonstrates that sustainable marine economic development cannot be assessed solely based on sectoral performance, but must also account for multidimensional balance and the position of regions within the marine economic network. These findings imply that development policies should simultaneously strengthen the balance among economic, social, and environmental dimensions while improving connectivity, regional capacity, and interregional linkages, particularly in relatively less-connected areas. Such an approach is essential for fostering a more inclusive and sustainable marine economy in Indonesia
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePembangunan Ekonomi Kelautan Berkelanjutan: Kinerja, Keseimbangan Multidimensi, dan Struktur Jaringan Spasialid
dc.title.alternative
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordpembangunan ekonomi kelautanid
dc.subject.keywordgrey relational analysisid
dc.subject.keywordkoordinasi multidimensiid
dc.subject.keywordspatial network analysisid
dc.subtypeDissertations


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record