| dc.description.abstract | Bencana alam dapat menimbulkan kerugian pada berbagai aspek kehidupan dan mengganggu keberlanjutan aktivitas sosial ekonomi wilayah. Besarnya dampak bencana alam ditentukan oleh karakteristik bahaya, kondisi sosial ekonomi dan kapasitas wilayah dalam menghadapi, merespons, serta menyesuaikan diri terhadap gangguan. Perbedaan karakteristik wilayah dapat menyebabkan bencana alam dengan tingkat bahaya yang serupa menghasilkan perubahan kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Oleh karena itu, pengukuran resiliensi wilayah perlu mempertimbangkan tingkat dampak bencana alam, dinamika kondisi wilayah sebelum, selama, dan setelah bencana alam, serta kondisi yang mendasari kemampuan wilayah dalam mempertahankan, memulihkan, dan menyesuaikan kondisinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat dampak bencana alam pada wilayah terdampak di Indonesia; (2) menganalisis dinamika resiliensi sosial ekonomi wilayah terhadap bencana alam berdasarkan perubahan tingkat resiliensi antarwaktu dan faktor yang menjelaskan variasinya; dan (3) mengidentifikasi faktor yang menjelaskan variasi resiliensi sosial ekonomi wilayah; serta (4) mengidentifikasi necessary conditions dan configurational pathways yang menghasilkan resistance, recovery, dan adaptability wilayah yang tinggi terhadap bencana alam.
Penelitian dilakukan melalui tahapan analisis yang saling terintegrasi. Tahap awal mengelompokkan wilayah terdampak bencana alam berdasarkan karakteristik dampaknya untuk mengidentifikasi kelompok wilayah dan jenis bencana alam dengan pola yang serupa. Hasil klasterisasi menjadi dasar penentuan gempa bumi sebagai fokus analisis karena memiliki karakteristik dampak yang relevan dan didukung oleh ketersediaan data. Analisis selanjutnya mencakup 28 kabupaten/kota terdampak gempa bumi merusak pada periode 2016–2022. Tingkat dampak dianalisis berdasarkan kerugian absolut dan relatif menggunakan Seismic Severity Index (SSI) dan Seismic Impact Index (SII). Selanjutnya, tingkat resiliensi sosial ekonomi diukur menggunakan Adjusted Mazziotta–Pareto Index (AMPI) pada tiga kondisi waktu, yaitu sebelum, selama, dan setelah bencana alam. Selain itu ditentukan faktor yang menentukan variasi resiliensi sosial ekonomi wilayah terhadap gempa bumi dengan menggunakan GeoDetector. Perubahan tingkat resiliensi antarperiode digunakan untuk membentuk tiga dimensi, yaitu resistance sebagai perubahan dari kondisi sebelum ke selama bencana alam (saat - pra), recovery sebagai perubahan dari selama ke setelah bencana alam (post - saat), dan adaptability sebagai perubahan dari sebelum ke setelah bencana alam (post - pra). Tahap terakhir menggunakan Necessary Condition Analysis (NCA) untuk mengidentifikasi kondisi yang diperlukan dan fuzzy-set Qualitative Comparative Analysis (fsQCA) untuk mengidentifikasi konfigurasi kondisi yang menghasilkan ketiga dimensi resiliensi tersebut.
Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat dampak gempa bumi berbeda antarwilayah, baik berdasarkan kerugian absolut maupun relatif terhadap kondisi sosial ekonomi wilayah. Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Lombok Utara termasuk wilayah dengan tingkat kerugian absolut dan dampak relatif yang tinggi. Kabupaten Sigi menunjukkan kerugian absolutnya lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah dengan kerugian terbesar, tetapi kerugian relatif yang ditanggungnya termasuk yang tertinggi. Sebaliknya, Kabupaten Cianjur mengalami kerugian absolut yang tinggi, tetapi dampak relatifnya lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah di Sulawesi Tengah. Temuan ini menunjukkan bahwa kerugian absolut tidak selalu mencerminkan besarnya tekanan yang ditanggung wilayah. Karakteristik bahaya, termasuk likuefaksi, tsunami, dan penurunan permukaan tanah, turut mempengaruhi tingkat dampak gempa bumi.
Hasil pengukuran dinamika resiliensi menunjukkan bahwa wilayah terdampak memiliki lintasan perubahan sosial ekonomi yang berbeda antara kondisi sebelum, selama, dan setelah gempa bumi. Poso, Karangasem, dan Kota Mataram menunjukkan profil resiliensi yang relatif kuat dan seimbang, sedangkan Lombok Barat, Lombok Utara, dan Kota Ambon mengalami penurunan pada ketiga dimensi perubahan resiliensi. Kota Palu dan Kabupaten Sigi menunjukkan kemampuan menghadapi gangguan awal yang relatif lebih baik, tetapi mengalami keterbatasan dalam pemulihan. Temuan ini menunjukkan bahwa resistance, recovery, dan adaptability merupakan dimensi resiliensi yang berbeda dan tidak selalu berkembang secara searah. Dengan demikian, besarnya dampak gempa bumi tidak secara langsung menentukan kemampuan wilayah untuk pulih dan beradaptasi. Lintasan resiliensi juga berkaitan dengan kapasitas sosial ekonomi dan karakteristik internal wilayah.
Hasil NCA menunjukkan bahwa modal manusia yang direpresentasikan oleh Rata-rata Lama Sekolah (RLS) berperan sebagai bottleneck condition dalam pembentukan resiliensi, khususnya pada dimensi resistance dan adaptability. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat minimum modal manusia diperlukan untuk memperkuat kemampuan wilayah dalam menghadapi dan beradaptasi terhadap gangguan bencana alam, meskipun faktor tersebut bukan satu-satunya faktor untuk menghasilkan resiliensi tinggi. Modal manusia perlu didukung oleh kapasitas fiskal, investasi publik, aksesibilitas, dan kapasitas pemerintahan.
Secara umum, temuan penelitian mengimplikasikan bahwa kebijakan penguatan resiliensi tidak dapat menggunakan satu faktor atau strategi yang seragam untuk seluruh wilayah. Intervensi perlu disesuaikan dengan tingkat dampak, dimensi resiliensi yang hendak diperkuat, serta konfigurasi kondisi yang tersedia di masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan pengurangan risiko bencana alam dan penguatan kapasitas sosial ekonomi yang lebih kontekstual, baik untuk mempertahankan kondisi saat terjadi bencana alam, mempercepat recovery, maupun meningkatkan kemampuan adaptasi dalam jangka panjang. | |