Show simple item record

dc.contributor.authorSiskandar, Ridwan
dc.contributor.authorNovianti, Inna
dc.contributor.authorUndang
dc.contributor.authorBarokah, Wuliddah Tamsil
dc.contributor.authorDaniswara, Alyssa
dc.contributor.authorRahmawati, Susan Anis
dc.date.accessioned2026-09-15T01:14:51Z
dc.date.available2026-09-15T01:14:51Z
dc.date.issued2026-06
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179942
dc.description.abstractKajian Pra-Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study) ini diinisiasi sebagai langkah strategis untuk mengevaluasi kelayakan hilirisasi dan komersialisasi produk teknologi dalam negeri, yaitu Robot Pertanian Otonom ANTRAC 1.0 (Anthracnose Detection and Control System). Produk ini dikembangkan oleh akademisi dan peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai solusi atas tantangan struktural yang dihadapi oleh sektor pertanian hortikultura di Indonesia. Sektor pertanian hortikultura merupakan penyumbang signifikan terhadap PDB nasional, namun komoditas cabai rawit (Capsicum frutescens) di dalamnya bukan sekadar kebutuhan kuliner sekunder-ia adalah instrumen penggerak inflasi (volatile food) yang sangat sensitif dan berkontribusi langsung pada fluktuasi Consumer Price Index (CPI) nasional (Theresia et al. 2025). Stabilitas produksi komoditas ini secara historis terus dihantui oleh ancaman kegagalan panen struktural akibat epidemiologi penyakit Antraknosa (patek). Patogenesis dan Skala Kerusakan Ekonomi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Colletotrichum spp. yang sangat virulen pada iklim tropis lembap. Pada kelembapan tinggi (RH > 80%) dan musim hujan, infeksi berkembang cepat sehingga dapat menyebabkan kerusakan 50–90% tanaman jika tidak dikendalikan (de Silva et al. 2019). Dampaknya adalah penurunan hasil panen, kerugian ekonomi petani, dan terganggunya rantai pasok hortikultura. Keterbatasan Resolusi Optik dan Intervensi Konvensional. Pengendalian konvensional bergantung pada inspeksi visual manual yang tidak mampu mendeteksi lesi mikro secara konsisten. Saat gejala terlihat jelas, konidia umumnya telah menyebar ke area sehat melalui angin dan percikan hujan. Akibatnya, deteksi manual bersifat reaktif, terlambat, dan memerlukan tenaga kerja yang besar karena inspeksi harus dilakukan berulang di seluruh lahan. Paradoks Blanket Spraying dan Degradasi Ekosistem. Sebagai respons atas kepanikan gagal panen, petani umumnya menerapkan protokol blanket spraying-penyemprotan fungisida kimia spektrum luas secara membabi buta, terjadwal, tanpa mempertimbangkan titik koordinat infeksi presisi. Praktik ini memicu tiga kerugian fatal secara serentak: ...id
dc.language.isoidid
dc.publisherProdi Teknologi Rekayasa Komputer Sekolah Vokasi-IPB Universityid
dc.titleModel Strategi Hilirisasi Robot Antrac 1.0 Program Hilirisasi Riset IPB University Penguatan Ketahanan Pangan Dan Pertanian Presisi Melalui Robot Deteksi Antraknosa Berbasis Kecerdasan Buatan (Ai)id
dc.subtypeOtherid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record