Model Strategi Hilirisasi Robot Antrac 1.0 Program Hilirisasi Riset IPB University Penguatan Ketahanan Pangan Dan Pertanian Presisi Melalui Robot Deteksi Antraknosa Berbasis Kecerdasan Buatan (Ai)
View/ Open
Date
2026-06Author
Siskandar, Ridwan
Novianti, Inna
Undang
Barokah, Wuliddah Tamsil
Daniswara, Alyssa
Rahmawati, Susan Anis
Metadata
Show full item recordAbstract
Kajian Pra-Studi Kelayakan (Pre-Feasibility Study) ini diinisiasi sebagai langkah
strategis untuk mengevaluasi kelayakan hilirisasi dan komersialisasi produk teknologi dalam
negeri, yaitu Robot Pertanian Otonom ANTRAC 1.0 (Anthracnose Detection and Control
System). Produk ini dikembangkan oleh akademisi dan peneliti di Institut Pertanian Bogor
(IPB) sebagai solusi atas tantangan struktural yang dihadapi oleh sektor pertanian hortikultura
di Indonesia.
Sektor pertanian hortikultura merupakan penyumbang signifikan terhadap PDB nasional,
namun komoditas cabai rawit (Capsicum frutescens) di dalamnya bukan sekadar kebutuhan
kuliner sekunder-ia adalah instrumen penggerak inflasi (volatile food) yang sangat sensitif dan
berkontribusi langsung pada fluktuasi Consumer Price Index (CPI) nasional (Theresia et al.
2025). Stabilitas produksi komoditas ini secara historis terus dihantui oleh ancaman kegagalan
panen struktural akibat epidemiologi penyakit Antraknosa (patek).
Patogenesis dan Skala Kerusakan Ekonomi. Penyakit ini disebabkan oleh jamur
Colletotrichum spp. yang sangat virulen pada iklim tropis lembap. Pada kelembapan tinggi
(RH > 80%) dan musim hujan, infeksi berkembang cepat sehingga dapat menyebabkan
kerusakan 50–90% tanaman jika tidak dikendalikan (de Silva et al. 2019). Dampaknya adalah
penurunan hasil panen, kerugian ekonomi petani, dan terganggunya rantai pasok hortikultura.
Keterbatasan Resolusi Optik dan Intervensi Konvensional. Pengendalian konvensional
bergantung pada inspeksi visual manual yang tidak mampu mendeteksi lesi mikro secara
konsisten. Saat gejala terlihat jelas, konidia umumnya telah menyebar ke area sehat melalui
angin dan percikan hujan. Akibatnya, deteksi manual bersifat reaktif, terlambat, dan
memerlukan tenaga kerja yang besar karena inspeksi harus dilakukan berulang di seluruh lahan.
Paradoks Blanket Spraying dan Degradasi Ekosistem. Sebagai respons atas kepanikan
gagal panen, petani umumnya menerapkan protokol blanket spraying-penyemprotan fungisida
kimia spektrum luas secara membabi buta, terjadwal, tanpa mempertimbangkan titik koordinat
infeksi presisi. Praktik ini memicu tiga kerugian fatal secara serentak: ...
Collections
- Diploma Programme [113]

