| dc.description.abstract | Tradisi perburuan paus di Lamalera, Nusa Tenggara Timur, merupakan kerja sama komunal berkru besar menggunakan perahu téna. Beberapa dekade terakhir, perahu jonson menciptakan alternatif yang berpotensi mengubah preferensi nelayan dalam memilih perahu. Penelitian sebelumnya memodelkan ini menggunakan Agent-Based Modeling dengan asumsi evaluasi imbalan terbaru dalam rentang waktu tetap yang seragam antar-nelayan, tanpa peluruhan memori. Penelitian ini mengembangkan model yang memperhitungkan perbedaan tersebut melalui faktor retensi imbalan, menggunakan Exponentially Weighted Moving Average, untuk membedakan agen Fast-Decay Memory yang reaktif terhadap hasil terbaru dan Slow-Decay Memory (Slow-Decay Memory) yang mempertahankan pengaruh riwayat lebih lama. Simulasi memvariasikan proporsi profil agen pada dua skenario, tanpa dan dengan jonson, lalu mengukur partisipasi, ketahanan kelompok kerja, dan pola perpindahan perahu. Hasil menunjukkan kerja sama pada téna meningkat setelah proporsi Slow-Decay Memory melewati 40%, namun tidak pernah mencapai dominasi mutlak meski seluruh populasi berprofil Slow-Decay Memory. Kehadiran jonson memperlambat peningkatan ini dengan menyerap sebagian populasi secara permanen, tetapi pada proporsi Slow-Decay Memory tinggi, jonson justru menjadi jalur penguatan téna, ditandai perpindahan dari kegiatan individual menuju kelompok lebih besar (sapa-jonson-téna) yang menyalip jalur pelemahan (téna-jonson-sapa). Temuan ini menegaskan bahwa nelayan dengan retensi imbalan tinggi berperan sebagai penyeimbang keberlangsungan kerja sama komunal, meski perannya dapat tertekan oleh sarana tangkap yang lebih praktis. | |