Kerja Bersama Insektisida Deltametrin Dan Abamektin Pada Crocidolomia pavonana (Lepidoptera: Crambidae)
Date
2026Author
Nugroho, Mohamad Aldi Cahyo
Dadang
Sugiana, Fenny Aulia
Metadata
Show full item recordAbstract
Crocidolomia pavonana merupakan salah satu hama utama tanaman Brassicaceae yang dapat menyebabkan kerusakan dan kehilangan hasil yang tinggi. Penggunaan insektisida secara berulang berpotensi menurunkan efektivitas pengendalian akibat berkembangnya resistensi hama. Salah satu upaya untuk meningkatkan efektivitas pengendalian sekaligus memperlambat perkembangan resistensi adalah penggunaan campuran insektisida dengan mekanisme kerja berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari toksisitas dan sifat interaksi campuran insektisida abamektin dan deltametrin terhadap larva instar kedua C. pavonana. Pengujian dilakukan menggunakan metode celup daun dengan perlakuan insektisida tunggal dan campuran pada nisbah abamektin:deltametrin 2:1, 1:1, dan 1:2. Mortalitas larva diamati pada 24, 48, dan 72 jam setelah perlakuan (JSP), kemudian dianalisis menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC50 dan LC95. Sifat interaksi campuran ditentukan berdasarkan nilai indeks kombinasi (IK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa toksisitas insektisida meningkat seiring bertambahnya waktu pengamatan. Pada 72 JSP, nilai LC50 dan LC95 abamektin masing-masing sebesar 11,316 dan 35,619 ml/l, sedangkan deltametrin masing-masing sebesar 5,286 dan 40,568 ml/l. Campuran abamektin dan deltametrin menghasilkan toksisitas yang lebih tinggi dibandingkan aplikasi tunggal. Nisbah campuran 1:2 menunjukkan toksisitas tertinggi dengan nilai LC50 dan LC95 masing-masing sebesar 3,709 dan 11,748 ml/l pada 72 JSP. Analisis indeks kombinasi menunjukkan bahwa sebagian besar campuran bersifat sinergistik, terutama pada nisbah 1:2 yang menunjukkan interaksi sinergistik kuat hingga sinergistik lemah pada berbagai taraf kematian dan waktu pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran abamektin dan deltametrin, khususnya pada nisbah 1:2, berpotensi meningkatkan efektivitas pengendalian C. pavonana dan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif strategi pengelolaan resistensi insektisida. Crocidolomia pavonana is one of the major pests of Brassicaceae crops and can cause significant yield losses. Continuous use of insecticides may reduce efficacy due to the development of insect resistance. One approach to improve control effectiveness and delay resistance development is the use of insecticide mixtures with different modes of action. This study aimed to evaluate the toxicity and interaction of abamectin and deltamethrin mixtures against second-instar larvae of C. pavonana. Bioassays were conducted using the leaf-residue method with individual insecticides and mixtures at abamectin:deltamethrin ratios of 2:1, 1:1, and 1:2. Larval mortality was recorded at 24, 48, and 72 hours after treatment (HAT). Probit analysis was used to estimate LC50 and LC95 values, while the interaction between insecticides was determined using the combination index (CI). The toxicity of both insecticides increased with increasing exposure time. At 72 HAT, the LC50 and LC95 values of abamectin were 11.316 and 35.619 ml/l, respectively, whereas those of deltamethrin were 5.286 and 40.568 ml/l, respectively. The mixtures exhibited higher toxicity than the individual insecticides. The 1:2 mixture ratio showed the highest toxicity, with LC50 and LC95 values of 3.709 and 11.748 ml/l, respectively, at 72 HAT. Combination index analysis indicated that most mixtures produced synergistic interactions, particularly the 1:2 ratio, which exhibited strong to weak synergism across different mortality levels and observation periods. These results demonstrate that the mixture of abamectin and deltamethrin, particularly at a ratio of 1:2, has the potential to improve the control efficacy against C. pavonana and may serve as an alternative strategy for insecticide resistance management.
Collections
- UF - Plant Protection [2612]

