Dinamika Sifat Kimia Beberapa Jenis Tanah Akibat Pemberian Kalsit dan Blast Furnace Slag
Abstract
Tanah masam mendominasi lahan kering di Indonesia dan menjadi kendala utama pertanian karena pH rendah, aluminium dapat ditukar (Al-dd) tinggi, kapasitas tukar kation (KTK) rendah, serta kejenuhan basa (KB) rendah. Pengapuran dengan kalsit umum diterapkan untuk memperbaiki kemasaman tanah. Blast furnace slag sebagai produk samping industri baja berpeluang menjadi amelioran alternatif sekaligus sumber magnesium dan silikon. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh kalsit dan blast furnace slag pada berbagai dosis terhadap sifat kimia beberapa jenis tanah dari Kabupaten Bogor, yaitu Latosol Dramaga (Inceptisols), Podsolik Jasinga (Ultisols), Andosol Sukamantri (Andisols), dan Regosol Dramaga (Entisols). Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal dengan tujuh perlakuan yang diulang empat kali sehingga diperoleh 28 satuan percobaan pada setiap tanah. Tanah diinkubasi selama enam minggu. Peubah yang diamati meliputi dinamika pH H2O (minggu ke-2, 4, dan 6), Al-dd dan H-dd (minggu ke-2), serta KTK, basa-basa dapat ditukar, dan KB pada akhir masa inkubasi (minggu ke-6). Data dianalisis ragam dan dilanjutkan uji DMRT pada taraf 5%. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa selama 6 minggu inkubasi, kedua amelioran secara nyata meningkatkan pH H2O, menetralkan Al-dd dan H-dd pada minggu ke-2 sebagai indikator utama penurunan kemasaman tanah, serta meningkatkan KTK, Ca-dd, dan KB pada akhir inkubasi dibandingkan kontrol. Dibandingkan blast furnace slag, kalsit menaikkan pH lebih tinggi dan menyumbang Ca-dd lebih tinggi, terutama pada tanah paling masam yaitu Latosol dan Podsolik, sedangkan pada Andosol dan Regosol perbedaan Ca-dd antara keduanya tidak nyata. blast furnace slag lebih unggul dalam memasok Mg-dd dan meningkatkan KTK. Respons perbaikan terbesar terjadi pada Podsolik Jasinga yang paling masam. Andosol Sukamantri merespons paling lambat karena daya sangganya tinggi. Regosol Dramaga berubah terbatas karena kemasaman awalnya rendah. Berdasarkan indikator utama pH dan Al-dd, kalsit dan blast furnace slag efektif memperbaiki sifat kimia tanah masam dengan efektivitas yang dipengaruhi jenis tanah dan dosis amelioran. Acidic soils dominate the drylands of Indonesia and constrain agriculture because of low pH, high exchangeable aluminum (Al), low cation exchange capacity (CEC), and low base saturation (BS). Liming with calcite is commonly applied to improve soil acidity. Blast furnace slag, a by-product of the steel industry, is a potential alternative ameliorant as well as a source of magnesium and silicon. This study evaluated the effects of calcite and blast furnace slag at various doses on the chemical properties of several soils from Bogor Regency, namely Latosol Dramaga (Inceptisols), Podsolik Jasinga (Ultisols), Andosol Sukamantri (Andisols), and Regosol Dramaga (Entisols). The experiment used a one-factor completely randomized design with seven treatments replicated four times, resulting in 28 experimental units per soil. The soils were incubated for six weeks. The observed variables included pH (H2O) dynamics (weeks 2, 4, and 6), exchangeable Al and H (week 2), as well as CEC, exchangeable bases, and BS at the end of incubation (week 6). Data were analyzed by ANOVA followed by DMRT at the 5% level. The follow-up test showed that over the 6-week incubation, both ameliorants significantly increased soil pH, neutralized exchangeable Al and H at week 2 as the main indicators of acidity reduction, and increased CEC, exchangeable Ca, and BS at the end of incubation relative to the control. Compared with blast furnace slag, calcite raised pH higher and supplied more exchangeable Ca, particularly in the most acidic soils (Latosol and Podsolik), whereas in Andosol and Regosol the difference in exchangeable Ca between the two was not significant. Blast furnace slag was superior in exchangeable Mg and increasing CEC. The greatest improvement occurred in the most acidic Podsolik Jasinga. Andosol Sukamantri responded most slowly because of its high buffering capacity. Regosol Dramaga changed only slightly because of its low initial acidity. Based on the key indicators pH and exchangeable Al, calcite and blast furnace slag effectively improve the chemical properties of acidic soils, with effectiveness influenced by soil type and ameliorant dose.

