Show simple item record

dc.contributor.advisorPuspaningsih, Nining
dc.contributor.authorKURNIAWAN, PRADIKA AFRI
dc.date.accessioned2026-08-19T03:27:47Z
dc.date.available2026-08-19T03:27:47Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179725
dc.description.abstractLahan kritis merupakan permasalahan penting dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) karena menurunkan fungsi hidrologis dan produktivitas lahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kekritisan lahan di Sub-DAS Cikalumpang dan sebarannya pada setiap fungsi kawasan hutan. Analisis dilakukan menggunakan Sistem Informasi Geografis dengan metode Composite Mapping Analysis yang mengintegrasikan delapan parameter dari faktor lingkungan dan faktor manusia, sedangkan tingkat erosi dihitung menggunakan metode Universal Soil Loss Equation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekritisan lahan terbagi menjadi lima kelas, dengan kelas kritis dan sangat kritis mencakup 30,36% dari total 2.770,52 ha. Tutupan lahan menjadi faktor dominan penentu kekritisan lahan sehingga faktor lingkungan lebih berpengaruh dibandingkan dengan faktor manusia. Berdasarkan fungsi kawasan, areal penggunaan lain (APL) memiliki tingkat kekritisan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan hutan, dengan proporsi lahan kritis dan sangat kritis mencapai 40,61% dari luas APL, sedangkan pada hutan produksi (HP) hanya sebesar 0,92%. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan prioritas konservasi dan rehabilitasi lahan serta pengelolaan jasa lingkungan di Sub-DAS Cikalumpang
dc.description.abstractCritical land is a major concern in watershed management because it reduces hydrological function and land productivity. This study aims to analyze the level of land criticality in the Cikalumpang Sub-watershed and its distribution across forest area functions. The analysis employed a Geographic Information System with the Composite Mapping Analysis method, integrating eight environmental and social parameters, while erosion was estimated using the Universal Soil Loss Equation. The results show that land criticality was classified into five classes, with the critical and highly critical classes together accounting for 30.36% of the total 2,770.52 ha. Land cover was the dominant determining factor, so environmental factors were more influential than social factors. Based on area function, other-use areas (APL) had a much higher criticality level than forest areas, with critical and highly critical classes covering 40.61% of APL, compared with only 0.92% in production forest (HP). These findings can serve as a basis for prioritizing land conservation and rehabilitation and for environmental service management in the Cikalumpang Sub- watershed
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePEMODELAN SPASIAL TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DI SUB-DAS CIKALUMPANGid
dc.title.alternativeSpatial Modeling of Land Criticality Levels in the Cikalumpang Sub-watershed
dc.typeSkripsi
dc.subject.keywordComposite Mapping Analysisid
dc.subject.keywordErosiid
dc.subject.keywordfungsi kawasan hutanid
dc.subject.keywordlahan kritisid
dc.subject.keywordSub-DAS Cikalumpangid
dc.subtypeUndergraduate Theses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record