Pengaruh Kompos Kulit Buah Kopi dan Biostimulan terhadap Sifat-sifat Kimia Tanah dan Produktivitas Kentang
Date
2026Author
Kamila, Ratu Ayu
Mulyanto, Budi
Suryaningtyas, R.A. Dyah Tjahyandari
Metadata
Show full item recordAbstract
Peningkatan produksi kopi nasional turut meningkatkan limbah kulit buah kopi yang mencapai 42% dari total produksi biji kopi, sementara pemanfaatannya sebagai bahan organik segar memicu kebusukan umbi kentang sehingga diperlukan pengolahan limbah lebih lanjut melalui pengomposan. Penambahan kompos perlu didukung biostimulan untuk mengoptimalkan produksi umbi kentang. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh kompos kulit buah kopi dan biostimulan terhadap sifat kimia tanah dan produktivitas kentang di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Percobaan dirancang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) nonfaktorial dengan empat perlakuan, yaitu A (pupuk kandang), B (kompos kulit buah kopi), C (biostimulan), dan D (kombinasi kompos kulit buah kopi dan biostimulan). Masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 12 petak percobaan. Kombinasi kompos kulit buah kopi dan biostimulan berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada fase akhir vegetatif, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman, bobot umbi per petak, dan produktivitas kentang, meskipun menghasilkan produktivitas yang paling mendekati perlakuan pupuk kandang. Kompos kulit buah kopi tidak berpengaruh nyata terhadap sifat-sifat kimia tanah setelah perlakuan, namun tetap mempertahankan kriteria penilaian yang sama seperti tanah awal pada sebagian besar sifat kimia tanah. Biostimulan tidak menunjukkan pengaruh tambahan yang nyata dibandingkan kompos tunggal terhadap sifat-sifat kimia tanah. The increase in national coffee production has raised coffee pulp waste, reaching 42% of total coffee bean production, while its use as fresh organic material triggers potato tuber rot, requiring further waste processing through composting. The addition of compost needs to be supported by biostimulants to optimize potato tuber production. This study aimed to examine the effect of coffee pulp compost and biostimulants on soil chemical properties and potato productivity in Margamulya Village, Pangalengan District, Bandung Regency. The experiment was designed using a non-factorial randomized block design (RBD) with four treatments, namely A (manure), B (coffee pulp compost), C (biostimulant), and D (combination of coffee pulp compost and biostimulant), each replicated three times, resulting in 12 experimental plots. The combination of coffee pulp compost and biostimulant significantly affected plant height at the late vegetative phase, but had no significant effect on tuber number, tuber weight per plant, tuber weight per plot, or potato productivity, producing productivity closest to the manure treatment. Coffee pulp compost had no significant effect on soil chemical properties after treatment, but maintained the same rating criteria as the initial soil for most parameters. Biostimulants showed no significant additional effect over compost alone on soil chemical properties.

