Show simple item record

dc.contributor.advisorFariyanti, Anna
dc.contributor.advisorKusnadi, Nunung
dc.contributor.authorANGGIYANTI, TUTIK
dc.date.accessioned2026-08-15T08:55:21Z
dc.date.available2026-08-15T08:55:21Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179519
dc.description.abstractKunyit merupakan komoditas biofarmaka yang memiliki peran penting yaitu sebagai sumber pendapatan petani, serta sebagai bahan baku pada berbagai industri, seperti industri kesehatan, kecantikan, dan pangan. Berdasarkan hal tersebut, komoditas kunyit memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi mulai dari produksi di tingkat petani hingga pengolahan dan pemanfaatannya sebagai bahan baku industri. Usahatani kunyit di Indonesia sama masih menghadapi risiko produksi. Risiko produksi dalam usahatani dapat disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi keterbatasan input, modal, informasi, teknologi, serta keputusan petani dalam penggunaan input. Sementara itu, faktor eksternal meliputi bencana alam, perubahan iklim, cuaca ekstrem, serta serangan hama dan penyakit tanaman. Pengendalian risiko menjadi penting dalam menjaga keberlanjutan usahatani dan menjaga pasokan bahan baku industri. Pengendalian risiko dapat dilakukan melalui penggunaan input produksi secara tepat, karena input tidak hanya berperan dalam meningkatkan produksi, tetapi juga dapat memengaruhi risiko produksi. Sebagai komoditas yang memiliki peran penting sebagai bahan baku berbagai industri, maka usahatani kunyit akan melibatkan berbagai bentuk kelembagaan, seperti bantuan input, pembinaan petani, modal, teknologi, pendampingan, kerja sama, penyerapan hasil, dan menjamin ketersediaan pasar. Berbagai lembaga yang terlibat dalam usahatani kunyit meliputi BUMN, BUMD, usaha swasta, KUD dan koperasi lainnya, kelompok tani, penyuluh, lembaga pemberi bantuan dan lembaga keuangan. Kelembagaan tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan petani dalam mengelola risiko produksi, tetapi pengaruhnya dapat berbeda antarjenis kelembagaan, sehingga penting untuk mengkaji pengaruh berbagai bentuk kelembagaan terhadap risiko produksi usahatani kunyit di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pengaruh berbagai faktor input dan berbagai bentuk kelembagaan terhadap risiko produksi usahatani kunyit di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Sensus Pertanian 2013 yang mencakup 1.311 petani yang terdiri dari 667 petani mengikuti kelembagaan dan 644 petani yang tidak mengikuti kelembagaan. Model analisis yang digunakan adalah fungsi risiko produksi Just dan Pope. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko produksi yang berpengaruh menurunkan risiko produksi adalah benih, pupuk anorganik, luas lahan, dan musim penghujan. Faktor risiko produksi yang berpengaruh meningkatkan risiko produksi adalah tenaga kerja dan pupuk organik. Kelembagaan yang berpengaruh menurunkan risiko produksi adalah lembaga pemberi bantuan dan koperasi. Sedangkan, kelembagaan yang berpengaruh dalam meningkatkan risiko produksi adalah kemitraan dengan badan usaha, kelompok tani dan lembaga keuangan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePengaruh Kelembagaan terhadap Risiko Produksi Usahatani Kunyit di Indonesiaid
dc.title.alternativeThe Effect of Institutions on Turmeric Farming Production Risk in Indonesia
dc.typeTesis
dc.subject.keywordfungsi risiko produksi Just dan Popeid
dc.subject.keywordkelembagaan pertanianid
dc.subject.keywordrisiko produksiid
dc.subject.keywordusahatani kunyitid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record