| dc.description.abstract | Kakao sebagai komoditas pertanian tropis strategis memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia melalui transaksi ekspor di pasar global. Mentega kakao merupakan produk turunan yang memiliki pangsa ekspor terbesar yakni 37,09% dibandingkan dengan produk turunan lainnya. Dekade terakhir, ekspor mentega kakao menunjukkan penurunan yang konsisten di tengah peningkatan konsumsi global, serta pangsa ekspor yang tinggi namun tidak menunjukkan harga ekspor Indonesia yang tinggi mengindikasikan ekspor mentega kakao Indonesia belum optimal.
Kondisi ini diperkuat dengan penurunan nilai ekspor yang terjadi, namun pada kenyataannya terdapat upaya peningkatan dari segi volume. Adanya hambatan perdagangan baik berupa tarif, maupun non tarif semakin memberikan pengaruh terhadap ekspor mentega kakao Indonesia. Meskipun sebanyak 16 negara dari 24 negara yang diteliti telah meniadakan tarif impor, kenyataannya negara pengimpor memberikan standar yang cukup ketat pada sisi hambatan non tarifnya. Khususnya hambatan berupa Trade Barriers to Trade yang diterapkan oleh negara pengimpor dengan jumlah indikator sebanyak 20 untuk mentega kakao.
Pengukuran kinerja ekspor mentega kakao telah banyak dilakukan melalui penelitian terdahulu menggunakan pendekatan gravity model standar (OLS) yang diduga tidak lagi relevan. Diperkenalkanlah metode Stochastic Frontier Gravity Model (SFGM) yang menggabungkan konsep gravity model dan stochastic frontier. Konsep ini akan memperhitungkan ekspor aktual yang terjadi terhadap ekspor potensialnya, yang kemudian dikenal dengan istilah efisiensi ekspor. Namun demikian, ekspor aktual yang terjadi akan lebih kecil dari ekspor potensialnya akibat adanya perubahan nilai tukar, jarak ekonomi, dan kebijakan perdagangan yang berlaku. Kondisi tersebut menyebabkan timbulnya gap, sehingga disebut sebagai inefisiensi ekspor.
Melakukan analisis kinerja ekspor berdasarkan nilai efisiensi ekspor dan membedah faktor-faktor yang mempengaruhi nilai efisiensi tersebut kemudian menjadi penting untuk dilakukan menggunakan metode yang lebih relevan yakni SFGM. Penelitian ini dilakukan menggunakan data sekunder berupa data panel 24 negara mitra dagang mentega kakao Indonesia dengan kurun waktu penelitian 2014 hingga 2023. Hasil menunjukkaan bahwa potensi ekspor mentega kakao Indonesia didorong signifikan secara positif oleh PDB negara tujuan, serta secara negatif oleh jarak ekonomi negara berdagang. Artinya, diperlukan penguatan sektor logistik dan distribusi untuk menekan biaya perdagangan. Sementara gap anatara ekspor aktual terhadap ekspor potensialnya (inefisiensi ekspor) mentega kakao Indonesia dipengaruhi signifikan dan negatif oleh nilai tukar, serta dipengaruhi signifikan positif oleh tarif impor. Negosiasi perdagangan pelru diupayakan untuk dapat terus menekan tarif impor.
Lebih lanjut, efisiensi ekspor mentega kakao Indonesia sebesar 22,76% belum mencapai nilai potensialnya. Dominasi Eropa (44,4%) dan Amerika (43,8%) didorong oleh negara-negara yang memiliki industri pengolah kakao dimana mentega kakao digunakan sebagai raw material. Sementara efisiensi terendah ditunjukkan oleh Filipina, Banglades, dan Hongkong yang menunjukkan mentega kakao bukan merupakan produk impor utama. Implikasi kebijakan yang kemudian perlu untuk dipertimbangkan adalah fokus Indonesia pada pasar dengan nilai efisiensi tinggi yang memiliki perkembangan pesat pada industri makanan cokelat untuk dapat memenuhi standar permintaan pasar yang berlaku. Sementara pada negara dengan efisiensi rendah diperlukan adanya upaya hilirisasi menjadi produk akhir seperti yang dibutuhkan di negara-negara Asia dan Afrika. | |