Pengaruh Green Manufacturing terhadap Kinerja Operasional dan Lingkungan di Jabodetabek
Date
2026Author
Miftah, Muhammad Saeful
Cahyadi, Eko Ruddy
Mulyati, Heti
Metadata
Show full item recordAbstract
Pertumbuhan industri farmasi di Indonesia yang mencapai 10,81% pada tahun 2021 berpotensi meningkatkan timbulan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pada tahun 2022, sektor pelayanan kesehatan menghasilkan 726.817 ton limbah B3, namun hanya sekitar 7% yang berhasil dikelola. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya penerapan green manufacturing untuk meningkatkan kinerja operasional dan lingkungan perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan praktik green manufacturing pada industri farmasi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), menganalisis pengaruhnya terhadap kinerja operasional dan lingkungan, serta menyusun alternatif strategi prioritas green manufacturing untuk meningkatkan kedua aspek kinerja tersebut.
Jenis data terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survei terhadap 100 responden dengan posisi manajer, supervisor, senior staff di perusahaan farmasi. Kuesioner menggunakan skala likert 1–5, serta wawancara dan pairwise comparison skala 1–9 kepada 5 (lima) pakar untuk menganalisis tingkat kepentingan antar kriteria dan alternatif strategi green manufacturing. Analisis menggunakan structural equation modeling–partial least squares (SEM-PLS) dengan SmartPLS 4.0.9.9 untuk menguji hubungan antar variabel, serta analytical hierarchy process (AHP) untuk menentukan prioritas strategi.
Praktik green manufacturing pada industri farmasi di Jabodetabek berada pada kategori baik, dengan indikator monitoring dan evaluasi lingkungan tertinggi (rata-rata 4,52) sedangkan green design dan teknologi hemat energi terendah (rata-rata 2,94–3,42). Kinerja operasional berada pada kategori baik dengan keselamatan kerja sebagai indikator dominan (rata-rata 4,62), demikian pula kinerja lingkungan dengan kepatuhan regulasi tertinggi (rata-rata 4,74). Hasil SEM-PLS membuktikan green manufacturing berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja operasional (ß = 0,498; t = 7,739) dan kinerja lingkungan (ß = 0,484; t = 6,629), serta kinerja operasional berpengaruh positif terhadap kinerja lingkungan (ß = 0,338; t = 3,647). Ukuran perusahaan memoderasi secara negatif hubungan green manufacturing terhadap kinerja operasional (ß = -0,200; p = 0,037), namun tidak memoderasi hubungannya dengan kinerja lingkungan (p = 0,538).
Hasil AHP menunjukkan kriteria kinerja operasional memperoleh bobot tertinggi (0,571) dibanding kinerja lingkungan (0,429), dengan keselamatan kerja (0,423) dan penghematan energi (0,597) sebagai sub-kriteria dominan. Strategi prioritas utama adalah proses produksi minim limbah (bobot 0,365), diikuti teknologi hemat energi (0,225), bahan baku ramah lingkungan (0,185), eco-design (0,168), dan pemilihan pemasok berkelanjutan (0,057). Strategi ini diharapkan meningkatkan kinerja operasional dan lingkungan secara berkelanjutan serta memperkuat daya saing industri farmasi.
Collections
- MF - Economic and Management [3346]

